Minggu, 17 Januari 2010

KERJA KERAS SEEKOR BURUNG


Dikisahkan, Al Balkhi adalah seorang yang terkenal akan kesalehannya. Suatu hari ia berangkat kenegri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat tak lupa ia mohon diri kepada sahabatnya yang terkenal zuhud yakni Ibrahim bin Ardham.

Belum lama Al Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia telah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apakah yang membuat Al Balkhi yang baru beberapa hari pergi telah kembali. Ibrahim bin Adhan yang sat itu berada di mesjid menghampiri Al Balkhi seraya bertanya, " Hai bBalkhi, mengapa secepat ini engkau kembali?"

Al Balkhi dengan tenang menjawab, " Dalam perjalanan aku melihat keanehan. Hal itulah yang membuat aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Melihat itu aku bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kiranya burung ini bisa bertahan hidup sementara ia berada di tempat yang jauh dari temen-temannya. Dengan matanya yang tidak bisa melihat berjalanpun tidak bisa. Tak lama kemudian ada seekor burung lain yang bersusah payah menghampirinya dengan membawa bekal makanan untuk burung cacat itu. Seharian penuh aku memperhatikan burung itu, ternyata ia tidak pernah kekurangan makanan karena selalu dikirim makanan oleh temannya yang sehat. Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa Sang Pemberi reskitelah memberi karunia kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya itu. Dan dengan kemurahannya ia telah mencukupkan rezki baginya. Kalau begitu dalam keyakinanku , Ia tentu akan mencukupi reskiku sekalipun aku tidak bekerja! kemudian akupun memutuskan untuk segera pulang saat itu juga.

Mendengar penuturan Al Balkhi, Ibrahim bin Adham segera menanggapi, " Wahai Al Balkhi sahabatku mengapa serendah itu pemikiranmu? mengapa engkau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung buta lagi pincang? mengapa engkau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa engkau tidak berfikir sehat? Mengapa engkau tidak mencontoh perilaku burung yang satunya lagi, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja. Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah ?"

Mendengar berondongan pertanyaan yang sangat mendasar itu sadarlah Al Balkhi akan kekhilafannya. Serta merta ia bangkit dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata," Wahai Ibrahim, ternyata engkaulah guru kami yang baik." Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usahanya.

sumber : kisah-kisah teladan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

listen qur'an

Listen to Quran