Jumat, 29 April 2011

GHULUW: Penyakit yang Membahayakan Umat

Ghuluw atau sikap yang berlebih-lebihan dalam agama merupakan penyakit yang sangat berbahaya dalam sejarah agama-agama samawi (langit). Dengan sebab ghuluw, zaman yang penuh dengan tauhid berubah menjadi zaman yang penuh kesyirikan. Zaman yang penuh dengan tauhid kepada Allah berlangsung sejak zaman Nabi Adam sampai diutusnya Nuh ‘alaihis salam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. (Jami’u al-Bayan juz 2 hal. 194. Ibnu Katsir menukilkan penshahihan al-Hakim pada Tafsir beliau juz 1 hal. 237)
Sejak zaman Nabi Nuh inilah syirik tumbuh dengan semarak, padahal kita ketahui bahwa syirik itu adalah dosa yang paling besar dalam bermaksiat kepada Allah. Dengan syirik itu pula akan terhapus pahala-pahala, diharamkan pelakunya masuk ke dalam surga dan dia akan kekal di dalam neraka. Dan pada zaman Nabi Nuh inilah awal mula kesyirikan terjadi.

Allah telah menerangkan dalam Kitab-Nya tentang ghuluw (sikap berlebihan di dalam mengagungkan, baik dengan perkataan maupun i’tiqad) kaum Nabi Nuh terhadap orang-orang shalih pendahulu mereka. Tatkala Nabi Nuh menyeru mereka siang dan malam, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi agar mereka hanya menyembah Rabb yang satu saja, dan menerangkan kepada mereka akibat-akibat bagi orang yang menentangnya. Tetapi peringatan tersebut tidaklah membuat mereka takut, bahkan menambah lari mereka dari jalan yang lurus, seraya mereka berkata:

وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا. ﴿نوح: ٢۳﴾

Dan mereka berkata: “Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.” (Nuh: 23)

Di dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut: “Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi Nuh, lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada saat itu belum disembah. Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah.” (lihat Kitab Fathu al-Majid bab “Ma ja`a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin”)

Ibnu Jarir berkata: “Ibnu Khumaid berkata kepadaku, Mahran berkata kepadaku dari Sufyan dari Musa dari Muhammad bin Qais: “Bahwa Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr adalah kaum yang shalih yang hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh alaihimus salam. Mereka mempunyai pengikut yang mencontoh mereka dan ketika mereka meninggal dunia, berkatalah teman-teman mereka: “Kalau kita menggambar rupa-rupa mereka, niscaya kita akan lebih khusyu’ dalam beribadah.” Maka akhirnya mereka pun menggambarnya. Ketika mereka (generasi pertama tersebut) meninggal dunia, datanglah generasi berikutnya. Lalu iblis membisikkan kepada mereka seraya berkata: “Sesungguhnya mereka (generasi pertama) tersebut telah menyembah mereka (orang- orang shalih tersebut), serta meminta hujan dengan perantaraan mereka. Maka akhirnya mereka pun menyembahnya.” (Shahih Bukhari dalam kitab tafsir [4920] surat Nuh)

Perbuatan kaum Nabi Nuh yang menggambar rupa-rupa orang-orang shalih yang meninggal di kalangan mereka ini berdasarkan anggapan mereka yang baik dan gambar-gambar ini belum disembah. Tapi ketika ilmu terhapus dengan kewafatan para Ulama dan ditambah dengan merajalelanya kebodohan, maka inilah kesempatan bagi setan untuk menjerumuskan manusia kepada perbuatan syirik dengan cara ghuluw terhadap orang-orang shalih dan berlebih-lebihan dalam mencintai mereka.

Timbullah pertanyaan di dalam benak kita, apa sebetulnya tujuan kaum Nabi Nuh menggambar rupa-rupa orang-orang shalih tersebut? Berkata Imam al-Qurthubi: “Sesungguhnya mereka menggambar orang-orang shalih tersebut adalah agar mereka meniru dan mengenang amal- amal baik mereka, sehingga mereka bersemangat seperti semangat mereka (orang-orang yang shalih), dan mereka beribadah di sekitar kubur-kubur mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Senantiasa syaithan membisikkan kepada para penyembah kuburan bahwa membuat bangunan di atas kubur serta beri’tikaf di atasnya adalah suatu realisasi kecintaan mereka kepada para Nabi dan orang-orang shalih, dan berdoa di sisinya adalah mustajab. Kemudian hal semacam ini meningkat kepada doa dan bersumpah kepada Allah dengan menyebut nama-nama mereka. Padahal keadaan Allah lebih agung dari hal tersebut..” (Lihat Fathul Majid bab Ma Ja’a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin)

Perbuatan semacam ini merupakan suatu kesyirikan yang nyata disebabkan oleh sikap ghuluw mereka terhadap orang-orang shalih. Dan akibat dari perbuatan mereka ini ialah kemurkaan Allah atas mereka dengan menenggelamkan mereka dengan adzab-Nya sehingga tidak tertinggal seorang pun dari mereka termasuk anak dan istri beliau sendiri yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman di dalam ayat-Nya:

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْصَارًا. وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لاَ تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. ﴿نوح: ٢٥- ٢٦﴾

Dari sebab kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan kemudian dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapatkan seorang penolong pun selain Allah. Dan berkata Nuh: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh: 25-26)

As-Suddi berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah mengabulkan doa Nabi Nuh, maka Allah memusnahkan semua orang-orang kafir yang ada di muka bumi termasuk anak beliau sendiri dikarenakan penentangannya kepada ayahnya.” (Tafsir Ibnu Katsir tentang surah Nuh)

Maka demikianlah balasan bagi orang-orang yang ghuluw di masa kaum Nabi Nuh.

Sikap ghuluw ini terus terjadi dari zaman ke zaman dan masa ke masa sampai terjadi pula di masa Bani Israil. Kaum Yahudi yang menyatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah sebagaimana terjadi pula pada kaum Nashrani yang menyatakan bahwa al-Masih adalah anak Allah. Allah menjelaskan keadaan mereka di dalam ayat-Nya:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. ﴿التوبة: ۳۰﴾

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah.” Dan orang-orang Nashrani berkata: “Al- Masih itu putera Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?” (at-Taubah: 30)

Adapun penyebab sikap ghuluw orang-orang Yahudi terhadap ‘Uzair adalah karena mereka melihat dari mukjizat-mukjizat yang terjadi pada ‘Uzair seperti penulisan kitab Taurat dengan hafalannya setelah Taurat dihapus dari dada-dada orang-orang Yahudi, serta keadaan ‘Uzair yang hidup kembali setelah wafat seratus tahun lamanya. Lalu setelah akal mereka sempit untuk membedakan perbuatan dan kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia yang terbatas, maka mereka menyandarkan hal tersebut kepada ‘Uzair dan mereka menyatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah sebagaimana Ibnu Abbas menyatakan: “Sesungguhnya mereka (Orang-orang Yahudi) menyatakan demikian (‘Uzair anak Allah) karena mereka tatkala mengamalkan suatu amal yang tidak benar, Allah menghapus Taurat dari dada-dada mereka. ‘Uzair pun berdoa kepada Allah. Tatkala itu kembalilah Taurat yang sudah dihapus dari dada-dada mereka turun dari langit dan masuk ke dalam batin ‘Uzair. Kemudian ‘Uzair menyuruh kaumnya seraya berkata: “Allah telah memberi Taurat kepadaku.” Maka serta merta mereka mereka menyatakan: “Tidaklah Taurat itu diberikan kecuali karena dia anak Allah.” Sedangkan di dalam riwayat lain beliau berkata: “Bakhtanshar ketika menguasai Bani Israil telah menghancurkan Baitul Maqdis dan membunuh orang-orang yang membaca Taurat. Waktu itu ‘Uzair masih kecil sehingga dia dibiarkan (tidak dibunuh). Dan tatkala ‘Uzair wafat di Babil seratus tahun lamanya kemudian Allah membangkitkan serta mengutusnya kepada Bani Israil, beliau berkata: “Saya adalah ‘Uzair.” Mereka pun tidak mempercayainya seraya menjawab: “Nenek moyang kami mengatakan bahwa ‘Uzair telah wafat di Babil, dan jika engkau benar-benar adalah ‘Uzair, diktekanlah Taurat kepada kami. Maka ‘Uzair pun menuliskannya. Melihat hal itu mereka menyatakan: “Inilah adalah anak Allah.” (Zadul Masi’ir Fii ‘Ilmi At-Tafsir, oleh Ibnul Jauzi juz 3 hal 423-424)

Riwayat kedua ini menyatakan bahwa ‘Uzair adalah seorang Nabi dari para Nabi Bani Israil. Setelah beliau meninggal seratus tahun lamanya, Allah membangkitkannya sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ﴿البقرة: ٢٥۹﴾

Atau apakah kamu tidak (memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 259)

Demikianlah asal usul orang-orang Yahudi menamakan ‘Uzair sebagai anak Allah. Adapun perkataan orang-orang Nashrani bahwa Isa anak Allah atau sebagai Allah, ada dua sebab. Yang pertama karena Isa lahir tanpa bapak. Dan kedua karena dia mampu menyembuhkan orang buta dan bisu serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. (Kitab Mahabbatu ar-Rasul hal. 155)

Yang menyatakan demikian bukanlah shahabat-shahabat Nabi Isa sendiri, melainkan orang- orang yang ghuluw dari kalangan Nashrani setelah wafat beliau. Setelah selang beberapa waktu mereka menjadi musyrik dikarenakan perkataan mereka itu.

Allah telah membantah serta menerangkan sangkaan mereka yang tanpa dalil tersebut, yang menyebabkan mereka kafir. Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ. ﴿المائدة: ٧٢﴾

Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam… (al-Maidah: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. ﴿المائدة: ٧۳﴾

Sungguh telah kafir orang yang menyatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,” padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Maidah: 73)

Siksaan yang pedih di akhirat merupakan balasan orang-orang yang menyatakan bahwa Isa adalah putra Allah atau Isa adalah Allah. Dan mereka termasuk orang-orang kafir dan akan kekal di neraka. Mereka tidak mengetahui bahwa Isa adalah hanyalah seorang Rasul, dan dia hanyalah orang biasa yang dimuliakan dengan beberapa kekhususan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ… ﴿المائدة: ٧٥﴾

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya para Rasul, dan Ibunya seorang yang benar, keduanya biasa memakan makanan…” (al-Maidah: 75)

Demikianlah umat-umat terdahulu terjebak ke dalam jurang dosa yang sangat dalam yaitu kesyirikan disebabkan sikap ghuluw mereka kepada orang-orang shalih.

Kerusakan seperti ini tak kunjung berhenti dan akan terus berulang sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat ini akan meniru peradaban kaum-kaum sebelumnya. Beliau bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟! (رواه البخاري ومسلم)

Benar-benar kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan-jalan) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu akan mengikuti mereka. Kami (shahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan kita harus meyakini hadits ini bahwa umat ini akan mengikuti sunnah-sunnah umat-umat sebelum mereka seperti sikap ghuluw Yahudi dan Nashara. Hal ini telah terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yaitu ketika terjadi kekufuran yang bersumber pada sikap ghuluw kelompok Saba’iyah (pengikut Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi) terhadap Ali bin Abi Thalib sehingga mereka menyatakan bahwa Ali adalah Tuhan dan memiliki sifat ketuhanan. Kelompok ini lebih dikenal dengan sebutan Syi’ah Rafidlah yang pertama kali membuka pintu ghuluw terhadap Ali bin Abi Thalib dan kepada anak cucu beliau radhiallahu ‘anhu.

Di antara sikap ghuluw yang ada kita juga bisa menemukan adanya sikap ghuluw yang dilakukan sekelompok dari orang-orang sufi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syaikh- syaikh mereka. Seperti tindakan mereka berdoa kepada Rasul, meminta bantuan (isti’anah), dan pertolongan (istighatsah) dengan memanggil-manggil beliau, atau mengusap-usap kubur beliau atau thawaf di sekelilingnya. Dan terkadang seperti itu pula mereka melakukan terhadap syaikh- syaikh mereka yang telah meninggal.

Di antara mereka ada yang bersikap ghuluw terhadap Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah di Baghdad, Syaikh al-Adawi di Mesir, Para Syaikh (yang dianggap, red) Wali Songo di Indonesia, serta di antara mereka ada pula yang bersikap ghuluw terhadap seorang tokoh yang difiguritaskan seperti Hasan al-Banna di Mesir yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin dari kalangan firqah Ikhwanul Muslimin sampai di antara mereka ada yang mengatakan bahwa: “Hasan Al-Banna tidak mati, akan tetapi hidup di sisi Allah, akhlaknya adalah Al-Quran”, sehingga beliau dijuluki sebagai asy-Syahid. Padahal beliau adalah seorang yang berakidahkan Sufi al- Hashafiyah Asy-Syadziliyah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy-Syabit di dalam Kitabnya Da’watu Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam hal. 63. Diterangkan pula di dalam kitab tersebut bahwa Hasan al-Banna telah menolak hadits tentang turunnya Imam Mahdi di akhir zaman, serta akidah beliau yang telah menyimpang dari akidah para salafus shalih.

Demikianlah sikap ghuluw selalu ada di umat ini selama mereka menjauhi Al-Qur`an dan As- Sunnah serta pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan semakin jauhnya mereka dari al-Qur`an dan as-Sunnah, semakin besarlah kerusakan yang mereka lakukan disebabkan sikap ghuluw tersebut. Tidak sedikit dari kalangan muslimin khususnya orang-orang awam yang terjatuh ke dalam perbuatan syirik sebagaimana yang dilakukan di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam.

Maka bagi kita haruslah ingat sabda beliau:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابن ماجه والنسائي وقال الشيخ الإسلام ابن تيمية في الإقتضاء ص ١٠٦، إسناده على شرط مسلم و وافقه الألباني في الصحيحة رقم ١٢٨٣)

Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa`i, dan berkata Syaikhul Islam di dalam Iqtidha hal. 106: Sanadnya dengan atas syarat Muslim, dan disepakati oleh Al-Albani di dalam ash-Shahihah 1283)

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjauhkan kita dari sikap berlebih- lebihan di dalam beragama, dan agar Allah menunjuki kita serta kaum muslimin untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus. Amin. Wallahu a’lam bis shawab.



Maraji’:

1. Al-I’tisham oleh al-Imam asy-Syatibi

2. Al-Qur`an al-Karim

3. Dakwah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam oleh Syaikh Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy- Syabt.

4. Kasyfus Syubhat oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

5. Kitab Fathul Majid oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Ali Asy-Syaikh.

6. Mahabbatur Rasul Bainal Ittiba’ Wa al-Ibtida’ oleh Asy-Syaikh Abdurrauf Muhammad Utsman.

7. Tafsir Ibnu Katsir jilid 4.

Sumber       : http://artikelislam.wordpress.com

THUMA’NINAH DI DALAM SHALAT

Banyak dari orang-orang yang mulai sadar akan pentingnya shalat masih mengabaikan perkara thuma’ninah di dalam shalat. Padahal hanya dengan thuma’ninah seseorang bisa khusyu’. Dan mustahil kekhusyu’an bisa tercapai dengan ketergesa-gesaan. Karena setiap kali bertambah thuma’ninah seseorang, maka bertambah pula kekhusyu’annya dan setiap kali berkurang thuma’ninah-nya maka bertambahlah ketergesa-gesaannya, sehingga jadilah gerakan kedua tangannya seperti sesuatu yang sia-sia yang tidak diiringi dengan kekhusyu’an. Dan Allah SWT telah memuji hamba-hamba-Nya yang khusyu’ di dalam shalatnya,

{قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ الذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِم خَاشِعُونَ} (المؤمنون: 1-2)

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman ( yaitu) mereka yang khusyu’ di dalam shalat mereka” (Qs. Al Mu’minun; 1-2).

Tapi alangkah banyaknya kaum muslimin yang melalaikan hal ini. Tidaklah kita dapati kebanyakan mereka kecuali telah menyia-nyiakan shalat, menyia-nyiakan rukun-rukunnya, dan meninggalkan thuma’ninah di dalamnya. Ini adalah perkara yang sangat menyedihkan.

Sungguh manusia telah menyia-nyiakan shalat sejak zaman Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu. Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari Al Imam Az-Zuhri, beliau berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu di Damaskus dan ketika itu ia sedang menangis. Maka aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu aku dapati kecuali shalat ini, dan shalat ini telah disia-siakan”. Dan dalam riwayat yang lain, Anas Radhiyallahu ’anhu berkata, “(Sekarang ini) aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu ada pada zaman Rasulullah SAW ”. Kemudian seseorang berkata, “Bagaimana dengan shalat?” Ia menjawab, “Bukankah kalian telah menyia- nyiakannya?!”

Karena itu tidaklah kita dapati kebanyakkan mereka shalat kecuali dengan mematuk. Dan tidaklah mereka berlalu dalam shalat kecuali seperti berlalunya anak panah. Inilah adalah musibah besar bagi umat ini. Kalau kita menyaksikan bagaimana mereka shalat, kita akan dapati penyelisihan-penyelisihan yang sangat banyak terhadap petunjuk Nabi SAW di dalam shalatnya. Mereka mempercepat bacaan Al-Fatihah hingga tidak mungkin bagi ma’mum untuk membacanya dengan thuma’ninah dan tadabbur. Kejadian seperti ini banyak kita temui dalam shalat sirr atau dalam dua rakaat terakhir dari shalat jahr. Begitu pula di saat ruku’ dan sujud padahal dalam sabdanya Rasulullah SAW berkata, “Allah tidak melihat hambanya yang tidak menegakkan punggungnya diantara ruku’nya dan sujudnya” HR. Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah Shahih At-Targhib Wattarhib.

Dan dalam hadits yang lain, beliau SAW bersabda, “Seburuk-buruknya pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Berkata Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, “Bagaimana dia mencuri shalatnya?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya” HR. Ath- Thabrani dan lain-lain dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At- Targhib Wattarhib.

Dan beliau SAW juga bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar shalat selama enam puluh tahun akan tetapi tidak diterima shalatnya. Bisa jadi dia menyempurnakan ruku’nya tetapi tidak menyempurnakan sujudnya dan bisa jadi dia menyempurnakan sujudnya tetapi tidak menyempurnakan ruku’nya” HR. Abul Qasim Al Asbahani dan dihasankankan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At-Targhib Wattarhib.
Apa yang beliau SAW sabdakan diatas, seperti itu pulalah kondisi ummatnya saat ini. Adapun shalat beliau SAW, adalah seperti yang diriwayatkan dari Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ’anhu bahwasanya ia berkata, “Saya shalat bersama Rasulullah SAW maka saya dapati berdirinya, ruku’nya, ‘itidalnya setelah ruku’, sujudnya, duduknya diantara dua sujud, sujudnya, dan duduknya sebelum salam dan pergi (temponya) hampir sama.” Muttafaqun ‘Alaihi.

Demikianlah Nabi kita SAW kalau shalat. Rukunya, i’tidalnya, sujudnya temponya hampir sama, yaitu tidak ada perbedaan yang mencolok sehingga yang satu lebih panjang dari yang lainnya, sebagaimana hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang As- Sunnah. Dan demikian pula petunjuk Nabi SAW di dalam dua rukun i’tidal (i’tidal setelah ruku’ dan duduk diantara dua sujud) menyelisihi perbuatan kebanyakan manusia pada zaman sekarang. Telah datang hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu, ia berkata, “Saya tidak pernah shalat dibelakang seseorangpun yang lebih ringkas dan sempurna shalatnya dibandingkan Rasulullah SAW, Dahulu Rasulullah SAW apabila membaca “Sami’allahu liman hamidah” beliau berdiri (lama) hingga kami berkata, “Beliau telah salah” kemudian beliau bertakbir dan sujud dan beliau duduk diantara dua sujud (lama) hingga kami berkata, “beliau telah salah”.

Dan memanjangkan i’tidal dan duduk diantara dua sujud adalah termasuk dari sunnah-sunnah Nabi kita SAW yang telah ditinggalkan sejak terputusnya zaman shahabat Radhiyallahu ’anhu hingga zaman kita sekarang ini.
Berdasarkan penjelasan tadi kita mengetahui bahwasanya kadar tasbih dalam ruku’, sujud, dan rukun lainnya, tidak terbatas dengan tiga tasbih saja. Dan hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi SAW bertasbih dengan tiga tasbih keshahihannya diperselisihkan oleh ulama. Asy Syaikh ‘Abdullah al Mar’ii Hafidzahullah menjelaskan tentang hal tersebut, “Yang populer di kalangan manusia bahwa tasbih dalam ruku’ dan sujud dibatasi dengan tiga tasbih saja, tidak ada dalil yang shahih dan jelas yang mengikatnya dengan bilangan ini” Dan Ibnul Qayyim Rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama di dalam kitabnya Ash-shalat wa Hukmu Tarikiha. Dan kalau pun kita anggap haditsnya shahih, Nabi SAW tidak membacanya dengan tergesa-gesa tanpa tadabbur dan khusyu’ seperti yang banyak dilakukan oleh ummatnya sekarang.

Sebagai kesimpulan berkata Syaikh Abdullah Al Mar’ii Hafidzahullah, “Yang benar dalam hal ini adalah tergantung bacaan (seseorang di dalam shalat). Kalau bacaannya panjang, ruku’ dan sujudnya juga panjang”. Kemudian beliau Hafidzahullah melanjutkan, “Yang dimaksud (temponya) hampir sama, bahwa tambahan bacaan menuntut adanya tambahan tasbih dan pengurangan bacaan menuntut adanya pengurangan tasbih”

Sesungguhnya penyelisihan manusia terhadap petunjuk Nabi SAW di dalam shalat teramat banyak sekali. Karena itu penting bagi kita untuk mengingat-ingat ucapan Imam Ahlus Sunnah Al Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, “Sesungguhnya bagian seseorang di dalam Islam adalah sesuai kadar perhatian mereka terhadap shalat, dan kecintaan mereka kepada Islam adalah sesuai kadar kecintaan mereka kepada shalat. Maka kenalilah dirimu wahai hamba Allah! Hati- hatilah jangan sampai engkau bertemu dengan Allah SWT sedangkan tidak ada kadar keislaman di sisimu! Karena sesungguhnya kadar keislaman di dalam hatimu sesuai dengan kadar shalat di dalam hatimu”. Wallahua’lam bis Shawaab.

Sumber   :     http://artikelislam.wordpress.com

Selasa, 26 April 2011

Riyadathus Shalihin : Yakin dan Tawakal

1. Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Kulihat ada seorang Nabi yang disertai dengan rombongan kecil, ada pula Nabi yang disertai dengan satu dua orang saja, bahkan ada seorang Nabi yang tanpa pengikut seorangpun. Kemudian tampak satu rombongan besar yang aku sangka mereka adalah umatku, akan tetapi dikatakan kepadaku : “Ini adalah Musa dan kaumnya tetapi lihatlah ke ufuk sana.” Kemudian aku melihat ke ufuk itu. Tiba-tiba aku melihat satu rombongan besar, lantas dikatakan kepadaku : “Lihatlah ke ufuk yang lain.” Di sana aku melihat satu rombongan yang besar lagi, kemudian dikatakan kepadaku : “Itulah umatmu yang didalamnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa hisab1 dan tanpa disiksa lebih dahulu.”

Beliau kemudian bangkit dan masuk ke dalam rumah. Orang-orang ramai membicarakan tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Salah seorang di antara mereka berkata : “Mungkin saja mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW” Dan ada pula yang mengatakan : “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan dia tidak menyekutukan Allah.” Dan mereka menafsirkan bermacammacam. Kemudian Rasulullah SAW keluar dan bersabda kepada mereka : “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Kemudian mereka menceritakannya, maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjampi, dan mereka tidak pernah minta dijampi, mereka yang tidak
meramal dan hanya kepada Tuhan sajalah mereka bertawakkal.” Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berkata : “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk
golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian berdirilah orang lain sambil berkata : “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau telah didahului oleh Ukasyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
1 Tanpa dihitung atau diperiksa amal perbuatannya

2. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah SAW berdoa : “ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU WA’ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU
WABIKA KHAASHAMTU ALLAHUMA A’UUDZU BI’IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA ANTUDHILLANI ANTAL HAYYUL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA.

” (Ya Allah, hanya kepada-Mu saya berserah diri, dan kepada-Mu saya percaya sepenuh hatu, dan hanya kepada Engkau-lah saya kembali dan untuk-Mulah saya berjuang. Ya Allah, saya
berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon agar Engkau tidak menyesatkan diriku. Engkau adalah Zat Yang Hidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “HASBUNALLAH WANIKMAL WAKIL, kalimat ini pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. Ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi
Muhammad SAW ketika orang-orang kafir mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada mereka.” Akan tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan “HASBUNALLAAHU WANIKMAL WAKIIL.” (HR. Bukhari)


Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata :
“Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api adalah “HASBUNALLAHU WANIKMAL WAKIIL” (Allah cukup menjadi Penolong bagi kami, Allah adalah sebaik-baik pelindung).”

4. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Akan masuk surga orang-orang yang mempunyai hati berpendirian seperti pendirian burung.” (HR. Muslim)

5. Dari Jabir ra., ia berkata : “Saya berperang bersama Nabi SAW menuju ke arah Najd. Tatkala Rasulullah kembali kami pun ikut kembali. Di suatu lembah yang banyak pohon berduri, kami merasa payah dan mengantuk, Rasulullah SAW pun turun dan berpencar untuk berteduh di bawah pohon, kemudian beliau menggantungkan pedangnya, sedangkan kami semua tertidur. Tiba-tiba Rasulullah SAW memanggil kami, sedangkan di dekat beliau ada seorang Badui,
kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya.” Lalu orang ini berkata : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Aku menjawab : “Allah” (tiga kali). Kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan : Jabir berkata : “Kami bersama Rasulullah SAW berperang di Dzatur riqa’. Tatkala kami sampai pada salah satu pohon yang rindang kami meninggalkan Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki musyrik sedangkan pedang Rasulullah SAW bergantung di pohon dan laki-laki itu menghunusnya seraya berkata : “Apakah kamu takut kepadaku?” Beliau menjawab : “Tidak.” Dia bertanya lagi : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Beliau menjawab : “Allah.”

Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Isma’iliy di dalam shahihnya dikatakan : “Laki-laki itu bertanya : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari serangan ini?” Beliau menjawab : “Allah,” maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, kemudian Rasulullah SAW mengambil pedang itu seraya bertanya : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ini?” Dia menjawab “Jadilah engkau sebaik-baik orang yang memegang pedang.” Beliau
bersabda : “Hendaklah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya saya adalah pesuruh Allah.” Ia menjawab : “Tidak, tetapi saya berjanji tidak akan memerangi kamu dan saya tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangi kamu.”
Kemudian Rasulullah melepaskan orang itu dan mendatangi sahabatnya seraya bersabda : “Baru saja bertemu dengan sebaikbaik manusia.”

6. Dari Umar ra., ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Andaikata kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, yaitu keluar dengan perut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari. (HR. Tirmidzi)

7. Dari Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Hai fulan apabila kau hendak tidur maka bacalah “ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU WAJHII ILAIKA WAFAWWADTU AMRII ILAIKA WA ALJA’TU
DHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA LAA MALJA’A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA AAMANTU BIKITAABIKAL LADZII ANZALTA WA NABIYYIKAL LADZII ARSALTA.

” (Ya Allah, saya menyerahkan diri kepada-Mu. Saya hadapkan wajahku kehadirat-Mu, saya menyerahkan segala urusanku kepada-Mu dan saya menyandarkan punggungku
kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada-Mu. Saya percaya dengan sepenuh hati terhadap Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan terhadap Nabi-Mu yang telah engkau utus.) Dengan membaca doa ini, apabila kalian mati pada malam itu, maka matinya dalam keadaan bersih dari dosa, dan jika kamu masih hidup sampai pagi harinya maka kamu akan memperoleh kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Al-Barra’, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku : “Jika engkau hendak tidur maka berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana kamu wudhu akan shalat, kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang sebelah kanan lalu bacalah doa seperti tersebut di atas.” Ia meneruskan hadis itu seperti hadis di atas, kemudian beliau bersabda : “Dan jadikanlah doa sebagai akhir (penghabisan) dari apa yang kamu ucapkan.”

8. Dari Abu Bakar As Shiddiq Abdullah bin Utsman bin Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisy At-Taimiy ra., ia ayah dan ibunya
termasuk sahabat Nabi, ia berkata : “Tatkala kami berada di gua Tsur, saya melihat kaki-kaki orang musyrik berada di atas kepala kami, kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah,
seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah telapak kakinya dia pasti akan melihat kita.” Beliau menjawab : “Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu cemaskan terhadap
dua orang sedangkan Allah ketiganya ?” (HR. Bukhari dan Muslim)

9. Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, nama sebenarnya adalah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah Al-Makhzumiyah ra., ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW jika keluar dari rumahnya, beliau berdoa : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH. ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA ‘AN ADHILLA AU UDHALLA WA ‘AZILLA AU UZALLA AU ADZLIMA AU AUDZLAMA AU AJHALA AU YUJHALA ‘ALAYYA
(Dengan menyebut nama Allah saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari sesuatu yang menyesatkan, dari sesuatu yang menggelincirkan atau digelincirkan dari sesuatu yang menganiaya atau teraniaya, atau dari sesuatu yang
membodohkan atau diperbodohkan.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi dan yang lain dengan sanad yang sahih).

10. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang keluar dari rumahnya membaca : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAHI WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah),” maka dikatakan kepadanya : “Kamu telah mendapat petunjuk, kamu telah dijamin, kamu dipelihara dan dijauhkan dari setan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Nasa’i dan yang lain)

Akan tetapi dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan : “Maka setan yang satu berkata kepada setan yang lain : “Bagaimana kamu dapat menggoda orang itu sedangkan dia telah diberi petunjuk, telah dijamin dan dipelihara oleh Allah.”

11. Dari Anad ra., ia berkata : “Masa Nabi SAW ada dua orang yang bersaudara, yang satu suka datang kepada Nabi SAW dan yang lain giat berusaha. Kemudian orang yang giat berusaha mengadu kepada Nabi SAW tentang keadaan saudaranya itu, lantas beliau bersabda : “Barang kali kamu mendapatkan rezeki karena saudaramu.” (HR. At Tirmidzi)


Sumber     :    http://sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : ISTIGFAR (MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH)

1. Dari Aghar Al Muzanniy ra., bahwasanya Rasulullah saw.Bersabda:”Bahwasanya kadang-kadang timbul perasaan yangkurang baik dalam hatiku, dan sesungguhnya aku membacaistigfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kalisehari.”(HR.Muslim)

2. Dari Abu hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullahsaw. Bersabda:”Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampundan bertobat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalamsehari.”(HR. Bukhari)

3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah saw.Bersabda:”Demi Zat yang menguasai diriku, seandainyakalian tidak berbuat dosa(dan tidak beristigfar dan bertobat),niscaya Allah Ta’ala pergi membawa kalian dan datang dengan kaum lain yang berbuat dosa, lalu meminta ampun kepada Allah Ta’ala, Allah pun mengampuni Mereka.”(HR.Muslim)

4. Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata:”Kami menghitung Rasulullah saw. Membaca:RABBIGH FIRLII WATUB’ALAIYYA INNAKA ANTA TTAWWABUR RAHIM (Ya tuhan,ampunilah saya dan terimalah tobat saya. Sesungguhnya Engkau Zat penerima tobat lagi Maha Penyayang) seratus kali dalam satu majlis(satu kali duduk).”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)

5. Dari Ibnu Abbas ra .,ia berkata :Rasulullah saw. Bersabda:”Barangsiapa yang membiasakan membawa istigfar, maka Allah akan melapangkan segala kesempitannya,
memudahkan segala kesulitannya dan memberi rezeki yang tanpa diduga-duga
.”(HR. Abu Dawud)

6. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Barangsiapa yang membaca:"ASTAGFIRULLAAH ALLADZI LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAHI" (Saya mohon ampun kepada Allah Zat yang tidak ada Tuhan kecuali Dia yang Maha Hidup, lagi terusmenerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertobat kepada- Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun ia telah meninggalkan perang.”

Dari Saddad bin Aus ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda:”Pokok istighfar ialah bila seorang hamba mengucap:ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHALAQTANII WA-ANA ‘ABDUKA WA-ANA ‘AHDIKA WAWA’DIKA MASTATHA’TUM ‘AUUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAIYYA ABUU-U BIDZAMBII FAGHFIRLII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILAA ANTA(Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan selain engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi atas perjanjian pada apa yang aku perbuat. Aku mengakui-Mu dengan nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku. Karena itu ampunilah aku, sebab tiada yang dapat mengampuni dosadosa selain Engkau).
Barangsiapa mengucap kalimat-kalimat ini di waktu siang dengan penuh keyakinan (ikhlas dan membenarkan). Lalu ia mati pada hari itu sebelum datang waktu sore, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa mengucapkan pada malam hari, sedangkan ia yakin dengan ucapan itu, lalu mati sebelum datang subuh, maka ia termasuk ahli surga.”(HR. Bukhari)

8. Dari Tsauban ra., ia berkata: “Adalah Rasullulah SAW, apabila telah selesai dari salatnya, beliau beristigfar kepada Allah SWT tiga kali dan mengucap: ALLAAHUMMA ANTAS SALAAMU WAMINKASSALAAMU TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAMI (Ya Allah, Engkau adalah Zat yang maha sejahtera dan dari Engkaulah segala kesejahteraan. Engkaulah yang senantiasa memberi berkah wahai Zat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia).” Ditanyakan kepada Al’Auza’I dimana ia adalah salah seorang perawi hadis: “Bagaimanakah istigfar ini?” Jawabannya: ASTAGFIRULLAH ASTAGFIRULLAH (saya mohon ampun kepada Allah, saya mohon ampun kepada Allah).”(HR. Muslim)


9. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah SAW, sebelum meninggal dunia, beliau senantiasa membaca SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGFIRULLAAHA WA
ATUUBU ILAIH
(Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya saya mohon ampun dan bertobat kepada-Nya).”(HR. Bukhari dan Muslim)

10. Dari Anas ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan mengharap kepadaku niscaya aku
ampuni dosa yang kamu lakukan dan Aku tidak memperdulikan berapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak memperdulikan kamu datang ke hadapan-Ku
dengan membawa dosa se isi bumi, kemudian bertemu dengan Aku tanpa menyekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa yang se-isi bumi itu.”(HR. Turmudzi)

11. Dari Umar ra., bahwasannya Nabi SAW, bersabda: “Hai kaum wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istigfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian lebih banyak menjadi ahli
neraka.”
Seorang wanita diantara mereka bertanya: ”Mengapa kebanyakan dari kami menjadi ahli neraka?” 


Rasulullah SAW bersabda: ”Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami.
Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya lebih daripada kalian
.” Wanita itu bertanya lagi: ”Apa itu kurangnya akal dan amal?” Rasulullah SAW bersabda: ”Persaksian seorang lelaki (berarti akal perempuan dianggap hanya setengah akal laki-laki), dan perempuan yang tinggal diam beberapa hari dalam keadaan tidak salat.”(HR. Muslim)


Sumber      :    http://sufiroad.blogspot.com

Minggu, 24 April 2011

:: Salah Satu Sifat Hati ::

Hati bagaikan rumah, jika dihuni akan tampak hidup, jika tidak akan rusak tak terawat. Dzikir (mengingat) dan ketaatan merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati. Barang siapa lebih banyak berdzikir (mengingat) dan melakukan ketaatan, akan semakin hidup hatinya. Dan barang siapa lalai dan sedikit dzikirnya akan mati hatinya.
 
Keintiman (uns) dengan Allah swt tergantung dari jumlah kelalaian dan kemaksiatan. Orang-orang yang intim dengan Allah swt tidak akan merasa kesepian, karena mereka tidak melihat sesuatu, kecuali Allah swt pasti ada disitu. Barang siapa taat kepada Allah swt, maka segala sesuatu akan taat kepadanya. Masyarakat takjub menyaksikan beberapa binatang buas dengan penuh adab mengelilingi seorang sufi, "Janganlah kalian merasa heran. Kalian hanya memperbaiki lahiriah kalian, maka kalian takut pada singa, sedangkan kami memperbaiki batin kami, maka singapun takut kepada kami," ujar sang sufi.
 
Mereka para sufi lenyap dari alam bersama pengatur-Nya, tetapi orang-orang selain mereka terhijab oleh alam, karena lemahnya keyakinan dan sedikitnya pertolongan Allah swt. Terhijab dari Allah swt merupakan suatu siksaan. Orang yang terhijab adalah orang yang susah, tetapi Allah swt selalu memberikan pertolongan-Nya kepada hamba-Nya sehingga ia sulit berpaling dari-Nya sebagai orang yang ingat dan sadar. Maka hendaknya ia bersyukur. Namun jika Allah swt menjadikannya lalai, jarang berdzikir, atau selalu berbuat durhaka, maka hendaknya ia memohon ampun, bertaubat, dan berlindung kepada-Nya.
 
Ketahuilah, karunia-karunia Allah swt dicurahkan setiap saat dan kemurahan-Nya sangat luas, meliputi seluruh mahkluk: baik yang taat maupun yang maksiat. Sebagian sufi berkata: "Aku lebih suka dimasukkan ke neraka dalam keadaan taat daripada dimasukan kedalam surga dalam keadaan maksiat. Karena tujuan surga tidak lain adalah keridhoa-Nya. Pedihnya siksaan neraka tidak lain karena amarah-Nya.
 
Karena itu, kenali Tuhanmu dan sukarela, tanpa paksaan. Telah dikatakannya dalam syair:

Jika hari semakin sulit
Dan masa lapang telah berlalu
Aku datang kepada-Mu,
Wahai sumber kelapangan dan kesulitanku
Engkaulah pemilik tenda yang pasaknya
Tertancap dihatiku
Penyingkap hijab kejauhan,
Dan pemberi karunia agung bagiku,
Ketika kuhadapi berbagai kesulitan
Engkau hadir bersamaku " tuk
Menghilangkan segala duka
Dan kesedihanku.
Wahai, Tuhanku, setiap saat aku mengharapkan-Mu
Engkaulah Penguasa alam dan
Pencipta makhluk.

Kepada Allah percayalah setiap saat
Dan dari allah harapkanlah
Curahan rahmat.

Ya Allah, kami mohon keridhoan-Mu, perjumpaan dengan–Mu dan surga, juga kami berlindung dari amarah-Mu dan neraka.
 
Ya Allah, kami memohon keridhaan-Mu: keridhoan bagi kami, orang-orang yang kami cintai dan kaum muslimin, sesungguhnya engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sumber      :   http://rabithah.net

Sabtu, 23 April 2011

Telaga Hati....

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan
semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas
air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan,


“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua

“Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga
yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

“Bagaimana rasanya ?”
“Segar”, sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua
“Tidak, ” sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:
“Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa
pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu
akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu yg kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:
“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg
mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”

http://alhakim.wordpress.com

Mandikan aku bunda…

Dewi adalah sahabatku, seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika kampus mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang “selevel”, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”. “Everything is OK! Don’t worry. Everything is under control kok!” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apabila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.
Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Dewi pada saya, Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,”Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku!” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?” kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di ruang emergency”.

Ketika diberitahu soal Bayu, Dewi sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang…terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak….hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..”
Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil.
Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”

Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang saya mengenalnya, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang….tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak….sekali ini saja, Bayu..anakku…?” Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar memandikan seorang anak.
 
Sumber      : http://fadil.blogsome.com

Call Centre Tidak Pernah Ada Nada Sibuk..

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:
“Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah”.
Tekan 1 untuk ‘meminta’.
Tekan 2 untuk ‘mengucap syukur’.
Tekan 3 untuk ‘mengeluh’.
Tekan 4 untuk ‘permintaan lainnya’.”
Atau….

Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
“Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar
menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya.”
Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons
seperti ini:

“Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat”,
Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,
Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,
Tekan 4. “Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka,
silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!”

Atau bisa juga Anda mendengar ini :
“Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini.
Silakan mencoba kembali esok hari.”
atau…
“Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari
Senin setelah pukul 9 pagi.”

Alhamdulillah. .. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya
setiap saat!!!
Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda.
Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara
pribadi.

Ketika Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya

Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakan
nomor ini : 28443483
2 : shalat Subuh
8 : Shalat Dhuha
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
8 : Shalat Lail (tahajjud atau lainnya)
3 : Shalat Witir

Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul “Al Qur’anul Karim &
Hadist Rasul”

Langsung hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.
Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak
terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari
setahun !!!

Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.
Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya

Sabda Rasulullah S.A.W : “Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang
mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau
sebanyak buih laut”
7 Kalimah ALLAH:
1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap ” Alhamdulillah” pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap ” Insya-Allah” jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap “La haula wala kuwwata illa billah” jika menghadapi sesuatu
tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” jika menghadapi dan
menerima musibah.
7. Mengucap “La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah ” sepanjang siang
dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.

Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat. ..
mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu… mudah-mudahan jadi bisa,
karena sudah biasa.
 
Sumber     :  http://fadil.blogsome.com

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.

Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup

Sumber        :   http://fadil.blogsome.com

Jumat, 22 April 2011

Untuk Siapakah Cinta Kita Seharusnya?

Cinta adalah perhiasan dunia, karena cinta manusia rela berkorban, karena cinta manusia rela kehilangan harta, bahkan karena cinta manusia rela kehilangan nyawa. Lalu kepada siapakah manusia memberikan cintanya?

Kepada laki-laki tampan atau wanita cantik? Karena hanya dengan melihat wajahnya, hati menjadi tenteram, karena ketampanan atau kecantikannya banyak orang yang terpukau, dan kamu bangga bisa berada di dekatnya. Tapi apakah hanya dengan melihat kamu bisa hidup? Apakah dengan melihat kamu bisa kenyang? Apakah wajah yang baik menjamin hatinya baik? Sadarlah Saudaraku!

Kepada Harta? Karena dengan harta kamu bisa memiliki banyak hal, orang-orang akan menghormatimu, banyak orang yang datang ke rumahmu untuk meminjam uang. Tapi apakah orang akan bersikap baik jika kamu miskin? Apakah yang mereka hormati, kamu atau hartamu? Dan apakah hartamu akan kamu bawa ke dalam kubur? Sadarlah Saudaraku!!

Kepada Benda? Karena dengan memakainya kamu dikagumi banyak orang, orang akan menyukaimu karena benda yang kamu miliki sangat mahal, atau karena apakah bila kamu memakai benda itu hati mu menjadi tenang, kamu yakin benda itu membuatmu kuat dan sehat. Tapi bukankah yang disukai dan dikagumi orang adalah benda itu? Apakah kamu yakin benda yang tak bisa berbicara bisa menolongmu? Apakah kamu yakin benda itu memiliki kekuatan padahal bila terjatuh lalu terinjak, benda itu tetap diam?

Sadarlah Saudaraku!!!

Kepada Dunia? Karena di dunia kamu bermimpi dan berusaha, dunia adalah tempat mencapai impian, banyak orang yang bermimpi untuk menguasai dunia. Tapi apakah kamu akan abadi hidup di dunia? Apakah kamu yakin masih ada hari esok untukmu? Apakah kamu pikir dunia ini akan tegak selamanya?

Sadarlah Saudaraku!!!!

Lalu kepada siapakah kita cinta?

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakan laki-laki tampan dan wanita cantik? Dialah Yang Maha Indah dan Maha Pencipta.

Apakah kah kamu lupa siapakah yang memberimu rezeki yang melimpah? Dialah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki .

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakan benda-benda di dunia agar bisa kita manfaatkan? Dialah Yang Maha Tahu dan Maha Pintar.

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakn dunia serta alam semesta? Dialah Yang Maha Besar, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Apakah kah kamu lupa siapakah Dia sebenarnya? Dialah Allah SWT Tuhan dari semua makhluk. Sudah sepatutnya kita mencintai Allah SWT melebihi cinta terhadap apapun atau siapapun! Untuk Allah di atas segalanya…

SUDAH SADARKAH KAMU, SAUDARAKU??

(Islamedia.web.id)

11 Buah Manis Menjaga Ukhuwah

Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Mahasuci Allah, Zat yang telah membersihkan hati untuk menyemai ruh ukhuwah buat hamba-Nya yang merindukan kebersamaan. Terpujilah Dia, Zat yang telah menghadiahi banyak nikmat-Nya kepada kita, sehingga bisa bersama merasakan kenikmatan berukhuwah.
Salah satu di antara tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah adalah kekuatan ukhuwah; di samping kekuatan iman dan kekuatan qudwah, keteladanan. Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah SAW membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam di atas muka dunia kurang dari setengah abad.

Satu hal yang pasti, di antara ranah kebahagiaan dan ke-izzah-an Islam bisa kembali kita jejaki ketika hidup dengan jalinan ukhuwah yang mampu menepikan riak kebencian dan perselisihan. Dan ranah ini bisa didapat setelah berupaya saling mengenal. "Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan." (HR Muslim).

Namun, satu peristiwa perkenalan belum cukup. Butuh interaksi secara alamiah. Setelah itu, waktu dan kualitas pertemuanlah yang menentukan. Apakah perkenalan berlanjut pada persaudaraan. Atau sebaliknya. Dan keinginan kuat untuk bersaudara mesti diutamakan dari sekadar kenal. Terlebih persaudaraan karena iman dan takwa (baca QS al-Hujurat [49] ayat 13).

Proses mengenal adalah sebuah tahapan, bukan sesuatu yang akhir. Karena kehidupan adalah arus besar yang terus bergerak, berubah, dan berganti. Termasuk pada sikap dan karakter. Boleh jadi, seseorang bisa terheran-heran dengan perubahan teman lama yang pernah ia kenal. Karena ada yang beda dengan fisik, sikap, karakter, bahkan keyakinan.

Perubahan-perubahan itulah yang mengharuskan seorang mukmin senantiasa menghidupkan nasihat. Mukmin yang baik tidak cukup hanya mampu memberi nasihat. Tapi, juga siap menerima nasihat. Dari nasihat inilah, hal-hal buruk yang baru muncul dari seorang teman bisa terluruskan (baca QS al-'Ashr [103] : 1-3).

Berburuk sangka memang tidak dibenarkan. Tapi, ketika faktanya demikian dan bahkan sudah juga dinasihati, kewaspadaan mungkin jadi pilihan. Karena tidak tertutup kemungkinan, keburukan bisa menular. Paling tidak, agar tidak kecipratan bau busuk temannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Kawan pendamping yang saleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya." (HR Bukhari).

Waspada tidak berarti memutus pertemanan. Apalagi menyebar hawa permusuhan dan kebencian. Karena boleh jadi, sifat buruk bisa berubah baik. Sebagaimana, baik menjadi buruk. Kontribusi sebagai seorang teman mesti terus mengalir. Paling tidak, dalam bentuk doa.

Ada beberapa buah berukhuwah yang bisa kita nikmati. Pertama, ta'aruf; saling mengenal. Kedua, tahaabub, saling cinta. Ketiga, tafaahum, saling memahami. Keempat, tanaashuh, saling menasehti. Kelima, takaarum, saling menghormati. Keenam, ta'awun, saling menolong. Ketujuh, tahaadu, saling memberi hadiah. Kedelapan, tadaa'u, saling mendoakan. Kesembilan, tahafudz, saling menjaga nama dan kehormatan saudara dan tidak saling menjatuhkan. Kesepuluh, tazaawur, saling mengunjungi; dan kesebelas, tasholuh, saling mendamaikan. (baca QS 9: 71, 183: 3, 90: 17, 5: 2, 49: 10, 49: 13). (Republika.co.id)

Taruhan Bahaya Abu Nawas: Nungging di Depan Raja Harun Al Rasyid

Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.

"Nah ini Abu Nawas datang." kata salah seorang dari mereka.
"Ada apa?" kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.

"Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya." kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.

"Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Swt." kata Abu Nawas menentang.

"Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?" tanya kawan Abu Nawas.

"Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung." kata Abu Nawas memberitahu.

"Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?"

"Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?" Abu Nawas ganti bertanya.

"Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati." kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.

Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.

Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja dari negeri sahabat.

Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling
belakang.

Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya, "Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?"

"Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini." kata Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah." Baginda Raja menyarankan.

"Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet."

Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. "Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas?" tanya Baginda masih bingung.

"Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi." Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.

"Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa." kata Baginda Raja bertambah bingung.

"Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia." kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.

Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum.

Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas. (Kabarislam.com)

Empat Sifat Penghuni Surga

Setiap muslim sangat menginginkan kebahagiaan abadi di surga kelak. Kenikmatannya tiada terkira. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ  )

Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Bacalah firman Allah Ta’ala, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 17) (HR. Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Ada pelajaran penting dari surat Qaaf (surat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jum’at[1]) mengenai sifat-sifat penduduk surga. Ada 4 sifat penduduk surga yang disebutkan dalam surat tersebut sebagai berikut,
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)
Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35)

Ada empat sifat yang disebutkan dalam ayat yang mulia ini, yaitu: (1) awwab (hamba yang kembali pada Allah), (2) hafiizh (selalu memelihara aturan Allah), (3) takut pada Allah, dan (4) datang dengan hati yang muniib (bertaubat).

Sifat Pertama: Awwab
Yang dimaksud dengan awwab adalah kembali pada Allah dari maksiat kepada ketaatan pada-Nya, dari hati yang lalai mengingat-Nya kepada hati yang selalu mengingat-Nya.
‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah mengatakan, “Awwab adalah ia mengingat akan dosa yang ia lakukan kemudian ia memohon ampun pada Allah atas dosa tersebut.”
Sa’id bin Al Musayyib[2] rahimahullah berkata, “Yang dimaksud awwab adalah orang yang berbuat dosa lalu ia bertaubat, kemudian ia terjerumus lagi dalam dosa, lalu ia bertaubat.”

Sifat Kedua: Hafiizh
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Ia menjaga amanat yang Allah janjikan untuknya dan ia pun menjalankannya.”
Qotadah rahimahullah mengatakan, “Ia menjaga kewajiban dan nikmat yang Allah janjikan untuknya.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Perlu diketahui nafsu itu ada dua kekuatan yaitu kekuatan offensive (menyerang) dan kekuatan defensive (bertahan). Yang dimaksud dengan awwab adalah kuatnya offensive dengan kembali pada Allah, mengharapkan ridho-Nya dan taat pada-Nya. Sedangkan hafiizh adalah kuatnya defensive yaitu menahan diri dari maksiat dan hal yang terlarang. Jadi hafiizh adalah menahan diri dari larangan Allah, sedangkan awwab adalah menghadap pada Allah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.”

Sifat Ketiga: Takut pada Allah
Dalam firman Allah (yang artinya), “Orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya)”, terkandung makna pengakuan akan adanya Allah, akan rububiyah-Nya, akan ketentuan-Nya, akan ilmu dan pengetahuan Allah yang mendetail pada setiap keadaan hamba. Juga di dalamnya terkandung keimanan pada kitab, rasul, perintah dan larangan Allah. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Seseorang dikatakan takut pada Allah (Ar Rahman) haruslah dengan memenuhi hal-hal yang telah disebutkan tadi.

Sifat Keempat: Datang dengan hati yang muniib
Yang dimaksudkan dengan datang dengan hati yang muniib dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Kembali (dengan bertaubat) dari bermaksiat pada Allah, melakukan ketaatan, mencintai ketataan tersebut dan menerimanya.”
Intinya yang dimaksud dengan sifat penghuni surga yang keempat adalah kembali kepada Allah dengan hati yang selamat, bertaubat pada-Nya, dan tunduk pada-Nya.
Semoga dengan mengetahui empat sifat penghuni surga ini membuat kita semakin dekat pada Allah, bertaubat, menjauhi maksiat dan kembali taat pada-Nya. Sehingga kita dapat berjumpa dengan Allah dengan hati yang selamat. Aamiin Yaa Mujibas Saailin.
-Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat-

References:
Fawaidul Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 142-143, terbitan Dar Ibnul Jauzi.
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/197, terbitan Muassasah Qurthubah.

Panggang-Gunung Kidul, 15 Jumada Al Awwal 1432 H (18/04/2011)
(rumaysho.com)

Sumber         :  http://www.suaramedia.com

Kenapa Kita Harus Menangis?

Bukankah jalan ini yang telah kau pilih, yang kau katakan akan kau lalui walaupun akan ada ujian, rintangan dan cobaan di dalamnya....jangan ada air mata...kalau kau hanya ingin menangisi kekalahanmu! seberapa besar semangat yang telah kau siapkan untuk terus menuju baris terdepan di jalan da'wah ini..padahal perjalanan ini masih begitu jauh dan tidak membutuhkan jiwa-jiwa lemah yang mudah menyerah...
saudaraku…kenapa harus menangis??

Kau bukanlah mujahid yang lemah...yang sering mengeluh dan mudah kecewa dengan apa yg terjadi...bukankah inilah tabiat jalan dakwah?? Yang akan selalu dilanda ghibah dan fitnah?? Kau masih ingat ketika Muhammad bin Abdullah Rasul kita yang mulia ketika difitnah sebagai tukang sihir?? Apakah kau juga masih ingat dengan Aisyah ra yang difitnah telah berzina?? Apakah juga kau masih ingat penderitaan para sahabat dijalan dakwah ini?? Lalu kenapa masih menangis??? Saat fitnah menderu wajah dakwah hari ini, bukankah fitnah-fitnah yang menerjang dakwah kita dahulu jauh lebih tragis dan menyakitkan?? Tidakkah kita malu untuk mengeluh, menangis, bahkan hengkang dari barisan ini, hanya karena fitnah dan tuduhan keji??

Saudaraku…kenapa harus menangis??

Bukankah kita ingin membangun bangunan dakwah yang tinggi dan kokoh? Dan bukankah jika semakin tinggi akan semakin banyak pula yang melihat dan memperhatikan bahkan berniat untuk menghancurkan? Lalu kenapa harus menangis? Jika banyak pihak luar yang berusaha merobohkannya, tidakkah sebaiknya kita berada di garda terdepan untuk menghalau semua makar yang ingin merobohkan bangunan dakwah kita?? Apakah kau menyesal telah membangun bangunan dakwah yang semakin tinggi dan megah?? Apakah kau menyesal jika hari ini bangunan dakwah kita telah terbuka dan nampak jelas karena ia semakin besar dan tinggi dan semua orang bisa melihat bahkan bisa masuk kedalamnya?? Apakah kau hanya ingin membangun pondasi saja untuk dakwah ini? Dimana pondasi takan ada yang melihat?? Lalu dimana manfaat dakwah? Dimana konsep rahmatan lil ‘alamin, jika hanya membangun pondasi tanpa membangun rumah dakwahnya. Bagaimana obyek dakwah bisa masuk kedalam rumah dakwah ini, jika hanya pondasi tanpa bangunannya? Bukankah yang kita inginkan adalah sebanyak mungkin orang bisa masuk kedalam rumah dakwah kita?? Apakah kau ingin sholeh sendiri Saudaraku…?? jika kau ingin sholeh sendiri, kau ibarat bunga yang mekar namun tak menebar keharumannya…percuma!

Saudaraku…kenapa harus menangis??

Jika ada penghuni rumah dakwah ini harus keluar? Bukankah sebaiknya kau bersyukur, karena kau masih Allah tetapkan untuk tetap bersama dalam rumah dakwah ini?? Bukankah sebaiknya kau bersyukur, pergi satu datang seribu?? Bukankah engkau juga tahu, sejak panji dakwah ini dikibarkan pada zaman Rasulullah tercinta, banyak yang hengkang dan membangkang serta banyak para pembawa berita dusta? Adalah Ubaidillah bin Jahsy. Kader generasi awal yang menyempal. Bukan kader biasa, ia hidup di bawah dakwah Rasulullah. Bertemu langsung dengan penutup para Nabi. Mendapatkan ajaran dari beliau. Bahkan merasakan pahit getirnya mempertahankan Islam di Makkah, bahkan berpisah dari tanah air menuju negeri seberang. Murtad!!Adalah Abdullah bin Ubay yang gemar membawa berita dusta pada kaum Muslimin, yang sering mempengaruhi keyakinan jama’ah muslimin. Adalah Ustadz Ahmad As-Sukari sang masaikh dakwah di zaman ini yang juga hengkang pada zaman imam syahid Hasan Al-Banna. Bukankah mereka orang-orang hebat saudaraku??? Mereka berguguran seperti ranting yang jatuh dari pohonnya yang besar. Musuh-musuh dakwah ini mengira, dengan mengambil salah satu ranting yang jatuh, akan merobohkan pohonny yang besar.

Namun yang terjadi adalah, ranting itu semakin kering tanpa ruh kehidupan, sedangkan pohon dakwah ini terus tumbuh semakin tinggi dan besar.

Saudaraku…kenapa harus menangis??
Jika jalan ini terlalu sukar, jika beban ini terlalu berat. Memang begitulah dakwah! Kau berharap semua berjalan dengan tenang, senang, tanpa gangguan, tanpa cercaan, tanpa makar, tanpa fitnah…?? saudaraku..kau ibarat mengharapkan kehadiran rembulan di tengah siang..mustahil!

Kenapa harus menangis??
Jika kini wajah dahwah kita seolah tertampar dengan berbagai isu yang terus berkembang dan memojokkan dakwah kita.. jika kini, keluarga dan masyarakat dilingkungan kita ikut terbawa arus media yang tak henti mengabarkan berita dusta. Tak perlu kau menangis dan kecewa, Karena mereka tak faham sama sekali saudaraku, mereka hanya mendengar dan wajar mereka percaya, karena mereka tak memiliki kematangan fikroh, kekuatan ruhiyah, kelapangan ukhuwah, sedangkan kau?? Bagaimana mungkin engkau menangis karena berita dusta yang melanda dakwah yang tersebar lewat media? Dimana nilai-nilai tarbiyah selama ini kau letakkan, jika kabar media begitu kau percaya dari pada saudaramu sendiri? Lalu apa bedanya kau dengan masyarakat yang tak tertarbiyah. Wajar mereka terbawa media tapi kau??? Bukankah seharusnya ini akan menambah keyakinanmu akan kebenaran jalan ini, yang takan pernah sepi dari gangguan dan cobaan?

Kenapa harus menangis saudaraku…
Kalau ternyata masih tersisa banyak harapan untuk meraih kemenangan abadi kelak…masih banyak ladang amal kebaikan yang terhampar dibuminya yang indah.. masih banyak jiwa-jiwa perkasa yang tak henti meneriakan kalimatullah..masih banyak jiwa-jiwa perindu ar-Royan yang tetap ikhlas beramal di kafilah dakwah, masih banyak saudara-saudara kita disini yang terus berbuat dengan keikhlasannya untuk ummat.. masih banyak saudara-saudara kita yang berlomba meringankan beban ummat di area bencana, bahkan mereka ikhlas membantu meringankan beban ummat sampai fukushima..tetaplah menjadi bagian dari dakwah ini saudaraku…jika mereka ada salah, itulah membuktikan mereka manusia bukan malaikat tanpa salah dan dosa..apakah kau seperti malaikat tanpa khilaf???

Jangan menangis saudaraku…
Mari kembali kita satukan langkah, kita kuatkan tekad, kita kepalkan tangan dan kita teriakkan takbir sekencang-kencangnya, agar bergetar sealam raya, agar bergetar jiwa-jiwa mukmin karena asma-Nya, agar bergetar musuh-musuh dakwah ini karena ketakutannya…mari kita kumpulkan energI, kita genggam tangan kanan kita, kita bakar semangat kita dalam dada, kita gentarkan musuh-musuh kita dan kita takbir bersama sekeras-kerasnya..ALLAHU AKBAR…………!!!!
“tangan bergenggam tangan…
Saksikanlah janji kami…
Untuk teguh dalam barisan…
Untuk maju atau hancur bersama…” (Islamedia.web.id)

Sumber        :    http://www.suaramedia.com

listen qur'an

Listen to Quran