Sabtu, 12 November 2011

Renungan tentang Umur Manusia

Mutiara Hikmah dari Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad

Di mana aku sebelum dilahirkan? Apa tugasku dalam kehidupan dunia ini? Kemana kita pergi setelah mati? Apa yang terjadi dengan umur kita yang semakin hari semakin berkurang ini? seringkali pertanyaan-pertanyaan demikian mengusik kita.
Penjelasan yang cukup menarik untuk kita renungkan mengenai umur manusia ini
dijabarkan dalam karya besar ulama dan sufi terkenal Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dalam karyanya, beliau menjabarkan secara rinci tentang perjalanan hidup
manusia, di mana pada intinya kehidupan manusia terbagi pada lima tahapan
umurnya:
1.. Masa perpindahannya sejak pertama dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan.
2.. Masa kehidupan di dunia sejak ia dilahirkan dan diwafatkan oleh Allah SWT.
3.. Masa tinggal di alam Barzah sejak wafat hingga dibangkitkan kembali.
4.. Masa tinggal di padang Mahsyar sejak dibangkitkan hingga diputuskan amalnya oleh Allah SWT.
5.. Masa kehidupan di alam yang kekal dalam kenikmatan surga atau dalam kepedihan neraka.

Apa yang saya postingkan ini adalah 100% berasal dari buku karya beliau,
tentunya dengan segala keterbatasan dan kekurangan saya yang masih awam ini.
Semoga Allah SWT memberi petunjuk demikian juga para salik sekalian. Amin.

1. Masa perpindahan manusia sejak dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan

Saat Allah SWT menciptakan Adam a.s. Dia menyimpankan zurriyat di tulang punggungnya yaitu kaum ahli kanan (ahlul-yamin) dan kaum ahli kiri (ahlul-simal). Allah SWT pernah mengeluarkan semua zurriyat ini dari tulang punggung Adam a.s. pada hari Mitsaaq (hari pengambilan janji manusia untuk mengakui keeasaan dan ketuhanan Allah SWT di Na'man, lembah dekat padang Arafah) sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. 7;172 : '' Dan ketika Tuhan kamu mengeluarkan keturunan Adam dari punggungnya dan Ia mengambil kesaksian dari mereka dengan berfirman: 'Bukankah Aku ini Tuhan kamu ?' mereka menjawab: 'Ya, kami menjadi saksi.' Demikianlah supaya kamu di hari kiamat nanti tidak mengatakan: 'Kami ini
lalai dari perkara itu'".

Ayat ini membuktikan bahwa zurriyat Adam telah memiliki wujud dan pendengaran namun mereka berada dalam tingkatan wujud yang lain. Bukan pada tingkatan wujud seperti yang tampak pada dunia ini. Dalam riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah disebutkan, ketika Allah SWT mengeluarkan zurriyat dari Adam a.s. lalu dilihat oleh Adam seorang dari mereka gagah perawakannya maka bertanyalah Adam tentang dia, Adam diberitahu bahwa itu adalah anaknya, Daud a.s. lalu Adam bertanya kepada Allah SWT "berapa usia Daud yang telah Engkau tetapkan?" Jawab Allah SWT: ' "Enam puluh tahun". Adam kemudian memohon agar Daud dipanjangkan usianya. Maka Allah SWT berfirman : " Itulah usianya yang telah Aku tetapkan ". Berkata Adam a.s. : " Aku ingin menambahkannya empat puluh tahun dari usiaku". Dan sebelum itu Allah SWT telah menetapkan umur Adam seribu tahun.

Ketika nabi Musa a.s. melihat di dalam Taurat, tersebut suatu umat yang sifat-sifatnya amat menarik dan perilakunya sangat baik dan mulia, beliau bertanya kepada Allah SWT, Siapakah gerangan umat itu ? Siapa nabi yang diutus kepadanya ? nabi Musa memohon supaya umat tersebut menjadi umatnya, maka Allah SWT berfirman: " Umat itu ialah umat Ahmad (Muhammad) ". Nabi Musa memohon kepada Allah agar menampakkan umat itu kepadanya, kemudian Allah menampakkan umat itu kepada nabi Musa sebagaimana firman Allah SWT : " Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada di dekat gunung Thur (Sina) ketika kami memanggil ... " (QS 28;46).

Hal ini merupakan bukti bahwa zurriyat manusia itu sudah ber"wujud" sebelum lahir di dunia ini. Demikian pula Rasulullah saw., sudah ber"wujud" dengan wujud yang lebih lengkap dan sempurna di dalam tingkatan umur pertama tersebut.

Sedangkan keutamaan umat Muhammad saw (al ummah al-Muhammadiyah) telah banyak
disinggung dalam hadist-hadist beberapa di antaranya:

Berkata Wahab bin Munabbih (rahimahullah): " Ketika Musa a.s. membaca lauh-lauh
(papan bertulis), terlihat olehnya sifat-sifat kelebihan umat Muhammad saw., lalu beliau berkata: ' Ya Tuhanku siapakah gerangan umat yang dirahmati seperti yang kudapati dalam lauh-lauh ini ?' maka berfirman Allah SWT: ôItulah umat Muhammad. Mereka rela dengan rezeki sedikit yang aku berikan kepadanya, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Aku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian Laa ilaaha illallah !

Berkata Musa a.s.: 'Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah-wajah yang bercahaya laksana bulan purnama. Jadikan lah mereka itu umatku ya Allah!' berfirman Allah: ' Mereka itu adalah umat Muhammad. Aku bangkitkan mereka pada hari kiamat dengan wajah bersinar dan bercahaya disebabkan bekas-bekas wudhu dan sujud mereka'.

Berkata Musa a.s.: 'Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berkain Selendang di pundak dan bersenjatakan pedang di bahu masing-masing. Mereka itu orang-orang yang senantiasa bertawakkal dan dadanya penuh keyakinan. Mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad diatas kebenaran, sehingga akhirnya merekapun membunuh Dajjal. Jadikanlah mereka itu umatku!'. Berfirman Allah: ' Tidak! mereka itu umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang bershalat lima kali sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu langit dan turunlah rahmat bagi mereka. Jadikanlah mereka itu umatku, ya Allah!' Berfirman Allah :
'Mereka itu adalah umat Muhammad'

Berkata Musa a.s. : 'Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berpuasa di bulan ramadhan untuk-Mu, lalu Engkau mengampuni segala kesalahan mereka sebelum mereka itu. Jadikanlah mereka itu umatku!' berfirman Allah: 'Mereka itu umat Muhammad'

Berkata Musa a.s. : 'Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang mengunjungi Baitul Haram (Ka'bah) karena-Mu, tiada keperluan lain kecuali itu. Mereka hanya meratap dan menangisi diri sendiri serta mengumandangkan suara takbir membesarkan nama-Mu. Jadikanlah mereka umatku!' berfirman Allah: 'Mereka itu umat Muhammad.' Musa berkata lagi: 'Apakah ganjaran mereka atas perbuatan itu?'
jawab Allah: 'Aku akan menambahkan bagi mereka maghfirah (ampunan) dan akan aku izinkan mereka memberi syafaat (do'a pertolongan) kepada siapa saja yang datang sesudah mereka.'

Berkata Musa a.s. : 'Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang memohon ampun atas dosa-dosanya. Mereka menyuapkan suatu makanan ke dalam mulutnya. Belum sampai makanan itu ke dalam perutnya, dosa-dosa itu telah diampunkan oleh Allah. Mereka menyuapkan makanan itu dengan menyebut nama-Mu dan mengakhirinya dengan mengucapkan syukur dan memuji-Mu. Jadikanlah mereka itu umatku!'
berfirman Allah: 'Mereka itu adalah umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila bercita-cita untuk melaksanakan suatu kebajikan, kemudian tidak dilaksanakannya, akan dicatatkan satu kebajikan. Tetapi bila dilaksanakan kebajikannya itu dicatatkan baginya sepuluh kali lipat dari kebaikan itu, atau sehingga menjadi tujuh ratus kali lipat pahalanya. Jadikanlah mereka umatku!' berfirman Allah: 'Mereka itu adalah umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila mereka berniat melakukan suatu kejahatan, kemudian tidak dilakukannya, tidaklah dicatatkan baginya suatu dosa. Akan tetapi jika diteruskan cita-citanya itu dengan mengerjakan satu kejahatan barulah dicatatkan baginya satu dosa. Jadikanlah mereka itu umatku!'. Berfirman Allah: 'Mereka itu umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat, mereka itu sebaik-baik manusia. Mereka menyuruh berbuat baik dan melarang perbuatan jahat, jadikanlah mereka itu umatku!'. Berfirman Allah: 'Mereka itu umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Ya Tuhanku! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang dibangkitkan pada hari kiamat dalam tiga golongan. Satu golongan akan masuk ke dalam surga tanpa dihisab. Satu golongan lagi akan dihisab dengan hisab yang ringan saja. Dan golongan terakhir disucikan dari segala dosanya, lalu merekapun masuk ke dalam surga. Jadikanlah mereka itu umatku!'. Berfirman Allah: 'Mereka itu umat Muhammad.'

Berkata Musa a.s. : 'Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan segala kebaikan kepada Muhammad beserta umatnya, maka jadikanlah aku sebagai umatnya!'. Berfirman Allah SWT: "Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu di antara manusia untuk menyampaikan risalah dan kalam-Ku, maka terimalah apa yang akan Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau menjadi orang-orang yang bersyukur."
(Q.S.7:144)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada sahabat-sahabatnya: "Apa yang kalian katakan mengenai firman Allah berikut ini :

" Dan tidaklah engkau berada dekat bukit Thur (Shina) ketika Kami menyeru ..."
(Q.S. 28:46)

'Allah dan Rasul-Nya sajalah yang lebih mengetahui.' Maka bersabda beliau:
"Ketika Allah berbicara dengan Musa a.s., maka Musa berkata:"Ya Tuhanku adakah Engkau telah menciptakan seorang mahluk yang lebih mulia di sisi-Mu daripda aku ? Engkau telah memilihku di antara banyak manusia dan Engkau berkata kepadaku di gunung Thur Shina.' Allah berfirman: 'Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasannya Muhammad itu lebih mulia di sisi-Ku daripada semua mahluk-Ku? Sudah Kuteliti semua kalbu hamba-Ku, maka tidak Aku dapati satu kalbupun yang lebih merendah daripada kalbumu. Oleh karena itu Aku memilihmu di antara sekalian manusia untuk menyampaikan risalah dan kalam-Ku. Maka hendaklah engkau mati dalam keadaan mengesakan Aku (bertauhid) dan juga dalam mencintai Muhammad saw.'

Berkata Musa a.s.: 'Ya Tuhanku! adakah di muka bumi ini suatu kaum yang lebih mulia di sisi-Mu daripada kaumku? Engkau telah melindungi mereka dengan awan kemawan. Engkau turunkan Manna dan Salwa dari langit untuk makanan mereka.'Allah berfirman: 'Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasannya kelebihan umat Muhammad atas semua umat yang lain laksana kelebihan-Ku atas sekalian mahluk-Ku?'

Berkata Musa a.s.: 'ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk melihat mereka (umat Muhammad)!' Allah berfirman:'Engkau tidak akan dapat melihat mereka. Tetapi jika engkau ingin mendengar suara mereka, dapatlah Aku memperdengarkan padamu.' Berkata Musa: 'Baiklah, aku mau.' Befriman Allah SWT: ''Wahai umat Muhammad!'
maka sekalian umat Muhammad menyahut bersama-sama dengan suara yang keras: 'Labbaikallahumma Labbaik!' (kami datang kepada-Mu ya Allah, kami datang),
sedangkan ketika itu mereka masih berada dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka."

2. Tahapan umur kedua yaitu semenjak dilahirkan sampai dengan diwafatkan oleh Allah SWT

Tahapan umur ini memiliki masa permulaan yang agak menyerupai tahapan umur alam
Barzakh, yaitu semacam campuran antara beberapa sifat ke-akhiratan yang berkaitan dengan masa setelah kebangkitan dan beberapa sifat ke-duniaan yang dialami oleh manusia sebelum kematiannya. Masa permulaan di sini adalah masa dalam kandungan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan masa tersebut.

Disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: " Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari (sari) tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha
Suci Allah, sebaik-baik Pencipta." (QS: 23;12-14)

Demikian juga Rasullullah telah bersabda: "Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam kandungan ibu berupa setetes air mani selama empatpuluh
hari, kemudian menjadi darah yang beku selama empatpuluh hari pula, kemuidan
menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat
kepadanya, meniupkan ruh baginya dan memerintahkan menulis empat perkara:
rezekinya, ajalnya, amalannya dan kesudahannya, sebagai orang sengsara atau
bahagia. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang dari
kamu beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak dengan surga hanya sehasta,
tapi ia didahului oleh suratan takdirnya dan iapun beramal dengan amalan ahli
neraka, sehingga masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang dari
kamu beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak diantaranya dengan neraka
itu hanya sehasta, namun ia didahului oleh takdirnya dan iapaun beramal dengan
amalan ahli surga, sehingga masuklah ia ke dalam surga." (HR Abdullah bin Mas'ud
r.a. dalam shahih Bukhari dan Muslim)

Ibnul Jauzi telah membagi umur pada tahapan ini menjadi lima masa:
1.. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur lima belas tahun
2.. Masa muda; dari umur limabelas tahun hingga umur tigapuluh lima tahun
3.. Masa dewasa; dari umur tigapuluh lima tahun hingga umur limapuluh tahun
4.. Masa tua; dari umur limapuluh tahun hingga umur tujuhpuluh tahun
5.. Masa usia lanjut; dari umur tujuhpuluh tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.

Pada tahapan masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT yaitu belum
adanya taklif (beban kewajiban) atas anak-anak untuk mengerjakan sholat dan
puasa ataupun kewajiban syara' (agama) lainnya. Hanya saja para orang tua diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya karena kebaikan dan amal saleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapaknya selama kedua orang-tuanya memperhatikan pendidikan dan pemeliharaannya. Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya yaitu kira-kira umur limabelas tahun maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya. Kedua malaikat pengawas diperintahkan oleh Allah untuk mencatat segala aktifitas baik lahir maupun
bathin-nya.

Sebagaimana firman Allah: "Dan sesungguhnya bagi kamu ada beberapa penjaga. Penulis-penulis yang mulia. Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan." (QS: 82;10-12)

"Ketika dua malaikat pencatat membuat catatan, satu duduk di sebelah kanan dan
satu di sebelah kiri. Tiada yang diucapkan, satu perkataanpun, melainkan ada di
dekatnya (malaikat) pengawas yang selalu hadir." (QS. 50; 17-18)

Malaikat ini akan mendampingi dan hadir pada hari kiamat di hadapan pengadilan
Allah SWT dan keduanya menjadi saksi baginya. "Dan datanglah setiap orang
bersama (malaikat) pengiring dan (malaikat) penyaksi." (QS. 50; 21)

Pada tahapan masa muda terjadi banyak perubahan baik secara fisik maupunnon-fisik (pubertas). Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya vitalitas. Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amalan-amalan serta kebaikan-kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu kedunia-an.
Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: "Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu." (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi'ddunia, Ibnul-Mubarrak) "Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1.. Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan
2.. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3.. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan
4.. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. " (HR. Tirmidzi)

Sedangkan apabila seseorang telah mencapai masa dewasa, Allah SWT memberikan karunia hikmah dan kebijaksanaan sehingga kelihatan padanya berbagai ketaatan dan menujukan hatinya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT: " Dan setelah menjadi dewasa dan cukup umurnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang melakukan kebajikan. " (QS. 28;14)

" ... sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empatpuluh tahun,
berkatalah ia: 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang
telah Engkau karuniakan kepadaku dan kedua ibu-bapakku, dan doronglah aku untuk
berbuat amal saleh yang Engkau ridhai ..." (QS. 46;15)

as-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya'rani dalam kitabnya al-Bahrul-Maurud menyebutkan: "Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur empatpuluh tahun, hendaklah bersiap-siap dengan melipat kasur-kasur dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik sehingga tidak akan lagi merasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi empat puluh tahun, sebanding dengan seratus tahun sebelumnya."

Imam Syafi'i (rahimahullah), setelah mecapai umur empat puluh tahun, berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata: "Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat."

Berkata Wahab bin Munabbih: " Aku baca dalam beberapa kitab, bahwasanya ada
suatu suara menyeru dari langit ke-empat pada setiap pagi: ' Wahai orang-orang
yang telah berusia empatpuluh tahun! kamu adalah tanaman yang telah dekat dengan
masa penuaiannya. Wahai orang-orang yang telah berusia limapuluh tahun! Sudahkah
kamu ingat tentang apa yang telah kamu perbuat dan apa yang belum? Wahai
orang-orang yang telah berusia enampuluh tahun! Tidak ada lagi dalih bagimu. Oh,
alangkah baiknya seandainya semua mahluk tidak diciptakan! Atau jika mereka
telah diciptakan, seharusnya mereka mengetahui, mengapa mereka diciptakan. Awas,
saatmu telah tiba! Waspadalah! "

Setelah mencapai tahapan umur dewasa maka manusia akan beralih kepada umur tua.
Dalam tahapan ini akan nampak tanda-tanda kelemahan seseorang. Tahapan umur ini
oleh Rasullullah saw. dinamakan 'pergulatan dengan maut', yaitu masa-masa umur
enampuluhan hingga tujuhpuluhan. Dalam hal ini beliau bersabda: "Masa penuaian
umur umatku dari enampuluh hingga tujuhpuluh tahun". (HR. Muslim & Nasa-i)

Rasullullah saw., sahabat Abubakar, Umar dan Ali ra. juga diwafatkan oleh Allah
SWT pada kisaran usia ini. Umat sekarang ini tergolong umat yang berumur pendek
dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Diriwayatkan bahwa ketika sebagian dari
bani Adam meninggal dunia pada umur kurang lebih duaratus tahun, maka banyaklah
mahluk yang merasa simpati terhadapnya, karena telah meninggal dalam usia yang
muda. Diriwayatkan lagi bahwa Rasullullah saw. ketika merasakan umur umatnya
terlalu pendek bila dibandingkan dengan umat sebelumnya, beliaupun memohon dan
bertadharru' kepada Allah SWT, mengadukan bahwa tidak cukup waktu bagi umatnya
untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT dan menambah amalan untuk
akhiratnya. Maka Allah SWT menganugerahkan kepadanya kepada umat Muhammad malam
Lailatul Qadar yang lebih utama dari seribu bulan, untuk memanjangkan nilai umur
mereka dan menambah pula pahala dan kebajikan mereka sedemikian rupa. Maka bila
beribadah dan munajat kepada Allah SWT pada malam Lailatul Qadar itu, ia seperti
beribadah selama seribu bulan yang setara dengan 83 tahun 4 bulan. Demikianlah
perhatian Rasullullah saw. yang sangat besar dalam memperjuangkan nasib umatnya.

Telah diriwayatkan bahwa orang pertama yang beruban ialah Nabi Ibrahim a.s. Ketika beliau melihat rambut putih itu beliau bertanya: "Wahai Tuhanku, apa ini?". Allah menjawab: " Ini (tanda) kewibawaan." Berkata Ibrahim: "Tuhanku, tambahkanlah itu bagiku!" Berkata Al-Khatib Ibnu Nutabah: "Sesungguhnya uban itu laksana perbatasan hidup yang tak dapat disekat, kerusakannya tidak dapat diperbaiki oleh zaman. Ia adalah cahaya yang muncul bersama dengan surutnya nafas seseorang, yang akan memimpin seseorang ke tempat onggokan
tulang-belulang. Oleh karena itu semoga Allah merahmatimu, jangan membakar cahaya ubanmu dengan api-api dosamu!"

Bersabda nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadist Qudsi: "Telah berfirman Allah SWT:'Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, dan kebutuhan sekalian mahluk-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik lelaki maupun wanita yang telah beruban karena mencapai umur tua di dalam Islam'. Kemudian Rasullullah saw. menangis . Lalu ditanyakan kepadanya:"Apa sebab engkau menangis, ya Rasullullah ?" Jawab beliau: "Aku menangisi orang tua yang Allah malu kepadanya, sedang dia tidak malu kepada Allah SWT."

Sekali peristiwa, Ma'an bin Zaidah datang menghadap Khalifah al-Ma'mun, lalu Khalifah bertanya: "Bagaimana keadaanmu setelah menjadi tua seperti ini?" Jawabnya: "Aku mudah tersungkur hanya karena tersandung sebuah kerikil, dan dapat diikat hanya dengan sehelai rambut." Tanya Khalifah :"Bagaimana halnya dengan makan minum dan tidurmu?" Jawabnya:"Bila aku lapar, aku menjadi marah, bila aku makan aku bosan, bila dalam majlis aku mengantuk, bila di atas tempat tidur mataku terbuka!". Tanya Khalifah selanjutnya:"Bagaimana halmu dengan wanita ?" Jawabnya: 'Yang tua dan buruk aku tidak ingin kepadanya, yang cantik
molek tidak suka kepadaku!" Kata Khalifah selanjutnya:" Orang sebijak engkau ini
tidak patut menjadi tua" (dari kitab Rabi'ul-Abraar)

Berkata Imam Ghazali dalam uraiannya untuk mengingatkan pada orang-orang yang sudah tua: "Jika anda katakan bahwa mati itu tidak akan terjadi kecuali disebabkan karena sakit dan jarang sekali ia datang dengan tiba-tiba, ketahuilah benar-benar bahwasannya mati itu adakalanya terjadi dengan tiba-tiba. Dan apabila anda sakit, maka anda tidak akan mampu lagi mengerjakan amal-amal saleh sedangkan itu bekal untuk akhirat kelak".

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu dari mengingat Allah. maka barang siapa melakukan yang demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah rezeki yang kami berikan kepadamu sebelum maut datang menjumpai seseorang dari kamu;
Lalu berkata:'Tuhanku Kalau dapat Engkau tangguhkan matiku sebentar saja, niscaya aku akan memberi sedekah dan aku akan menjadi orang-orang yang mengerjakan kebaikan.' Allah tidak akan memberi tangguh kepada seseorang apabila telah sampai ajalnya, dan Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan." (QS 63:9-11)

Rasullullah saw. pernah ditanya: "Adakah orang lain yang akan dibangkitkan
bersama para syuhada?" Jawab beliau: "Ya, mereka itulah yang mengingat mati
sebanyak duapuluh kali dalam sehari semalam." Di lain peristiwa beliau menjawab:
"Merekalah yang banyak mengingat mati dan selalu bersiap-siap menyambutnya.
Merekalah orang-orang bijak, yang meninggalkan dunia dengan penuh kehormatan dan
tiba di akhirat dengan penuh kemuliaaan."" (HR Ibnu Majah dan Ibnu Abi'ddunia)

Dalam sebuah hadist dijelaskan: "Anggaplah dirimu di dunia ini sebagai seorang
asing atau musafir lalu, dan anggaplah dirimu sebagai seorang diantara penghuni
kubur". (HR Bukhari)

Rasullullah saw bersabda: "Apalah arti dunia bagiku. Hubunganku dengan dunia ini
laksana seorang pengendara yang sedang berjalan di panas terik, tiba-tiba
kelihatan olehnya sebatang pohon, lalu iapun berteduh sejenak dibawahnya, sesaat
kemudian ia pergi lagi dan meninggalkannya." (HR Tirmidzi)

Sehubungan dengan uraian Al-Ghazali mengenai kematian seseorang yang disebabkan
oleh sakit, Rasullullah saw mengajurkan supaya orang yang sedang sakit banyak
beristighfar mengingat Allah sebab ia tidak tahu barangkali ia akan mati karena
sakit tersebut. Sekali waktu Rasullullah saw menjenguk seorang yang sedang sakit
dan beliau bertanya kepadanya: "Bagaimana perasaanmu?" Jawabnya:"Aku meletakkan
sepenuh harapan kepada Tuhanku dan aku selalu cemas tentang dosa-dosaku". Maka
berkatalah beliau:"Selama kedua sifat ini terkumpul dalam hati seorang muslim,
sedang ia dalam keadaan kritis, maka Allah akan mengabulkan semua yang
diharapkan dan meyelamatkan dari semua yang ditakutinya." (HR Tirmidzi)

Dalam hadist lain disebutkan: "Seseorang hamba muslim, ketika menghadapi maut
akan digembirakan dengan rahmat Allah dan karunia-Nya, sehingga ia ingin sekali
bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun ingin bertemu dengannya. Sebaliknya
seorang munafik ketika menghadapi maut akan dipertakuti dengan azab Allah SWT.,
maka ia tak ingin bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT pun tak ingin bertemu
dengannya. Maka kaum mukminin yang penuh dengan takwa akan digembirakan oleh
rahmat Allah SWT ketika hendak keluar dari dunia ini sehingga ruh-ruh mereka
hampir-hampir akan terbang dari jasad mereka karena sangat rindu akan Tuhannya
dan ingin sekali untuk segera menemui-Nya disaat para malaikat memberi salam
kepada mereka menggembirakan mereka dengan surga dan jaminan bahwa mereka tidak
akan ketakutan dan tidak akan pula bersedih hati sebagaimana dalam firman Allah:
"Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik (kepada mereka
dikatakan): 'Selamatlah kamu! Masuklah ke dalam surga disebabkan amal baik yang
telah kamu kerjakan'" (QS 16:32) (HR Bukhari & Muslim)

Beberapa do'a yang dianjurkan oleh Rasullullah saw dibaca pada saat sakit
diantaranya adalah: "Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dholimiin"
'Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini tergolong orang-orang yang aniaya'. Dalam satu riwayat disebutkan bila membaca do'a ini sebanyak 40 kali lalu ia meninggal karena penyakitnya itu maka ia sama dengan mati syahid.

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda mengenai perjalanan manusia dari bayi hingga mencapai umur baligh: "Segala kebajikan yang dikerjakannya akan dicatat pahalanya untuk kedua orang tuanya. Jika ia melakukan kesalahan tidaklah dicatat baginya suatu dosa dan tidak pula bagi kedua orang tuanya. Apabila ia telah baligh dan qalam mulai mencatat perbuatannya, maka Allah SWT akan memerintahkan kedua malaikat yang bersamanya untuk memelihara serta membenarkan langkahnya. Apabila ia mencapai umur 40 tahun sebagai seorang muslim, maka Allah akan memeliharanya dari tiga penyakit yaitu gila, lepra, dan
sopak (belang). Apabila ia mencapai umur 50 tahun, Allah akan meringankan
hisabnya. Apabila ia mencapai usia 60 tahun, Allah memudahkan baginya untuk
kembali kepada-Nya dalam hal-hal yang disukai-Nya. Apabila ia mencapai umur 70
tahun, niscaya ia akan dicintai seluruh penghuni langit. Apabila ia mencapai
usia 80 tahun Allah akan mencatatkan segala kebajikan baginya dan mengampuni
segala kejahatannya. Apabila ia mencapai umur 90 tahun Allah akan mengampuni
segala dosa-dosanya yang terdahulu dan dosanya yang akan datang dan
mengizinkannya memberi syafaat pada semua ahli rumahnya dan ia selalu dibawah
pengawasan Allah SWT. Apabila ia mencapai usia yang tua renta (pikun), sehingga
tidak mengetahui lagi apa yang dahulu pernah ia ketahui, maka Allah SWT akan
mencatatkan segala kebajikan yang pernah dilakukan pada masa sehatnya dulu dan
bila ia berbuat suatu dosa maka tidaklah akan dicatatkan lagi baginya
sesuatupun."

Sekali peristiwa seorang jenazah lewat di hadapan Rasullullah beliau berkata:
"Bebas atau membebaskan!" beliau ditanya:"Wahai Rasulullah Apa maksud bebas atau
membebaskan?" Beliau menjawab:"Seorang mukmin yang meninggal dunia akan bebas
dari gangguan dunia dan penderitaannya, menuju kepada rahmat Allah. Sedangkan
kematian seorang fajir (durhaka) akan membebaskan seluruh hamba Allah, negara,
pepohonan dan binatang dari gangguannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Berkata Rasulullah saw. kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya dunia ini
adalah penjara bagi orang mukmin sedang kubur adalah tempat aman baginya dan
surga adalah tempat tujuannya." Wahai Abu Dzar sesungguhnya dunia ini adalah
surga bagi orang kafir, sedang kubur adalah tempat siksaannya dan neraka adalah
tempat tujuannya."

Berkata Ibnu Abbas ra.: "Sekiranya anda lihat seseorang sedang menghadapi maut
maka gembirakanlah agar ia menemui Tuhannya dengan mnyimpan sangkaan baik
terhadap-Nya. Tetapi selama hidup pertakutilah ia dengan hukuman Allah."

Imam Ali ra. berkata: "Apabila seorang mukmin meninggal dunia, tempat shalatnya
di bumi akan menangisinya dan tempat naik amalannya ke langit pun akan
menangisinya pula"

Bersabda Rasulullah saw: "Siapa saja yang matinya di penghujung Ramadhan maka ia
masuk surga. Siapa saja yang matinya di penghujung hari Arafah, maka ia masuk
surga. Dan siapa yang matinya tepat saat ia selesai bersedekah, maka ia masuk
surga." "Barang siapa meninggal dunia pada malam Jum'at atau hari Jum'at, maka
ia akan terlindung dari siksa kubur, dan di hari kiamat ia akan datang dengan
tanda-tanda para syuhada padanya."

Tahapan umur ketiga dimulai yaitu saat manusia meninggalkan dunia ini, hingga ia
dibangkitkan dari kubur dengan tiupan sangkakala. Ini dinamakan alam Barzakh.
Berfirman Allah SWT: "... Dan di belakang mereka ada Barzakh sampai hari mereka
dibangkitkan." (QS 23:100)

Jasad atau tubuh akan ikut merasakan kenikmatan dan kesengsaraan ketika masih
hidup, dan hancur luluh saat mati namun ruh akan tetap kekal, sedangkan yang
menjadi saksi keberadaan kita hanyalah ajbudz-dzanab (tulang-ekor) dan dari
inilah tubuh manusia akan dihimpun kembali dan menuju tempat kebangkitan.

Lain halnya dengan jasad para Nabi, mereka dikecualikan dari semua ini dan
mereka tetap hidup dalam kubur. Demikian pula para syuhada yang gugur dalam
jihad.

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki." (QS 3:169)

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa bahwa ruh para syuhada tersebut
bersemayam dalam perut burung-burung yang berwarna hijau, berterbangan di dalam
surga dan tinggal di dalam lampu-lampu yang tergantung di 'Arsy. (HR Tirmidzi)

Sedangkan bagi keluarga dan sahabat yang ditinggal mati saudaranya maka mereka
berkewajiban: Mengantarkan jenazah sampai ke kuburnya. "Orang yang mengantar
jenazah seorang Muslim hingga dishalatkan, maka baginya satu qiraat pahala. Jika
ia menunggu sampai jenazah itu dikuburkan, ia mendapat dua qiraat. Dan setiap
satu qiraat nilainya sebesar gunung Uhud." (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud,
Tirmidzi) "Barangsiapa mengantarkan jenazah saudaranya yang Muslim, maka Allah
akan memerintahkan para malaikat untuk mengantarkan jenazahnya dan menyembahyangkannya kelak apabila ia mati." HR Bukhari dan Nasa-i) Mempercepat
pengurusan jenazah "Apabila pengurusan jenazah telah selesai dan bila ia sedang
dipikul orang banyak (ke kubur), maka bilamana ia adalah jenazah orang yang
saleh, ia akan berkata: 'Segerakanlah aku, segerakanlah aku ke kubur. Tetapi
bilamana ia bukan seorang yang saleh, ia akan berkata:'Celaka aku! ke mana
kalian akan membawaku pergi ?' (HR Bukhari dan Nasa-i)

Bersabda Rasulullah saw: "Percepatlah (mengurus) jenazah. Jika ia termasuk manusia saleh maka sebaiknya kamu menyegerakannya ke kubur agar ia segera menjumpai kebaikan yang tersedia baginya. Jika ia bukan manusia saleh maka ia adalah suatu bencana yang sebaiknya kamu hindarkan dari atas pundakmu." (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi)

Seorang jenazah mengenali dan merasakan siapa yang memandikan, mengafani dan menurunkannya ke liang lahat. Diriwayatkan bahwa ruh orang mati itu berada dalam
genggaman malaikat yang mengiringi jenazah itu dan mendengar segala yang dikatakan orang tentang si jenazah tersebut. (HR. Ahmad)

Apabila lubang kubur telah rata dengan tanah hendaklah jenazah tersebut didoakan
karena ia sedang berhadapan dengan malaikat Munkar dan Nakir yang akan
menanyakan kepadanya tentang Siapa Tuhannya? Apa agamanya? dan Siapa Nabinya?
Orang yang diberi keteguhan dan rahmat oleh Allah akan mudah menjawab pertanyaan
tersebut namun orang yang sering lalai dalam mengingat Allah akan menerima siksa
kubur dengan berbagai adab. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Bersabda Rasulullah saw.: "Tiada pemandangan yang pernah kulihat lebih
menyeramkan daripada kubur." Usman bin Affan ra., setiap kali berada di kuburan
selalu mengucurkan airmata hingga membasahi janggutnya. Ketika beliau ditanya
orang:"Bila mengingat surga dan neraka, anda tidak pernah menangis seperti ini,
apa sebabnya?" maka beliau berkata:"Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda:
"Kubur itu adalah tempat pemberhentian pertama dari tempat-tempat di akhirat.
Siapa selamat di situ maka setelah itu semuanya akan menjadi lebih mudah dan
ringan baginya. Tetapi siapa gagal, maka tempat-tempat setelah itu akan dirasa
lebih berat."

"Sesungguhnya di dalam kubur itu akan dijumpai himpitan. Jika ada orang yang bisa selamat daripadanya,maka selamatlah Sa'ad bin Mu'adz daripadanya." (Sa'ad bin Mu'adz adalah seorang sahabat besar yang menurut sebuah riwayat yang menyebabkan terguncangnya 'Arsy ketika beliau meninggal) Siksa Kubur

Diberitahukan bahwa siksa kubur itu disebabkan tiga hal yaitu: Ghibah
(pergunjingan), Namimah (Fitnah) dan tidak cukup membersihkan diri dari kencing.
Hal ini tersebut pada sabda Nabi: "Kebanyakan siksa kubur disebabkan tidak cukup
membersihkan diri dari kencing."

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah mendengar dua orang laki-laki sedang
disiksa di dalam kubur mereka, lalu beliau meminta setangkai ranting pohon kurma
dan ditancapkannya di atas kubur tersebut seraya berkata:"Semoga mereka berdua
diringankan dari siksa selama ranting-ranting ini masih segar. Sesungguhnya kedua orang itu disiksa bukan karena berbuat dosa besar. Seorang di antara keduanya suka melontarkan fitnahan dan yang satu lagi tidak memelihara kebersihan diri dari kencing."

Diriwayatkan bahwasannya Sa'ad bin Ubadah r.a. berkata kepada Rasulullah saw.:
"Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba. Sekiranya ia masih sempat
berbicara niscaya ia akan bersedekah. Dapatkah aku bersedekah untuknya..?"
Beliau menjawab: "Ya!" Maka Sa'ad pun menggali sebuah sumur dan menyedekahkannya
atas nama ibunya. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa-i, Abu Daud dan Ahmad)

Berkata seorang laki-laki kepada Rasulullah saw.: "Ya Rasulullah! Ibu-Bapakku
telah meninggal dunia, adakah suatu bakti yang dapat kulakukan untuk mereka?"
Jawab Rasulullah: "Empat hal yang dapat kau lakukan: berdo'a dan beristighfar
bagi keduanya, melaksanakan pesan-pesan mereka, berbuat baik kepada kawan-kawan
mereka dan menghubungkan tali silaturrahmi yang tidak bersambung kecuali karena
dengan perantaraan keduanya." Rasulullah saw. juga pernah bersabda: "Kalau tidak
karena adanya orang yang hidup, maka binasalah orang yang telah mati."
Pernyataan beliau mempunyai maksud bahwa selamatlah orang yang telah mati karena
adanya do'a dan istighfar dari orang yang masih hidup.

Bersabda Rasulullah saw.: "Umatku adalah umat yang dirahmati. Mereka masuk ke
dalam kubur dengan dosa-dosa setinggi gunung dan keluar dari sana dalam keadaan
terampuni segala dosanya, yaitu dengan adanya istighfar, sedekah, do'a dan
bacaan Al-Qur'an yang dilakukan orang-orang yang hidup untuk mereka. Para
malaikat membawa semua itu dalam pinggan-pinggan besar terbuat dari cahaya yang
ditutup dengan kain sutra sambil berkata kepada mereka yang menrimanya:'Inilah
hadiah yang dikirim si Fulan untukmu.' Maka si penerima akan merasa senang dan
gembira." Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan sunnah Rasul, telah bersabda beliau: "Ziarahilah kubur-kubur karena yang demikian itu mengingatkan kamu akan mati." "Dahulu aku melarang kamu ziarah ke kubur maka sekarang ziarahlah, karena hal itu akan menjadikan kamu zuhud di dunia dan mengingatkan kamu akan akhirat." (HR. Muslim,Tirmidzi, Abu Daud dan Nasa-i)

"Tiada seorangpun yang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya, melainkan ia (si penghuni kubur) akan merasa tentram dan senang kepadanya dan ruh-nya dikembalikan ke tempat itu sampai yang berziarah itu bangun dari duduknya." (HR. Ibnu Abi'ddunia)

"Mayit di dalam kubur akan merasa tentram dan senang sekali apabila orang yang
sangat dicintainya di dunia dahulu datang menziarahinya."

Apabila sedang berziarah atau melewati kuburan dianjurkan untuk membaca do'a:
"Assalamualaikum daaroqawmin mu'miniina wa atakum maa tuu'aduna ghadan mu'ajjaluuna wa inna insya'allaahu bikum laa hiquuna antum lanaa salafun wanahnu lakum taba'un nas'alullaaha lanaa walakumul'afiyah allaahummaghfirli lana
walahum.ö
"Salam sejahtera atas kamu, wahai penghuni tempat kaum mukminin. Esok akan datang kepadamu apa yang telah dijanjikan. Kamu telah pergi dan kami insya Allah akan menyusulmu. Kamu adalah orang-orang yang terdahulu dan kami adalah orang yang mengikuti kemudian. Kami memohon keselamatan bagi kami dan kamu. Ya Allah, ya Tuhan kami! Berilah ampunan bagi kami dan bagi mereka." (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Bersabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya semua amalan kamu ditunjukkan kepada
keluarga dan kerabat kamu yang sudah mati. Jika amalan itu baik, mereka bergembira. Tapi jika amalan itu buruk, maka mereka berseru kepada Allah SWT:"Ya Allah, ya Tuhanku! janganlah Engkau wafatkan mereka sehingga Engkau memberi mereka petunjuk, sebagaimana engkau memberi kami."

"Amalan-amalan manusia dihadapkan kepada Allah SWT. pada tiap-tiap hari Senin
dan Kamis. Juga kepada para nabi dan ibu-bapak pada tiap-tiap hari Jum'at.
Mereka akan bergembira melihat kebaikan-kebaikannya, wajah-wajah mereka akan
bertambah dengan nur dan cahaya. Maka hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada
Allah dan jangan sekali-kali menimbulkan gangguan bagi orang-orang yang telah
mati diantara kamu."

Ketahuilah bahwasannya seluruh mahluk akan berkumpul di Barzakh pada masa antara
dua tiupan sangkakala sebab di waktu itu sudah tidak ada lagi mahluk yang hidup,
semuanya telah mati. Allah SWT berfirman: "Dan ditiupkanlah sangkakala, maka
matilah semua yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah."
(QS. 39:68) "Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan
segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka." (QS. 36:51) Inilah yang
disebut dengan kiamat (kebangkitan) pertama yang sesudah itu akan akan
berlangsung kiamat (kebangkitan) kedua yaitu semua yang mati akan dihidupka
kembali atas izin Allah SWT. "... Kemudian ditiuplah sangkakala itu sekali lagi
maka merekapun bangkit dan menunggu." (QS. 39:68) Dan jarak diantara kedua
tiupan sangkakala tersebut masanya kurang lebih empatpuluh tahun.

Bersabda Rasulullah saw.: "Akan muncul Dajjal di antara umatku, maka ia akan
tinggal selama empatpuluh." (Perawi hadist ini bimbang dengan maksud dari
empatpuluh tersebut mungkin empatpuluh hari, empatpuluh bulan atau empatpuluh
tahun) "Kemudian Allah SWT akan membangkitkan kembali Isa bin Maryam as. dan ia
menyerupai Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi ra. maka dialah yang akan mencari Dajjal
dan membinasakannya. Sesudah itu semua mahluk akan hidup selama tujuh tahun,
tidak ada permusuhan antara satu dengan yang lain. Kemudian Allah SWT akan
mendatangkan angin sejuk dari arah negeri Syam, yang mewafatkan setiap orang
yang di dalam hatinya bersemayam iman dan kebaikan walaupun sebesar dzarrah.
Sehingga andaikata seseorang dari kamu mencoba melarikan diri ke perut gunung,
angin sejuk itu akan mewafatkanmu juga. Maka yang tinggal pada masa itu hanyalah
orang-orang jahat selincah burung, seganas binatang buas, tidak pernah mengenal
kebajikan, dan tidak pula mencegah kemunkaran. Setan pun akan menjelma dalam
tubuh mereka seraya berkata kepada mereka: "Tidaklah kalian mau menerima
seruanku?" Mereka lalu menjawab: "Kami masih belum tahu apa yang diperintahkan
kepada kami." Maka setan akan menyuruh mereka agar menyembah berhala-berhala
terbenam dalam kekayaan harta dan kemewahan hidup dunia.

Kemudian ditiuplah sangkakala dan setiap orang yang mendengar akan berpaling dan
mengangkat lehernya (mencari suara itu). Kemudian semua manusia tersentak pingsan, setelah itu Allah SWT menurunkan hujan rintik-rintik seperti embun dan hiduplah kembali manusia. Ketika itu sangkakala ditiup untuk kedua kalinya lalu semua mahluk akan bangkit dan menunggu. "Kami biarkan mereka di hari itu bercampur-aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya." (QS. 18:99)

Kemudian dikatakan kepada semua yang ada di situ: "Wahai manusia sekalian!
Kemarilah kepada Tuhan kamu."

"Dan tahanlah mereka sekalian, sesungguhnya mereka akan ditanya." (QS. 37:24)

Kemudian terdengar suara:"Sisihkanlah dari kelompok yang akan dilemparkan ke
dalam api neraka itu!" Suara lain bertanya: "Berapa ... berapa ...?" Maka
dijawab:"Dari tiap seribu orang sisihkan sembilan ratus sembilanpuluh sembilan
orang." Merekapun lalu dipanggil satu persatu dan itulah hari yang tersebut
dalam firman Allah SWT:"Pada hari betis disingkapkan..." (QS. 68:42) " ... hari
dimana anak-anak kecil beruban." (QS. 73:17)

Bersabda Rasulullah saw.: "Tak seorangpun yang mengucapkan:'Laa ilaaha illallah' masih hidup ketika hari kiamat tiba." "Maka yang tinggal hanyalah orang-orang jahat belaka. Mereka berselisih sendiri laksana keledai-keledai yang sedang berkelahi. Atas mereka inilah akan terjadi kiamat."

Bersabda Rasulullah saw.: "Pada hari kiamat Allah SWT akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya lalu berkata:'Aku adalah Raja DiRaja' Di manakah raja-raja di bumi?" (HR. Bukhari, Muslim)

"Allah akan melipat lapisan langit di hari kiamat, lalu menggenggamnya dengan 'tangan kanan'-Nya seraya berkata: 'Aku adalah Raja DiRaja! dimanakah para raja yang mengagungkan diri? Dimanakah orang-orang yang menyombongkan diri?' Kemudian Dia melipat bumi dengan 'tangan kiri'-Nya seraya berkata: 'Akulah Raja DiRaja! dimanakah para raja yang mengagungkan diri? Dimanakah orang-orang yang menyombongkan diri?" (HR. Muslim)
"Di suatu masa Islam akan luntur sebagaimana pakaian menjadi luntur, sehingga tiada lagi orang yang mengetahui apa itu puasa, apa itu sembahyang, apa itu haji dan apa itu sedekah. Maka diangkatlah Al-Qur'an pada suatu malam, dan tidak ada satu ayatpun yang masih ada di muka bumi. Dan akan tinggal beberapa kelompok manusia, diantaranya orang-orang tua renta yang
tidak berdaya lagi dan mereka itu berkata:'Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan 'laa ilaaha illallah', maka kamipun mengucapkannya." Tanda-tandakiamat

Berkata Rasulullah saw.: "Kamu takkan melihat hari kiamat hingga kamu melihat sepuluh tandanya terlebih dahulu; 'terbitnya matahari dari arah tenggelamnya, datangnya dukhan (asap), lalu Dajjal, lalu dabbah (binatang yang berkata-kata), lalu tiga gerhana (gerhana di timur, di barat dan di semenanjung Jazirah arab), munculnya Isa a.s., Ya'juj dan Ma'juj, dan terakhir adalah api yang keluar dari bumi Aden di Yaman." (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud dan Nasa-i)

Kedatangan hari kiamat hanya Allah SWT sajalah yang tahu; "...Katakanlah:
'Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanyalah pada Tuhanku; tidakada seorangpun yang dapat mengungkapkan waktu kedatangannya selain Dia ..." (QS.7:187)

"...Dan pada-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat." (QS. 43:85)

Tahapan umur ke empat dimulai sejak kebangkitan manusia dari kuburnya untuk
menghadap pengadilan Tuhan, hingga saat masuknya ahli surga ke dalam surga dan
ahli neraka ke dalam neraka.

Ini akan terjadi saat Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Israfil a.s. untuk meniup sangkakala yang kedua kalinya. "Dan ditiuplah sangkakala, maka merekapun bangkit dari kubur masing-masing lalu datang bergegas menuju Tuhan mereka." (QS.36:51)

"...Kemudian ditiupkan (sangkakala) sekali lagi maka merekapun tegak berdiri
sambil menunggu." (QS. 39:68)

"Orang-orang yang kafir itu mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: 'Ya! Demi Tuhanku, kamu tetap akan dibangkitkan kemudian diberitahu segala yang telah kamu kerjakan, dan yang demikian itu adalah mudah sekali bagi Allah." (QS. 64:7)

"Penciptaan dan pembangkitan kamu oleh Allah hanyalah seperti (menciptakan) satu
jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. 31:28)

"Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian
mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah.
Katakanlah:'Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai
ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan
Berkuasa atas segala sesuatu." (QS. 29:19-20)

"Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti tiba, tidak ada keraguan padanya, dan
sesungguhnya Allah akan membangkitkan orang yang di dalam kubur." (QS. 22:7)

"Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi itu tandus
dan kering, tetapi setelah Kami turunkan hujan di atasnya, iapun bergetar dan
mengembang. Sesungguhnya Dia yang menghidupkan (bumi yang mati) itu, Dialah pula
yang pasti dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Sungguh Dia Berkuasa atas
segala sesuatu." (QS. 41:39)

"Dibuatnya (oleh manusia kafir) perumpamaan bagi Kami, sementara ia lupa asal
kejadiannya sendiri. Ia berkata:'Siapa dapat menghidupkan tulang-belulang yang
sudah hancur luluh?' Katakanlah:'Yang akan menghidupkannya ialah yang
menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala ciptaan'."
(QS. 36:78-79)

Diriwayatkan dari Abu Razin al-Uqaili ra. katanya: "Aku bertanya kepada
Rasulullah saw., bagaimana Allah menciptakan mahluk-Nya? Apakah tanda-tanda
ciptaan-Nya? Jawab beliau: 'Apakah engkau tidak pernah melewati suatu lembah
yang kering kerontang, kemudian pada kali lain engkau lewat di situ lagi dan
engkau melihatnya hijau dan subur?' Jawabku:"Benar!" Kata beliau lagi:"Itulah
tandanya dalam ciptaan-Nya."

Imam al-Qurthubi rahimahullah pernah menyebut, di dalam kitab at-Tadzkirah,
sebuah hadis panjang yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a katanya: "Telah
bersabda Rasulullah saw. ketika kami bersama-sama sekelompok sahabatnya...",
hadis ini disampaikan panjang lebar samapai kepda firman Allah SWT yaitu: ""Pada
hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit..." (QS.
14:48) "... maka Allah SWT telah menghamparkan bumi dan membentangkannya papar
dan rata, sehingga tidak kelihatan ada yang tinggi ataupun rendah. Kemudian
terdengarlah teriakan amat keras, maka semua mahlukpun berada di bumi yang
digantikan, dalam keadaan yang sama seperti keadaan mereka sebelumnya, yang
berada dalam perut bumi tetap berada di situ dan yang berada di atas muka bumi
tetap juga berada di situ. Kemudian Allah menurunkan air dari bawah 'arsy yang
hawayaan (air kehidupan), yang menghujani kamu selama empatpuluh hari, sehingga
air diatasmu mencapai sedalam dua belas hasta. Lalu Allah memerintahakan semua
jasad-jasad itu tumbuh laksana sayur-sayuran, hingga apabila telah sempurna
seperti bentuk sebelumnya, maka Allah pun berfirman: "Hiduplah sekalian pemikul
'arsy! Hiduplah Jibril, Mikail dan Israfil." Israfil lalu diperintahkan oleh
Allah untuk membawa Shur (sangkakala), dan setelah itu Ia menyeru agar semua ruh
didatangkan. Adapun ruh-ruh kaum muslimin bersinar berkilauan sedangkan ruh-ruh
yang lainnya keruh gelap gulita. Semua ruh itu dikumpulkan dan ditempatkan dalam
Shur. Kemudian Allah berfirman kepada Israfil: "Tiuplah tiupan kebangkitan!"
maka Israfilpun meniup sangkakala itu, lalu keluarlah daripadanya ruh semua
mahluk laksana lebah yang keluar dari sarangnya, memenuhi ruangan luas antara
langit dan bumi. Ketika itulah Allah berfirman: "Demi kemuliaan-Ku dan
kebesaranku. Hendaklah setiap ruh kembali kepada jasadnya." maka setiap ruh di
bumi akan memasuki jasad masing-masing.

Setelah itu bumi akan terbelah. Lalu muncullah kamu sekalian dari perut bumi itu
dan aku, (kata Rasulullah saw.) adalah yang pertama kali muncul. Ketika itu kamu
sekalian keluar dalam keadaan muda belia seperti berumur tigapuluh tahun dan
pembicaraan kamu pada hari itu dalam bahasa Suryani. Kamu bergegas menuju kepada
Tuhanmu dengan berbondong-bondong mengikuti suara yang menyeru, dan orang-orang
kafir akan berkata: "Inilah hari yang penuh kesulitan (yaitu hari kebangkitan).
Dan Kami (Allah) mengumpulkan mereka, tiada seorangpun yang Kami tinggalkan."
Shur (sangkakala) adalah seperti sebuah tanduk besar yang terbuat dari nur
(cahaya), tiada seorangpun yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah SWT.
(HR. Bukhari dan Muslim) Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa seluruh anggota
tubuh manusia akan hancur luluh kecuali satu tulang saja yaitu Ajbuz-Dzanab
(tulang ekor) dan dari tulang itulah Allah SWT akan membangkitkan kembali
manusia, saat malaikat Israfil meniupkan sangkakala kebangkitan. Semua jasad dan
ruh dikumpulkan di tempat perhentian kiamat: "Dan pada hari Kami perjalankan
gunung-gunung dan engkau lihat bumi seperti padang terbentang. Kami himpun
mereka semua dan tiada seorangpun diantara mereka yang tertinggal. Mereka akan
dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris. (Lalu Allah berfirman): 'Sesungguhnya
kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami jadikan kamu pada kali yang pertama
meski kamu mengira bahwa Kami tidak akan menetapkan waktu untuk perjumpaan
denganmu." (QS. 18:47-48)

"Dan hari itu bumi terbelah, keluarlah mereka dari situ dengan bergegas.
Mengumpulkan itu bagi Kami adalah mudah." (QS. 50:44)

Sabda Rasulullah saw.: "Setiap orang akan mati seperti dalam keadaan hidupnya
dan akan dibangkitkan seperti dalam keadaan matinya." (HR. Muslim)

"Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan bertelanjang kaki dan tubuhnya, tidak berkhitan, kaum wanita bercampur dengan kaum lelaki." Berkata Aisyah ra.: "Aduhai malunya! Apakah orang-orang akan saling melihat satu sama lain?" Jawab Rasulullah saw.: "Keadaan mereka terlalu gawat, sehingga tak sempat memperhatikan seperti itu." (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda: "manusia dikumpulkan di padang Mahsyar dalam keadaan
lapar yang sangat, dahaga yang sangat, telanjang bulat dan terlalu penat. Maka barangsiapa pernah memberi makan (orang lain) karena Allah, maka Allah akan memberinya makan. Barangsiapa pernah memberi minum karena Allah, maka Allah akan memberinya minum. Dan barang siapa pernah memberi pakaian karena Allah, maka Allah akan memberikan pakaian. dan barangsiapa beramal karena Allah, maka Allah akan mencukupinya."

Setelah semua manusia dibangkitkan, mereka diperintahkan menuju Mahsyar. Konon
tempat itu ialah 'al-ardhul-mubarakah' (tanah yang diberkati) dan 'al-ardhul-muqaddasah' (tanah yang disucikan) di negeri Palestina. Para malaikat akan membawa mereka ke sana.

Semua amalan manusia akan dibeberkan pada hari Mahsyar ini. Amalan saleh akan
menentramkan pemiliknya, sedangkan jahat akan mebuat gelisah pemiliknya.
Berfirman Allah SWT: "... Mereka memikul kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) di atas
punggung mereka. Alangkah buruk apa yang mereka pikul itu." (QS. 6:31)

"Dan sesungguhnya mereka kan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (yang
lain) di samping beban mereka sendiri. Dan sesungguhnya pada hri kiamat mereka
akan ditanya tentang apa yang mereka ada-adakan." (QS. 29:13)

Setiapa orang akan datang dengan bersama para malaikat pengiringnya masing-masing, yang mencatat amalan selama hidupnya. "Dan setiap jiwa datang; masing-masing bersama para malaikat pengiring dan malaikat penyaksi." (QS. 50:21)

Setiap orang yang berdosa akan nampak baginya amalan-amalan buruk yang telah
dilakukannya, sedang mereka tiada pernah bertobat. Pemakan riba, perutnya akan
membuncit sehingga dia susah sekali untuk berjalan. Para pezina akan membesar
kemaluannya sehingga menyapu tanah. Para peminum arak, ketika dibangkitkan,
tangan-tangannya masih memegang gelas araknya. Para pendusta, pengumpat, dan
pengadu domba (tukang fitnah), lidah mereka akan menjadi panjang sehingga
mencapai dada. Kaum yang menolak menunaikan zakat akan dibawa keliling bersama
ular-ular yang besar sebagai perwujudan dari harta-harta mereka yang tidak
dizakatkan. Orang yang takabur akan dibangkitkan dalam bentuk seperti semut,
sehingga mereka akan diinjak-injak orang-orang yang lain. Firman Allah SWT:
"Semua orang yang berdosa dapat dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang
kuat ubun-ubun dan kaki mereka." (QS. 55:41)

Bahwasannya manusia akan dibangkitkan menjadi tiga golongan: satu golongan berkendaraan, satu golongan berjalan kaki, dan golongan terakhir berjalan diatas kepalanya sendiri. Rasulullah saw. bersabda: "Dia yang menjadikan manusia berjalan dengan kaki, berkuasa pula menjadikan mereka berjalan dia atas kepalanya sendiri." (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan oleh Mu'adz bin jabal ra. katanya: "Ya Rasulullah apa gerangan maksud firman Allah SWT: 'Pada hari ditiup sangkakala, lalu kamu datang berbondong-bondong?' (QS. 78:18) Jawab Rasulullah saw.: "Wahai Mu'adz! Sesungguhnya engkau telah bertanya tentang persoalan yang amat besar!. Lalu berlinang airmata beliau karena menangis. Kemudian beliau berkata: 'Ada sepuluh golongan (sesat) dari umatku yang dibangkitkan secara terpisah. Mereka ini telah
dipisahkan Allah dari kumpulan kaum muslimin yang lain dan diubah wajah-wajah mereka. Ada yang dirupakan seperti monyet, ada yang seperti babi, ada yang tubuhnya terbalik (kakinya di atas), dan diseret muka mereka, ada yang terpotong tangan dan kakinya atau mukanya, ada yang buta tersungkur, ada yang bisu tuli dan tidak berakal, ada yang mengunyah lidahnya sendiri yang terjulur keluar sampai ke dada, dari mulut mereka mengalir nanah yang laksana air liur yang berbau busuk dan membuat semua orang merasa jijik padanya, ada yang disalib
diatas palang-palang api, da yang baunya lebih busuk dari bangkai, dan ada pula yang berpakain jubah-jubah panjang yang terbuat dari timah yang meleleh...

Adapun orang-orang yang berwajah monyet, mereka adalah orang yang suka menyebarkan fitnah di antara manusia. Yang serupa babi adalah orang yang suka makan harta haram dan merampas hak orang lain. Yang tertelungkup kepalanya di bawah dan kakinya di atas, adalah kaum pemakan riba. Yang dalam keadaan buta adalah mereka yang bertindak zalim dalam pemerintahan. yang buta-tuli ialah orang yang suka ujub (bangga dan sombong) dengan amalannya. Yang mengunyah-nguyah lidahnya sendiri adalah para ulama dan hakim yang kata-katanya berlawanan dengan perbuatannya. yang terpotong-potong tangan dan kakinya adalah orang yang selalu mengganggu tetangganya. Yang tersalib di atas palang-palang api adalah orang yang suka memfitnah orang lain kepada penguasa. Yang baunya lebih busuk dari bangkai adalah orang yang selalu memuaskan hawa nafsu, bergelimang dalam dosa syahwat dan menolak menunaikan hak Allah dalam dalam harta kekayaannya. Adapun yang memakai baju-baju panjang yang terbuat dari timah yang meleleh adalah orang yang selalu takabur, suka bermegah dan memuji diri. (HR. al-Qurthubi ra)

"Manusia akan dibangkitkan di bumi yang kering-kerontang laksana sepotong roti
yang bersih, tiada satupun tanda yang tampak." (HR. Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw bersabda: "Manusia akan dibangkitkan (pada hari kiamat) dalam
suatu tanah lapang yang terbuka sehingga terdengar oleh mereka seruan malaikat
penyeru dan merekapun tak mampu menyembunyikan diri."

Apabila semua mahluk telah terkumpul di tempat itu baik jin, manusia, setan
serta mahluk ciptaan Allah yang lain ketika itu turunlah malaikat dengan
perintah Allah SWT. lalu mengepung semua mahluk disitu secara bersaf-saf
sehingga tiada seorangpun kaum yang jahat dan zalim dapat menghindar dan
meloloskan diri, karena tiada jalan keluar ke manapun.

"Wahai kumpulan jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru langit dan
bumi, lintasilah! Kamu tidak dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan. Maka
karunia Tuhanmu yang manakah yang hendak kamu dustakan?Aakan dikirim kepadamu
nyala api dan tembaga, dan kamu tidak dapat melarikan diri." (QS. 55:35)

Di situlah semua mahluk akan berjejal bak gelombang yang saling menimpa, sedang
matahari direndahkan hingga satu 'mil' dari kepala mereka. (HR. Muslim)

Ketika itu manusia akan merasakan kesusahan yang amat sangat panas terik serta
haus. Manusia akan menanggung penderitaan yang amat berat dan mereka akan
berkeringat deras sehingga mengalir di tanah sepanjang empat puluh hasta.

Berkata Nabi saw.: "Pada hari kiamat, matahhari akan turun merendah ke bumi,
maka manusia akan berkeringat sehingga pada sebagian mereka ada yang keringatnya
sampai ke mata kakinya, ada yang sampai pada lututnya, ada yang sampai pada
pahanya, ada yang sampai ke pinggangnya ada yang sampai ke mulutnya dan ada pula
yang samapi tenggelam sama sekali begini." (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi; dengan
beberapa perbedaan)

Rasulullah saw bersabda: "Setiap orang akan dilindungi oleh sedekahnya pada hari
Kiamat. Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya Yaitu: Imam
(penguasa) yang adil, pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah,
orang yang hatinya selalu terikat pada masjid, dua orang yang saling mencintai
karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula, seorang
lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan
tetapi ia menolaknya seraya berkata:'Aku takut kepada Allah', orang yang
bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh
tangan kanannya dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu
menitikkan airmatanya." (HR. Bukhari Muslim)

"Siapa yang memberi tangguh (utang) kepada orang yang sedang dalam kesulitan atau menghapuskan utangnya itu maka Allah akan melindunginya di dalam lindungan-Nya." "Siapa yang ingin melihat keadaan hari kiamat, hendaklah ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an surat at-Takwir, surat al-Infithar dan surat al-Insyiqaq."

Apabila manusia telah merasa lama sekali menunggu di tempat perhentian Mahsyar
dan sudah tidak tahan lagi menggung penderitaan di situ maka merekapun bermusyawarah bersama siapa yang patut didatangi agar ia bersyafaat kepada Allah SWT, supaya segera diadili dan segera dibebaskan dari penderitaan yang tidak tertahankan ini.

Mereka lalu pergi menemui nabi Adam as. tetapi beliau menolak dan menganjurkan
mereka agar pergi kepada nabi Nuh as., tetapi nabi Nuh juga menolak dan menganjurkan mereka pergi menemui nabi Ibrahim as. Tapi nabi Ibrahim juga menolak dan menganjurlan mereka pergi menghadap nabi Musa as. namun nabi Musa menyuruh mereka pergi ke Nabi Isa as. dan akhirnya nabi Isa as. menganjurkan mereka menemui nabi Muhammad saw. Maka beliaupun berkata: "Baiklah aku yang akan memintakan pertolongan bagi kamu. Akulah!"

Beliaupun menghadap Allah SWTdan berdoa agar Allah SWt berkenan memberikan izin
untuk memberi syafaat dan Allah SWT memberi pertolongan-Nya. Diriwayatkan bahwa
anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum mencapai baligh diizinkan
oleh Allah SWt untuk memberi minum kepada ibu-bapaknya saat di padang Mahsyar
nanti. Penderitaan di Mahsyar ini semakin memuncak sehingga ada diantara orang
kafir berkata: " a Tuhanku! Bebaskanlah aku dari keadaan ini meski aku dilempar
ke dalam api neraka sekalipun."

Setelah Rasulullah saw. bersyafaat maka Allah SWT memerintahkan untuk membawa
Surga yang akan ditempatkan disebelah kanan 'Arsy dan Neraka akan ditempatkan di
sebelah kiri. Sesudah itu dibawa semua mahluk untuk menghadap Allah SWT, diantara mereka ada yang tidak dihisab sama sekali, ada yang dihisab dengan ringan dan ada yang dihisab dengan teliti. Setiap orang akan menerima catatan amalan masing-masing, ada yang dari sebelah kanan dan ada yang dari sebelah kiri. Para rasul akan ditanyakan pada umatnya benarkah dia telah menyampaikan risalah-risalahnya masing-masing. Sesuai dengan firman :

"Sungguh Kami akan menanyai umat-umat yang kepada mereka telah diutus para Rasul
dan Kami akan menanyai juga rasul-rasul itu. Dan kami akan menceritakan juga
kepada mereka dengan pengetahuan (Kami), dan Kami sekali-kali tidak pernah jauh
dari mereka." (QS. 7:6-7)

"Pada hari itu ada wajah-wajah yang menjadi putih dan ada yang menjadi hitam
suram. Adapun yang hitam suram mukanya, kepada mereka akan ditanyakan:'Mengapa
kamu kafir sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa disebabkan kekafiranmu itu.'
Adapun orang yang menjadi putih wajahnya, maka mereka berada dalam rahmat Allah
dan mereka kekal di dalamnya." (QS. 3:106-107)

"Tiada seorangpun diantara kamu, melainkan ia akan diajak bicara oleh Allah
berhadapan muka, tiada penerjemah antara ia dengan-Nya, lalu ia akan melihat ke
sebelah kanannya dan tiada yang dilihatnya selain amal-amalnya sendiri; melihat
pula ke sebelah kirinya dan tiada yang dilihatnya selain amal-amalnya sendiri;
kemudian ia melihat di hadapannya maka tiada yang dilihatnya kecuali neraka yang
menyongsong wajahnya. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari neraka
walaupun dengan menyedekahkan setengah butir kurma."(HR. Bukhari, Muslim dan
Tirmidzi)

Pada saat itu lidah, tangan kaki dan kulit akan berbicara sebagaimana firman Allah SWT: "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas segala yang telah mereka lakukan." (QS. 24:24) selanjutnya: "Pada hari ini kami tutup mulut mereka; sementara tangan mereka berkata-kata kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi atas segala yang telah mereka perbuat." (QS. 36:65)

"Pada hari itu bumi akan menerangkan berita-beritanya." (QS. 99:4) Bersabda Rasulullah: "Tahukah kamu apa berita-beritanya? Yaitu bumi akan menjadi saksi atas setiap pria dan wanita tentang apa yang telah mereka kerjakan, dan berkata:'Orang itu telah melakukan begitu pada hari itu."

Telah berkata Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw pernah berkata: "Allah SWT akan
mendekatkan seorang hamba mukmin ke sisi-Nya, lalu Dia menunjukkan dosa-dosanya
satu-persatu, hingga apabila hamba itu menjadi amat takut dan merasa dirinya pasti akan binasa, Allah SWT berfirman kepadanya: 'Telah Kututupi hal itu di dunia untukmu dan kini Kuhapus dosamu itu untukmu!'" (HR Muslim)

Di antara penderitaan yang sangat berat di padang mahsyar adalah saat Allah SWT memerintahkan untuk membawa neraka kepada-Nya dan menunjukkannya kepada mahluknya. Neraka itu dibawa oleh tujuhpuluh ribu pemimpin malaikat dan setiap pemimpin membawahi tujuhpuluh ribu malaikat. Dan apabila telah dekat dengan mereka maka terdengar suara yang mengerikan, erangan kesakitan, menjerit dan melolong. Saat itu semua mahluk akan bersimpuh gemetaran. Para nabi pun cemas akan diri mereka, apalagi manusia biasa. Sehingga para rasul yang mulia itu berkata: "Ya Tuhan! Nafsi ... nafsi .... (diriku...diriku) aku tiada memohon sesuatu dari-Mu melainkan keselamatan bagi diriku!" kecuali Nabi Muhammad saw beliau memohon: "Umatku.....umatku!" (HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Diriwayatkan lagi bahwa beliau akan maju ke arah neraka seraya menghindarkannya
dari orang banyak. Dan neraka itu memang diperintahkan untuk menuruti kehendak
beliau. Sesudah itu barulah kendali neraka kembali kepada pimpinan malaikat yang
kemudian menempatkannya di sis kiri 'Arsy dengan izin Allah SWT.

Kemudian dimulailah hisab (perhitungan). Semuanay dihisab dengan adil bahkan
antara binatang dan binatang. Tersebut dalam suatu riwayat bahwa kambing yang
tidak bertanduk akan diberi kesempatan untuk membalas binatang yang bertanduk
Diriwayatkan pula juga bahwasanya Allah SWT sesudah mengadili antara binatang
yang satu dengan yang lainnya berfirman kepadanya: "Jadilah kamu tanah!" ketika
itulah orang-orang kafir akan berkata: "Aduhai! sekiranya akupun menjadi tanah
seperti itu" sebagaimana tersebut dalam sebuah ayat Al-Qur'an.

Sesudah itu ditegakkan Mizan (neraca) amal untuk menimbang semua amalan manusia.
"Kami akan mengakkan neraca yang adil pada hari kiamat, maka tiada satu jiwa
yang dirugikan sedikitpun. Dan jika ada amalan sebesar biji sawipun pasti akan
Kami berikan juga pahalanya, dan cukuplah Kami membuat perhitungan" (QS. 21:47)

"Dan neraca pada hari itu ialah kebenaran maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya niscaya mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa
ringan timbangannya niscaya mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri karena mereka selalu tidak mempercayai keterangan-keterangan Kami." (QS.
7:8-9)

Diriwayatkan bahwa malaikat akan berdiri di sisi Mizan itu dan memperhatikan
penimbangan amalan manusia. Apabila berat timbangan amalannya maka malaikat
berkata: "Lihatlah si Fulan anak si Fulan telah berat amalan timbangannya dan
dia telah mencapai derajat bahagia karenanya dia tidak akan celaka sama sekali."
Tetapi jika ringan timbangan amalannya maka malaikat berseru: "Lihatlah si Fulan
anak si Fulan itu telah ringan timbangan amalannya dan dia telah celaka dengan
tiada kebahagiaan selama-lamanya."

Setelah itu Shirath (titian) dibentangkan di atas Jahannam lalu semua manusia diperintahkan untuk melintasinya. Diriwayatkan bahwa Shirath itu lebih tajam daripada pedang dan lebih kecil dari rambut. Manusia akan melaluinya bersama dengan amalannya masing-masing. Manusia yang sempurna imannya akan dengan mudah melalui Shirath ini. Masing-masing melintasinya dengan dibawa oleh amalan-amalannya. Orang yang pertama yang melintasinya ialah para rasul dan setiap dari mereka berkata: "Ya Allah! selamatkanlah aku! selamatkanlah aku!" dan yang terlebih dahulu melintasinya adalah Nabi Muhammad saw. (HR Bukhari dan Muslim)

Sifat amanat dan silaturrahim dibawa untuk berdiri di kedua sisi Shirath di situ terdapat duri-duri licin dan tajam serta besi pengait yang akan menagkap orang-orang yang mengabaikan kedua sifat mulia itu.

Kaum mukminin kemudian akan menghampiri telaga Haudh Rasulullah saw. untuk meminum airnya. Air Haudh itu lebih putih dari susu, lebih wangi dari kesturi, dan lebih manis dari madu. Mengalir melalui dua saluran yang berasal dari telaga Kautsar. Panjang dan lebarnya sejauh perjalanan satu bulan, di sekitarnya terdapat cerek-cerek sejumlah bintang-bintang di langit, siapa yang minum sekali teguk saja, maka ia tidak akan dahaga sama sekali sesudah itu. (HR Muslim)

Umat Nabi Muhammad saw. dikenal perbedaannya dari kelompok manusia yang lain disebabkan oleh karena cahaya wajah, tangan dan kakinya yang disebabkan oleh bekas-bekas wudlu'. (HR. Bukhari, Muslim)

Setelah itu oleh Allah SWT para Nabi, shiddiqin, ulama, salihin, dan mukminin diijinkan untuk bersyafaat menurut pangkat dan kedudukannya masing-masing di mata Allah, ada yang diijinkan memberi syafaat bagi banyak orang tapi ada juga yang memberi syafaat hanya untuk seorang saja (HR. Tirmidzi).

Orang pertama yang diijinkan untuk memberi syafaat adalah nabi Muhammad saw:
"Aku adalah orang pertama yang bersyafaat dan yang pertama diberi izin untuk bersyafaat." "Aku akan terus bersyafaat, hingga aku diberi jaminan keselamatan bagi sejumlah orang yang sebelumnya akan dibawa ke neraka." (HR. Thabrani dalam Al-Autsah) "Aku akan terus-menerus bersyafaat sehingga malaikat Malik berkata kepadaku: 'Amboi! Tidak engkau sisakan sedikitpun kemurkaan Tuhanmu atas umatmu'" (HR. Thabrani dalam Al-Autsah)

Di antara syafaatnya, bahwa beliau bersyafaat untuk umatnya yang telah masuk neraka, sehingga mereka semua dikeluarkan dari sana. Suatu kaum lagi disyafaatkan agar diberi derajat yang lebih tinggi dalam surga. Dan banyak lagi syafaat-syafaat yang lain sampai memohon kepada Allah SWT: "Bolehkah aku mensyafaatkan bagi siapa saja yang mengucap laa Ilaaha Illallaah!" maka Allah SWT menjawab: "Perkara itu bukan urusanmu, tetapi demi kemuliaan-Ku dan demi keagungan-Ku, Aku tidak akan menjadikan orang yang beriman, meskipun hanya
sehari sama seperti orang yang tidak beriman kepada-Ku" (HR. Bukhari, Muslim)

Dari Abu Hurairah ra katanya: "Aku bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah orang yang paling berbahagia mendapat syafaatmu di hari kiamat?" maka menjawab beliau: "Sebahagia-bahagia manusia yang mendapat syafaatku ialah yang mengucapkan 'laa ilaaha illallaah' dari hatinya yang ikhlas." (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Zahar bin Arqam ra bahwa Rasulullah saw telah berkata:
"Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaaha illallaah' dengan penuh ikhlas dari hatinya maka ia akan masuk surga." Ditanya: "Ya Rasulullah bagaimana cara ikhlasnya...?" Jawabnya: "Sedemikian rupa sehingga mencegah ia melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah."

Dari Anas ra katanya: "Aku meminta kepada Rasulullah saw supaya beliau memberi
syafaat bagiku nanti di hari kiamat. Beliau menjawab: 'Insya Allah akan aku lakukan hal itu.' Aku bertanya lagi: 'Dimana aku akan mencarimu?' Jawab Rasulullah: 'Pertama kali, carilah aku di Shirath!' Aku berkata:'Jika aku tidak menemui engkau di Shirath?' Jawab beliau: 'Carilah aku di tempat Mizan!' Kataku lagi: 'Jika aku tidak menemui engkau di tempat Mizan?' Jawab beliau: 'Carilah aku di Haudh dan aku pasti ada di salah satu dari ketiga tempat itu.'"

Hal-hal yang sangat ketat dan berat hisabnya di hari kiamat ialah perbuatan aniaya (zalim) thd sesama, di dalam hadist dikatakan bahwa perbuatan ini ada tiga macam: Syirik (menyekutukan Allah), penganiayaan sesorang terhadap orang lain, penganiayaan manusia thd dirinya sendiri sehubungan perkara natara dirinya dan Tuhannya.

Bersabda Rasulullah saw: "Tahukah kamu siapa sebenarnya orang yang muflis (bangkrut) diantara seluruh umatku?" Dijawab: "Orang muflis itu ialah orang yang tiada memiliki uang atau benda berharga." Maka berkata Nabi:"Orang yang bangkrutnitu ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan shalat, zakat, puasa tetapi dia memaki orang ini dan menuduh orang itu, dia memakan harta si fulan, dan memukul si fulan, maka akan diambilkan pahala kebajikannya dan
diberikan pada orang yang dianiyaanya. Setelah habis semua kebajikannya dan masih ada yang belum terbayar, maka diambillah dosa-dosanya lalau dipikulkan kepadanya. Setelah selesai semua itu, dia pun dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

"Barang siapa mengambil barang saudaranya secara aniaya, maka hendaklah ia minta
kerelaan yang empunya sebelum menghadapi suatu hari yang tiada berguna dinar ataupun dirham. Tetapi yang dipandang pada hari itu ialah kebajikan dan kejahatan. Jika ia mempunyai banyak kebajikan, maka ambillah kebajikan itu, atau diambil kejahatan orang lain lalu dibebankan kepadanya, kemudian iapun dilemparkan kedalam api neraka." (Hadist)

Bersabda Rasulullah saw:
"Ketika Allah SWT menciptakan surga, dikirmkan-Nya malaikat Jibril seraya berkata: 'Pandanglah surga itu serta apa yang telah Kusediakan di dalamnya untuk para penghuninya?! Maka Jibril pun pergi ke surga seraya memperhatikan keadaan di sana dan semua perhiasan yang disediakan untuk penghuninya. Kemudian Jibril bergegas menemui Allah SWT seraya berkata: 'Demi kemuliaan-Mu tiada seorang pun yang mendengar tentang surga, melainkan ia ingin memasukinya.' Lalu Ia memerintahkan agar surga dikelilingi dengan berbagai kesulitan, dan berfirman kepada Jibril: 'Kini pergilah kesurga dan perhatikanlah apa yang telah kusediakan untuk para penghuninya!' maka Jibril pergi sekali lagi dan didapatinya surga telah dikeleilingi dengan berbagai kesulitan, lalu ia kembali lagi kepada Allah dan berkata: 'Demi kemuliaan-Mu kini aku khawatir tiada seorangpun yang dapat memasukinya.' kemudian Allah berkata kepada Jibril: 'Sekarang pergilah ke neraka dan perhatikanlah apa yang Aku sediakan bagi para
penghuninya!' maka didapatinya berbagai azabnya bercampur aduk yang satu menimpa
yang lain, lalu Jibril bergegas menemui Allah seraya berkata: 'Demi kemuliaan-Mu
tiada seorangpun yang mendengarnya mau memasukinya.' Maka diperintahkan agar dia
dikelilingi dengan berbagi kenikmatan hawa nafsu. Kemudian Allah berkata kepada
Jibril: 'Kini pergilah ke neraka itu.' Maka kembalilah Jibril seraya berkata:'Demi kemuliaan-Mu kini aku khawatir bahwasannya tiada seorangpun yang dapat selamat dari neraka itu.' (HR. Tirmidzi)

'Akan didatangkan seorang yang paling mewah hidupnya di dunia pada hari kiamat,
sedang ia termasuk penghuni neraka lalu dimasukkan jarinya di dalam api neraka
dan dikatakan kepadanya: 'Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat sesuatu yang
baik sebelum ini? Pernahkah merasakan suatu kenikmatan sebelum ini?' Maka
jawabnya dengan pedih: 'Tidak demi Allah wahai Tuhanku!' Kemudian didatangkan
seorang yang paling menderita di dunia sedang ia termasuk penghuni surga, lalu
dimasukkan jarinya di dalam surga dan dikatakan kepadanya: 'Wahai anak Adam
pernahkah engkau melihat penderitaan sebelum ini? Pernahkah engkau merasakan
kesusahan?' Maka jawabnya dengan gembira: "Demi Allah tidak pernah aku menderita
kesusahan atau penderitaan sebelum ini." (Hadist)

Diriwayatkan dari Aisyah ra ketika ia menangis saat teringat akan neraka, maka berkata Rasulullah saw: 'Apa yang menyebabkan engkau menangis?' jawab Aisyah:
'Aku teringat akan api neraka, lalu aku menangis. Adakah engkau ingat keluargamu pada hari kiamat?' Jawab beliau: 'Tiada seorangpun akan mengingat orang lain pada tiga tempat:
1.. Ketika dihadapkan pada Mizan sampai ia mengetahui timbangan amalannya
2.. Pada saat menerima kitab catatan amalnya
3.. Pada saat melintasi Shirath, ketika berada di atas Jahannam
(HR. Abu Daud dari Hasan Basri)

'Ahli surga adalah seratus duapuluh kelompok, delapanpuluh dari umat ini dan empat puluh dari umat-umat lain.' (HR. Tirmidzi) 'Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti surga, orang yang menginginkannya selalu lalai, dan tidak pula seperti neraka yang seharusnya takut kepadanya sering tidur (melupakannya).' (HR. Tirmidzi)

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami nanti akan Kami
masukkan ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka hangus akan Kami ganti dengan
kulit yang lain, supaya mereka merasakan siksaan. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 4:56)

"Dan orang-orang kafir, untuk mereka disediakan neraka Jahannam, tiada
diputuskan perkara mereka hingga mereka mati, dan tidak pula diringankan dari
mereka siksaannya. Begitulah Kami memberi balasan pada setiap orang yang sangat
kafir. Didalamnya mereka berteriak (memohon pertolongan): 'Wahai Tuhan Kami!
Keluarkanlah kami, niscaya kami mengerjakan perbuatan saleh berlainan dari apa
yang telah kami kerjakan dulu.' (Tidak!)Kami telah memberi umur yang cukup untuk
berpikir sehingga jika ada orang yang mau berpikir niscaya ia dapat mengambil
peringatan, dan telah datang juga orang yang membawa peringatan kepada kamu..."
(QS. 35:36-37)

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa itu akan kekal di dalam neraka Jahannam.
Tidak akan diringankan azab (hukuman) dari mereka dan mereka di dalamnya
berputus asa. Kami tidak menganiaya mereka, tapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. Mereka menyeru:'Hai Malik! Biarlah Tuhanmu mengakhiri hidup kami
saja!' Malik menjawab: 'Kamu akan tetap tinggal di sini!'" (QS. 43:74-77)

Rasulullah saw bersabda:
"Api kamu ini hanyalah satu bagian dari tujuhpuluh bagian api di neraka Jahannam." Para sahabat mengatakan: "Yang inipun sudah cukup (beratnya)" Berkata Nabi: "Bahkan api neraka itu melebihi sebanyak enampuluh sembilan kali lipat panasnya dari api dunia."

"Api neraka Jahannam telah dinyalakan seribu tahun sehingga menjadi merah.
Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi putih. Kemudian dibakar
lagi selama seribu tahun hingga menjadi hitam legam, seperti malam yang gelap
gulita" (HR. Tirmidzi)

"Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah orang yang
diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah
otaknya karena panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia
mengira tiada seorangpun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal
dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Ada di antara mereka yang dimakan api sampai ke mata kakinya, ada yang dimakan
sampai pinggangnya dan ada pula yang dimakan sampai ke tenggorokannya." "Wahai
manusia sekalian, menangislah! Jika tidak dapat menangis, maka paksakan dirimu
untuk menangis! karena sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis hingga
air matanya mengalir di pipi masing-masing, seperti air yang mengalir di sungai.
Sampai air mata itu habis dan matanyapun pecah-pecah. Seandainya ada perahu yang
diletakkan di situ niscaya berlayarlah dia." (HR. Ibnu Majah)

"Ditimpakan atas penghuni nerak kelaparan, seberat azab yang sedang mereka
alami. Lalu mereka minta agar diberi makanan, maka merekapun diberi makanan
duri-duri layu yang tiada berguna dan tidak sedikitpun melepaskan mereka dari
kelaparan itu. Mereka meminta lagi, maka mereka diberi pula makanan yang
mencekikkan. Lalu mereka teringat bahwa mereka dahulu meneguk minuman untuk
melancarkan kerongkongan di dunia, dan merekapun meminta minuman itu. Maka
mereka diberi minuman neraka yang mendidih dengan pengait-pengait besi. Apabila
didekatkan kemuka-muka mereka, maka hanguslah muka itu, dan apabila masuk
kedalam perut-perut mereka, maka terkoyak-koyaklah perut mereka. Kemudian mereka
memanggil-manggil para penjaga neraka Jahannam, dan merekapun ditanya oleh
penjaga-penjaga itu:'Apakah tidak pernah datang rasul-rasul yang membawa
keterangan kepada kamu?' Mereka menjawab: 'Bahkan ada!' Penjaga-penjaga neraka
berkata pula:'Kini berdo'alah! Dan tiadalah do'a orang-orang yang kafir itu
melainkan sia-sia belaka!" (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan bahwa di dalam neraka itu terdapat ular-ular yang bertengkuk tinggi
seperti unta Khurasan dan kalajengking-kalajengking sebesar keledai. Dengan
sekali sengat saja, bisanya yang menyakitkan tidak akan hilang selama empatpuluh
tahun. Apabila dicurahkan satu ember air busuk dari neraka ke atas dunia,
niscaya ia akan membusukkan seluruh penghuni dunia. Kalau satu tetes air buah
Zaqqum jatuh ke dunia, niscaya ia akan merusakkan makanan manusia di dunia
secara keseluruhan. Jika seorang penghuni neraka turun ke dunia, niscaya seluruh
penghuni dunia akan mati karena tidak tahan mencium bau busuknya dan menyaksikan
buruk rupanya. (HR. Tirmidzi) Neraka

Pintu-pintu neraka itu terdiri dari tujuh pintu sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur'an: "Neraka itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu daripadanya adalah
bagian yang sudah ditentukan" (QS. 15:44) Neraka terdiri dari tujuh lapisan yang
satu dibawah yang lain:
1.. Jahannam
2.. Saqar
3.. Ladza
4.. Huthamah
5.. Sa'iir
6.. Hawiyah, neraka yang tidak berdasar dan berujung
semakin ke bawah neraka tersebut diatas semakin berat siksaan dan lebih dahsyat
azab yang ada di dalamnya.
Sedangkan penghuni neraka terdiri dari dua bagian:

1.. Mereka yang termasuk ahli tauhid yang berdosa. Orang-orang ini tidak kekal didalamnya tetapi mereka akan dikeluarkan dari neraka dengan syafaat Nabi saw , diriwayatkan bahwa orang yang paling akhir keluar daripadanya ialah mereka yang tinggal selama tujuhribu tahun.

2.. Orang-orang yang kafir kepada Allah, dan orang-orang musyrikin serta kaum munafiqin yang berpura-pura beriman dengan lidahnya, tetapi menyembunyikan kekafiran di dalam hati.
Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang kafir dan meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka mereka akan mendapat kutukan dari Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam neraka; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak pula diperhatikan" (QS. 2:161-162) "...Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah dalam neraka. dan orang-orang yang zalim tidak akan mempunyai penolong" (QS. 5:72) Diriwayatkan bahwa gigi orang kafir di dalam neraka itu sebesar gunung Uhud, tebal kulitnya empatpuluh dua hasta dan ia akan menyeret lidahnya sampai satu atau dua farsakh, semua orang yang lalu di situ akan menginjak lidah
itu. Allah SWT membesarkan tubuh orang-orang kafir itu didalam neraka supaya
bertambah siksaan, penderitaan dan hukuman bagi mereka (HR. Muslim) Surga

"Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman serta mengerjakan
perbuatan baik, bahwasannya bagi mereka (disediakan) surga yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya. Setiap mereka diberi bermacam-macam buah-buahan di
dalam surga itu sebagai rezeki, mereka mengatakan: 'Inilah yang pernah kita
terima dahulu!' Mereka diberi buah-buahan serupa dan untuk mereka di dalam surga
itu pasangan-pasangan yang suci bersih dan mereka kekal di dalamnya." (QS. 2:25)

Banyak sekali surat yang menjelaskan tentang kehidupan di surga beberapa
diantaranya adalah: Surat 39:73-75 ; Waqi'ah:10-40 ; Ad-Dahr:5-22 ; Az-Zukhruf:70-73 ; Ad-Dukhan:51-57 ; Muhammad:15; Fathir:33-35; Qaf:31-35 ; Al-Qamar:54-55

Rasulullah saw bersabda: "Allah SWT berfirman: 'Aku sediakan untuk hamba-hambaku
yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata atau didengar oleh telinga dan tidak pula pernah terlintas di hati siapapun'. Kalau kalian ingin, bacalah (QS. 32:17) 'Seorangpun tiada mengetahui kenikmatan penyedap mata yang disembunyikan untuk mereka, sebagai balasanatas apa yang telah mereka kerjakan."(Hadist Qudsi)

"Dua surga, bejana-bejana di dalamnya terbuat dari perak dan dua surga lagi, bejana-bejana di dalamnya terbuat dari emas. Ketika itu tiada tabir apapun antara penghuni-penghuni surga 'Adn dengan Tuhan mereka selain 'pakaian' kebesaran Allah di wajah-Nya" (HR. Bukhari, Muslim)

"Di surga ada seratus tingkatan antara satu tingkatan dengan yang lain sama seperti antara langit dan bumi. Surga Firdauslah yang paling tinggi, dan daripadanyalah terpancar keempat sungai dalam surga, dan diatasnya pula terletak 'Arsy Tuhan yang mulia. karena itu jika kamu memohon kepada Allah, mintalah surga Firdaus." (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Dalam suatu peristiwa, pernah Rasulullah saw. ditanya: "Apakah Kautsar itu ..?"
Beliau menjawab: "Itulah sungai di surga yang dikaruniakan Allah kepadaku, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dikelilingi oleh burung-burung yang bertengkuk seperti onta." Berkata Umar: "Sungguh ini suatu kemewahan" Jawab Rasulullah saw:"Orang yang meneguknya merasakan kemewahan lebih dari itu." (HR. Tirmidzi)

Berkata Rasulullah saw:"Aku telah bertemu dengan Ibrahim as. pada malam Isra'
maka beliau berkata: 'Wahai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada umatmu dan
beritahukan kepada mereka, bahwa surga itu tanahnya subur, airnya tawar dan
buminya rata, sedang tanamannya ialah 'Subhanallah Walhamdu-Lillah Walaa Ilaaha
Illallah Wallahu Akbar' Lanjut beliau: "Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat
beberapa kamar, dapat dilihat luarnya dari dalam dan dapat dilihat dalamnya dari
luar" maka seorang badwi bangkit bertanya: "Untuk siapakah itu ya Rasulullah?"
Jawab beliau : "Untuk orang yang berbicara dengan baik, memberi makan kepada
yang membutuhkan, sering berpuasa dan bangun malan untuk bersembahyang di waktu
manusia sedang tidur nyenyak." (HR. Abu Nu'aim)

Bersabda Rasulullah saw: "Apabila penghuni-penghuni surga telah memasuki surga
berkatalah Allah Tabaraka Wa Ta'ala: 'Inginkah aku tambahkan lagi sesuatu yang
lain bagimu?' Mereka menjawab: 'Bukankah telah Engkau masukkan kami kedalam
surga dan telah Engkau selamatkan kami dari api neraka?' Pada saat itu hijab
(tabir penutup) pun terangkat, maka tiada suatu yang lebih utama daripada nikmat
melihat wajah Tuhan mereka Azza Wa Jalla" (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Abu Hurairah ra. berkata: "Wahai Rasulullah! Apakah kami akan melihat Tuhan
kami? jawab beliau:"Ya. Apakah kamu masih ragu tentang penglihatan terhadap
matahari dan bulan?" Kami sekalian menjawab: "Tidak!" kata beliau seterusnya:
"Demikianlah kamu tidak akan ragu lagi tentang penglihatan terhadap Tuhan kamu.
Di Majlis itu kelak tiada seorangpun berada di sana, melainkan Allah akan
berkata kepada mereka : 'Wahai Fulan bin Fulan!' Ingatkah kau di hari itu, kau
berkata begini dan begini, lalu Dia mengingatkan orang itu sebagian kesalahannya
di dunia dahulu. Maka orang itu akan berkata: 'Tidakkah Engkau mengampuniku?'
berkata Allah: 'Tentu! kalau tidak karena keluasan ampunan-Ku, niscaya kau tidak
akan mencapai kedudukan ini.' Sedang mereka dalam keadaan begitu, beraraklah
awan di atas kepala mereka sekalian, tiada pernah mereka hirup bau-bauan seperti
itusebelumnya. maka Allah berkata: 'Bangkitlah dan pergilah melihat anugerah
besar apa yang telah Aku sediakan untuk kamu, ambillah apa saja yang kamu
ingini!' Mereka bangkit mendapatkan suatu pasar yang telah dikelilingi oleh para
malaikat, tidak pernah mata mereka melihat, tidak pernah telinga mereka
mendengar dan tidak pernah terlintas sesuatu seperti itu di dalam hati mereka.
Mereka lalu berebut mengambil apa saja yang mereka ingini, tanpa dijual atau
dibeli. Disitulah ahli-ahli surga akan bertemu satu sama lain. Orang yang
mendapat kedudukan tinggi di surga akan menemui orang-ornag yang dibawahnya.
Orang yang ditemui itu ada kalanya akan terharu melihat pakaian teman yang
datang menemuinya. Belum sempat habis berbicara dengannya, tiba-tiba pakaian
yang diatas tubuhnya itu ditukar dengan pakaian lain yang lebih cantik dan lebih
menarik lagi. hal ini terjadi supaya tiada seorangpun yang berduka cita di dalam
surga." (HR. Tirmidzi)

"Katakanlah: Wahai hambaku-hamba-Ku yang telah melampaui batas dalam perbuatan
dosa dan menganiaya dirinya sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, dan sesungguhnya Dia adalah maha Pengampun lagi maha Penyayang." (QS. 39:53)

"Telah diturunkan oleh Allah SWT, satu bagian dari seratus bagian rahmat-Nyadan
disebarkan-Nya di antara manusia, jin, burung, binatang-binatang, ulat-ulat
sekalian mahluk-Nya yang dengannya mereka saling meminta dan berkasih sayang.
Dan sembilanpuluh sembilan rahmat yang lain disimpan-Nya untuk dirahmatkan bagi
semua hambanya di hari kiamat." (HR. Muslim)

Diriwayatkan bila datang hari kiamat, Allah akan mengeluarkan sebuah kitab dari
bawah 'Arsy tertera di dalamnya: "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku
dan Aku adalah Yang paling Pengasih dari sekalian pengasih," lalu dikeluarkan
dari neraka sebanyak bilangan ahli surga. (HR. Bukhari, Muslim)

"Sebenarnya Allah SWT lebih menyayangi hamban-Nya yang mukmin daripada sayangnya
seorang ibu kepada anaknya." (HR. Bukhari, Muslim)

"Siapa yang bersaksi bahwa 'tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasannya Muhammad
adalah pesuruh Allah', maka jasadnya akan diharamkan oleh Allah dari api neraka." (HR. Muslim)

"Suatu suara akan menyeru dari bawah 'Arsy di hari kiamat: "Wahai umat Muhammad,
semua kesalahanmu terhadap-Ku telah Aku ampuni, yang tinggal kini hanyalah
kesalahan-kesalahan diantara kamu, maka bermaaf-maafkanlah kamu, dan masuklah
kamu semua ke dalam surga dengan rahmatKu." (HR. Abu Nu'aim)

" ...Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu ..." (QS. 7:156) 


 Sumber     :http://sufiroad.blogspot.com/2011/11/sufi-road-renungan-tentang-umur-manusia.html

Rintihan Hati

Ada orang menyangka ibadah itu sekadar rukuk dan sujud di tikar sembahyang. Atau mengalunkan ayat-ayat Al Quran dengan penuh khusyuk dan tawadhuk. Atau menggentel biji tasbih dengan berzikir dan bertahmid.
Atau sekadar membahagi-bahagikan harta kepada fakir miskin.

Ibadah itu luas pengertiannya. Seluas lautan yang tak bertepi. Ibadah tidak terbatas pada sembahyang sunat berpuluh-puluh rakaat. Ia tidak terbatas pada puasa sunat seperti puasa Nabi Daud; sehari berpuasa sehari berbuka. Pun tidak dikhususkan kepada membayar zakat, menunaikan haji dan sebagainya.

Ibadah adalah pengabdian diri kepada Allah. Dan antara bentuk pengabdian diri yang tidak ketara dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ialah ingatan hati dan rintihan hati kepada Allah. Ia merupakan ibadah yang besar nilainya di sisi Allah. Mudah tetapi tidak ramai yang mampu melakukannya.Mengingati Allah dikira ibadah kerana ia menandakan seorang hamba itu benar-benar berhati hamba. Hamba yang tak punya apa-apa. Yang sewaktu datang ke dunia, tak membawa walau seurat benang di tubuh. Justeru hati sentiasa ingat kepada Yang Maha Pencipta, sentiasa mengharap bantuan-Nya dan sentiasa bergantung kepadaNya. MengingatiNya menimbulkan rasa syukur atas segala nikmat kurniaanNya.

Namun berapa kerat di antara kita yang ingat akan Allah. Ramai yang lalai dan lupa. Dalam sembahyang, fikiran menerawang entah ke mana. Apatah lagi di luar sembahyang. Renungilah sabda kekasihNya dalam sebuah hadis Qudsi yang bermaksud:

“Wahai anak Adam! Jika engkau ingat kepadaKu, Aku juga tetap ingat kepadamu. Dan jika engkau lupa kepadaKu, Aku masih ingat terus kepadamu. Apabila engkau taat kepadaKu, maka pergilah ke mana saja yang engkau suka, di tempat engkau mematuhiKu dan Aku
mematuhimu, dan engkau mengikhlaskan kecintaanKu kepadamu, kemudian engkau memalingkan diri daripadaKu, sedang Aku tetap mengambil berat terhadapmu. Siapakah
yang memberimu makan sewaktu engkau masih janin di dalam perut ibumu. Aku tetap menguruskan segala keperluanmu dengan baik, sehingga terlaksana semua
takdirKu terhadapmu. Apabila Aku lahirkan engkau ke alam dunia, engkau lalu membuat maksiat. Bukan begini sewajarnya balasanmu terhadap siapa yang berbuat baik
kepadamu.”

Memang wajar kita mengingati Allah yang telah banyak memberi nikmat kepada kita. Allah yang sentiasa ingat akan kita. Yang terus saja memerhatikan kita. Yang terus mengasihani kita. Yang terus memberi rezeki kepada kita walaupun Dia seringkali diderhakai.

Dengan apa patut kita balas nikmat Allah yang terlalu banyak itu. Ibarat orang yang sedang bercinta, cukuplah asal dikenang atau diingati orang yang dicintai. Begitu juga dengan Allah. Ingatlah Dia kemana kita pergi. Ingat akan Allah bukan semestinya di tikar sembahyang saja. Biar tubuh bersama manusia tetapi hati bersama Allah. Agar setiap detik kita sentiasa dalam ibadah. Rasulullah bersabda yang maksudnya:

berfikir sesaat itu lebih baik daripada sembahyang sunat seribu rakaat (yang tidak khusyuk).

Demikian keutamaan bagi orang yang sentiasa berfikir tentang kebesaran Allah. Akal yang berfikir akan meruntun hati agar sentiasa ingat kepada Allah.
Apabila hati selalu mengingatiNya, terasa betapa hampirnya Allah dengan kita. Hati akan selalu
bermunajat dengan Allah; menginsafi kelemahan diri, lantas mengharap belas kasihan Allah kepada kita yang terlalu banyak berbuat dosa. Hati merintih dan mengharap rahmat Allah yang maha luas itu. Datanglah perasaan betapa hinanya diri yang berasal dari setitik
air mani. Tanpa rahmatnya tinggallah kita dalam kehinaan selama-lamanya.

Rintihan hati inilah tanda kita hamba yang tak punya kuasa apa-apa untuk menghalang kudrat dan iradahNya. Tak berupaya menepis Qadak dan QadarNya. Hanya belas kasihan Allah yang diharapkan dapat menjauhkan diri daripada segala bala bencana. Hati yang tidak pernah
ingat, apalagi merintih kepada Allah, adalah hati seorang tuan.

Adakalanya segaja Allah timpakan ujian yang berat ke atas hambaNya. Ketika itu hati si hamba akan merintih walaupun bibir boleh mengukir senyum. Kadang-kadang ujian datang silih berganti; seolah-olah Allah tidak mendengar rintihan hati hambaNya.

Sebenarnya, Allah rindu untuk mendengar rintihan hati si hamba. Tanpa ujian, hati tidak ingat Allah dan ia berasa tenteram, hingga hilanglah rasa kehambaan daripada dalam diri. Lalu kerana itu, Allah datangkan ujian silih berganti agar rintihan hati si hamba tidak terputus kepada Tuhannya.

Hukama berkata: “Allah lebih suka mendengar rintihan hamba yang berdosa (termasuk rintihan hati) daripadaseorang abid yang duduk beribadah.”

Demikian tingginya nilai rintihan hati seorang hamba dibandingkan dengan ibadah lahir. Ibadah lahir belum tentu melahirkan rasa kehambaan, kerana boleh jadi seorang yang beribadah itu berasa selamat denganibadahnya.

Ingatan hati dan rintihan hati seorang insan terhadap Tuhannya datang daripada rasa kehambaan yang tulen. Rasa kehambaan inilah tanda seorang insan telah
mendapat nikmat iman yang tinggi nilainya. Tiada sesuatu yang lebih berharga daripada nikmat iman. Beruntunglah mereka yang dianugerahi nikmat ini. hanya hamba-hambaNya yang terpilih saja yang akan dikurniairasa kehambaan.

Seorang hamba yang hatinya sentiasa ingat dan merintih kepada Allah tidak bangga dengan nikmat, tidak gelisah dengan bala, tidak rasa tenang dengan pujian, dan tidak menderita dengan kejian. Hati sentiasa merasa serba kekurangan dan amat memerlukan Allah dalam semua keadaan. Inilah yang dikatakan hati yang hidup, yang sentiasa dalam beribadah. Apatah lagi jika ditambah dengan banyaknya ibadah lahir seperti sembahyang, puasa, sedekah dan sebagainya; makin tinggilah darjatsi hamba di sisi Khaliqnya.


 Sumber : http://sufiroad.blogspot.com/2011/11/sufi-road-rintihan-hati.html

Kamis, 10 November 2011

BAB III. BERDIALOG DENGAN ALLAH

Sering kita mendengar pendapat, bahwa pada saat shalat sesungguhnya kita sedang berjumpa dengan Allah. Rasulullah saw pun bersabda : Ash shalaatu mi'rajul mu'miniin. Bahwa, shalat itu adalah mi'rajnya orang-orang yang beriman. Shalat diumpamakan sebagaimana halnya Nabi mi'raj. Seorang hamba diperjalankan untuk datang, mendekat, menemui Tuhannya. Dalam mi'raj itu, Nabi berdialog dengan Allah dan menerima perintah shalat. Konon, salah satu bagian dari dialog itu diabadikan dalam bacaan tahiyyad awal.

Setelah membaca Lauhil mahfuz ditempat alam tertinggi berdiri Arasy Allah, maka berkatalah Muhammad : "Attahiyyatu lillaah, wa shalawaatu thayiibaat” (Seluruh penghormatan hanya untuk ya Allah, begitu juga seluruh keselamatan dan kebaikan). Allah menjawab: "Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh" (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkat Nya.). Nabi menjawab: "Assalamu'alaina wa alaa ibaadilllahis shalihin" (Limpahkanlah kesejahteraan bagi kami, juga kepada hamba Allah yang saleh). Dengan takjub malaikat ramai-ramai menunjuk dan berkata: "Asyhadu alaa ilaaha ilallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah".

Suatu dialog yang penuh kesantunan dan kasih sayang antara seorang hamba dengan penciptanya.

Allah menjawab setiap pujian dan doa

Shalat secara bahasa berarti do’a. Doa pada hakikatnya merupakan bentuk dialog antara manusia dengan Allah Swt. Ketika seseorang shalat, hakekatnya ia sedang bertemu dan berdialog dengan Allah Swt.. Oleh karena itu secara hakiki fungsi shalat dan mi’raj sama yaitu bertemu dan berdialog dengan Allah Swt.

Ketika kita bertakbir dan memuji Allah, sesungguhnya Allah menjawab pujian itu. Ketika kita membawa surat Al Fatihah, sesungguhnya Allah meresponnya, sebagaimana dinyatakan dalam satu hadits qudsi dari hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat no. (38) (395) dari Abu Hurairah R.A, bahwa :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Apabila ia membaca: ‘Segala puji bagi Allah’. Maka Allah menjawab : ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Apabila ia membaca : ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’. Maka Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku’. Apabila ia membaca : ‘Penguasa hari pembalasan’. Maka Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku’. Apabila ia membaca: ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’. Maka Allah menjawab : ‘Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku’. Apabila ia membaca : ‘Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus’. Maka Allah menjawab : ‘Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta.’”

Demikian pula ketika kita berdoa saat duduk diantara dua sujud. Secara khusus kita bersimpuh dihadapan Allah untuk menyampaikan 8 permohonan kepadanya.

Rabbighfirlii (ampuni aku)
Warhamnii (sayangi aku)
Wajburnii (tutupi aib-aibku)
Warfa’nii (angkat derajatku)
Warzuqnii (beri aku rizki)
Wahdinii (beri aku petunjuk)
Wa’afinii (sehatkan aku)
Wa’fuani (maafkan aku).

Ketika itu, sesungguhnya kita sedang berdialog dengan Allah. Dari setiap apa yang kita minta, sesungguhnya Allah memberikan jawaban atas permohonan atau doa kita tersebut, sebagaimana firman Nya :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah [2] : 186)

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al Mu'min [40] : 60).

Yang menjadi permasalahan dan pertanyaan adalah apakah kita pernah merasakan jawaban atau respon Allah tersebut? Hampir kita tidak pernah merasakannya, sehingga kadang muncul sangkaan, bahwa Allah tidak mendengar doa kita, bahkan mungkin merasa doa kita tidak sampai ke Allah. Ada juga yang berpendapat, bahwa hanya doa orang-orang yang suci hatinya,setingkat nabi atau minimal wali, yang didengar oleh Allah. Padahal kita semua tahu, bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Dekat dan Maha Pengabul Doa, tapi seberapakah percayanya kita?

Komunikasi dua arah

Sebenarnya kalau kita perhatikan, permasalahannya bukan kepada apakah Allah menjawab doa ataupun menyambut dialog kita ketika sedang shalat, tetapi lebih kepada sikap kita dalam berkomunikasi.

Dalam sebuah dialog, maka akan terjadi komunikasi timbal balik. Ketika si A berkata, seyogyanya si B mendengarkan. Setelah selesai, maka si B akan menjawab atau memberikan tanggapan dan si A ganti yang mendengarkan dengan seksama jawaban si B. Jika satu pihak hanya asyik berbicara sendiri tanpa mempedulikan lawan bicaranya, maka akan terjadi dialog yang timpang. Pihak yang asyik berbicara sendiri tidak akan mendapat jawaban pertanyaannya, solusi atas permasalahan yang diutarakan ataupun respek dari lawan bicaranya.

Hal ini seringkali terjadi dalam shalat dan doa kita. Ketika kita shalat atau berdoa, kita asyik membaca bacaan shalat atau bacaan doa yang telah kita hafal. Sering kali bacaan shalat atau doa dilafadzkan dengan cepat tanpa kita sadari maknanya. Seolah-olah bacaan shalat yang terdiri dari pujian dan permohonan itu adalah mantra atau aba-aba saja.

Ketika kita berdoa saat duduk diantara dua sujud, kita mengucapkannya dengan cepat:

Rabbighfirlii, warhamnii, wajburni, warfa’ni, warzuqnii, wahdinii, wa’afinii, wa’fuani.

Delapan permohonan kita sampaikan tanpa jeda. Lalu tanpa basa-basi kita langsung sujud. Seolah-olah kita tidak butuh dengan apa yang kita mohonkan.

Andaikan bacaan itu kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, lalu kita sampaikan permintaan yang kira-kita sama bentuknya kepada Presiden RI, tentu akan lain ceritanya.

Pak Presiden, ampuni kesalahan saya…. (sambil melihat ekspresi wajahnya dengan harap-harap cemas, mudah-mudahan Beliau tidak marah dan tersenyum).
Sayangi rakyatmu ini …… (sambil membungkuk mengharapkan Presiden membelai kepala dan pundak kita)

Mohon jangan diumumkan kekhalayak ramai keburukan saya (sambil kita memasang muka yang memelas)
Mohon Paduka naikkan pangkat dan jabatan saya (sambil kita menggenggam erat tangan Presiden)

Mohon Paduka juga menaikkan gaji saya agar dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga dan ada sedikit sisa untuk simpanan (ekspresi muka dibuat semakin memelas)

Mohon petunjuk Pak Presiden untuk menyelesaikan urusan kami (sambil tersenyum simpatik berusaha meyakinkan)

Mohon bantuan obat-obatan dan biaya rumah sakit agar kami dapat mengobati penyakit-penyakit kami (sambil menujukkan bagian tubuh kita yang sakit dan bekas luka)

Maafkan kami Paduka (lalu beringsut mengundurkan diri dengan penuh sopan santun lalu).

Coba bandingkan dengan sikap kita ketika berdoa. Betapa seringkali kita menyepelekan Allah. Mentang-mentang Allah tidak kelihatan, kita suka bersikap seenaknya. Dalam kondisi ini pun sebenarnya Allah selalu merespon pujian dan permohonan kita, karena Dia Maha Dekat, Maha Pemaaf, Maha Tahu, Maha Cepat dan selalu menepati janji Nya.

Sebenarnya dengan sikap yang tidak patut itu, kita sendiri yang rugi. Kita tidak mampu lagi menangkap jawaban Allah atas doa kita, karena kita terlalu sibuk dan terburu-buru ketika menyampaikan permintaan. Lalu setelah menyampaikannya, kita langsung saja meninggalkan Allah. Kita tidak peduli ketika Allah memberikan jawaban Nya. Kita banyak meminta, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menerima apa yang kita minta.

Bagaimana cara kita berdoa dijelaskan secara singkat di dalam Al Qur’an.

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’raaf [7]:55-56)

Dalam berdoa kita harus merendahkan hati dan santun dalam menyampaikan. Kita perlu menyadari, bahwa hanya Allah-lah yang bisa mengabulkan doa kita.

Jangan berfikir jawaban Allah akan berupa kata-kata seperti halnya kita berbicara dengan sesama manusia. Jawaban Allah bukanlah berupa kata, suara ataupun tulisan. Misalnya, kita mengalami kesulitan keuangan. Jika kita memohon rejeki kepada Allah, tidak serta merta lalu ada sejumlah uang disebelah kita atau ada orang yang datang memberikan sejumlah uang atau muncul gambaran yang menyatakan dimana ada harta karun. Yang umum terjadi adalah beban di dada dan kekalutan di pikiran yang timbul akibat kesulitan keuangan tersebut diangkat terlebih dulu oleh Allah. Sesaat setelah selesai kita berdoa, kita tetap tidak punya uang, tetapi hati kita terasa lapang. Beban masalah seolah-olah hilang begitu saja.

Dengan pikiran yang jernih, ilham akan lebih mudah diterima. Hati yang lapang membuat wajah bersinar, menyenangkan orang yang memandangkan. Selanjutnya secara bertahap dan pasti, rejeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. “Tangan-tangan” Allah bergerak sedemikian halus sehingga ketika masalah tersebut telah dapat diatasi, kita sering lupa bahwa kita pernah berdoa kepada Allah untuk itu.

LATIHAN 7

Duduklah seperti duduk diantara dua sujud (duduk i’tiraj).
Leremkan tubuh dan tundukkan hati dan pikiran.

Dengan rendah hati, sampaikanlah permohonan ampun kepada Allah :
Rabbighfirlii (ampuni aku).
Diam sejenak. Buka dada dan diri Anda untuk menerima ampunan Allah
seperti Anda membuka diri ketika merasakan hembusan angin sepoi-sepoi atau menerima curahan air hujan ketika masih kecil.
Jika Anda tidak merasakan sesuatu di dada Anda tidak mengapa, mungkin Anda kurang sensitif, tapi tetaplah membuka diri Anda untuk menerima ampunan Allah.
Ulangi permintaan beberapa kali sampai Anda merasa tenang.
Berikutnya sampaikanlah permintaan kedua :

Warhamnii (sayangi aku)
Diam dan tundukkanlah diri Anda untuk menerima kasih sayang
Allah yang tak terkira besarnya. Bukalah dada Anda seluas-luasnya agar
semakin banyak kasih sayang Allah yang Anda terima.
Ulangi beberapa kali sampai Anda merasa cukup.
Berturut-turut sampaikanlah permintaan-permintaan berikut dengan cara sebagaimana tersebut di atas, satu per satu:

Wajburnii (tutupi aib-aibku)
Warfa’nii (angkat derajatku)
Warzuqnii (beri aku rizki)
Wahdinii (beri aku petunjuk)
Wa’afinii (sehatkan aku)
Wa’fuani (maafkan aku).

Setelah selesai, diamlah sejenak lalu sampaikan rasa syukur kita.

STOP

Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas

Mudah-mudahan Anda dapat merasakan respon dari Allah atas permohonan yang disampaikan di atas. Jika tidak, bukan berarti Allah tidak menjawab doa kita, tetapi kita yang tidak dapat menangkap respon Nya.

 sumber   : e-book shalat khusyuk itu mudah " MardiBros " (www.shalatcenter.com )

BAB II. TUNDUK DALAM KEPASRAHAN

Masih ingatkah pelajaran rukun shalat yang pernah kita terima ketika kita masih duduk di bangku SD, SMP atau SMA?. Secara ringkas, rukun shalat adalah sebagai berikut :


1.Niat
2. Takbir
3. Berdiri
4. Membaca Al Fatihah
5. Rukuk
6. Itidal
7. Sujud
8. Duduk diantara dua sujud
9. Tahiyyad akhir
10. Salam

Beberapa mahzab ada yang menambahkan rukun shalat dengan tu'maninah, tertib dan berurutan, serta sedikit variasi di dalam detail masing-masing rukunnya.

#Evaluasi pelaksanaan rukun shalat#

Saya tidak akan membahas secara detail masalah rukun shalat disini. Rasanya sudah sangat sering dibahas dan sangat banyak buku-buku yang menulis tentangnya. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat kembali apakah rukun shalat tersebut sudah dilakukan dengan benar?

Pada bab sebelumnya kita sudah membahas masalah niat. Sekarang mari kita lihat rukun yang lainnya lagi.

Coba kita perhatikan rukun shalat di atas. Bacaan apa saja yang dimasukkan ke dalam rukun shalat? Jawabannya adalah Al Fatihah dan tahiyyad akhir (shalawat). Dapat juga ditambahkan dengan takbir dan salam yang juga harus diucapkan. Bacaan lainnya adalah sunnah. Jika dibaca menambah pahala, jika ditinggalkan tidak membatalkan shalatnya.

Jika demikian, apakah yang wajib dilakukan ketika rukuk atau sujud? Pertanyaan ini sederhana saja sifatnya, tapi selama ini banyak yang tidak memperhatikannya sehingga bingung menjawabnya. Jawabnya adalah gerakan rukuk dan sujud itu sendiri. Jika kita tidak membungkukkan dan menyujudkan badan maka shalat kita tidak sah, kecuali jika kita sedang uzur tentunya. Sedangkan bacaan di dalamnya adalah sunnah, tidak dibaca tidak apa-apa. Shalat kita tetap sah.

Coba kita ingat kembali pelaksanaan shalat yang selama ini telah kita lakukan. Manakah yang lebih kita perhatikan ketika kita melakukan rukuk dan sujud? Bacaan atau gerakan? Banyak sekali orang mengira bahwa dia memperhatikan kedua-duanya, tetapi coba kita ingat-ingat kembali : Pernahkah kita memperhatikan apakah gerakan rukuk dan sujud kita telah sempurna? Apakah punggung kita telah lurus sehingga jika diletakkan gelas berisi air tidak tumpah? Apakah kita telah mengamalkan gerakan rukuk dan sujud sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini?

Abu Humaid As-Sa'idi r.a berkata, "Aku mengingat shalat Rasulullah Saw lebih baik daripada siapa pun diantara kalian. Aku melihat Nabi Saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya dan mengucapkan takbir, dan ketika rukuk Nabi Saw meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas dua lututnya dan punggungnya membungkuk lurus, kemudian setelah bangkit dari rukuk Nabi Saw berdiri tegak hingga semua tulang punggungnya berada dalam posisi normal. Ketika sujud, Nabi Saw meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas tanah dan menjauhkan lengan bagian bawahnya dari tanah dan tubuhnya, dan jari jemari (kakinya) menghadap ke arah kiblat. Ketika duduk pada rakaat kedua, Nabi Saw duduk diatas kaki kirinya dan menyangga kakinya sebelah kanan; dan pada rakaat terakhir Nabi Saw menekan kakinya sebelah kiri kedepan dan menopang kakinya sebelah kanan dan duduk diatas pinggulnya". (1:791 - Shahih Al Bukhari).

*Bacaan bukan panglima*

Sadar atau tidak sadar, bacaan bagi kebanyakan kita telah menjadi panglima dalam shalat. Cepat-lambat atau panjang pendeknya bacaan telah menentukan lamanya shalat. Perpindahan antara satu gerakan ke gerakan lain dalam shalat ditentukan oleh selesainya bacaan, seolah-olah bacaan menjadi aba-aba dalam shalat. Begitu kita selesai membaca bacaan sujud 3x, maka segera kita bergerak untuk duduk. Begitu selesai menyampaikan 8 permohonan disaat duduk diantara 2 sujud, kita langsung bergerak untuk sujud kembali.

Kebiasaan ini mungkin dilakukan karena mencontoh dari apa yang kita lihat ketika shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah, setelah selesai membaca Al Fatihah dan surat pendek, imam shalat biasanya akan mengucapkan takbir sebagai tanda kita harus rukuk. Kita lalu mengambil kesimpulan, bahwa selesainya bacaan shalat menjadi batas lamanya gerakan shalat yang lainnya. Padahal tolok ukurnya berbeda. Ketika kita berdiri membaca Al Fatihah, bacaannya adalah wajib. Sedang ketika rukuk, itidal, sujud dan duduk, bacaannya sunnah, yang wajib adalah gerakannya.


Mungkin Anda bertanya-tanya, jika bukan bacaan lalu apa yang menentukan lamanya gerakan rukuk, i’tidal, sujud dan duduk? Marilah kita lihat apa yang diajarkan Nabi ketika memberikan pelatihan shalat secara singkat kepada seseorang sebagaimana hadits dibawah ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan shalat kemudian menemui Nabi Saw dan mengucapkan salam. Nabi Saw membalas salamnya dan berkata, "Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat". Orang mengerjakan shalat dengan cara sebelumnya, kemudian menemui dan mengucapkan salam kepada Nabi Saw. Beliau pun kembali berkata, "Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat". Hal itu terjadi tiga kali. Orang itu berkata, "Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara shalat". Nabi Saw bersabda, "Ketika kau berdiri untuk shalat, ucapkan takbir lalu bacalah (surah) dari Al Quran kemudian rukuklah hingga kau merasa tenang (thuma'ninah). Kemudian angkatlah kepalamu dan berdiri lurus, lalu sujudlah hingga kau merasa tenang selama sujudmu, kemudian duduklah dengan tenang, dan kerjakanlah hal yang sama dalam setiap shalatmu". (1:724 - Shahih Al Bukhari).

Jika kita membaca hadits diatas, kita bisa duga, bahwa orang itu sudah mengetahui bacaan dan gerakan-gerakan shalat. Tapi mungkin pelaksanaan dilakukan secara terburu-buru. Karena itu, Nabi tidak lagi mengajarkan bacaan dan dasar-dasar shalat lainnya. Nabi mengajarkan apa yang perlu diperbaiki oleh orang itu. Beliau mengajarkan, bahwa lamanya gerakan shalat, khususnya ketika ruku', sujud dan duduk, bukanlah ditentukan oleh selesainya bacaan, tetapi sampai kita merasa tenang.

Mungkin orang itu sama seperti kita. Kita hafal seluruh bacaan shalat, tahu gerakan-gerakan shalat dan mungkin juga seluk beluk shalat lainnya. Kita merasa shalat kita sudah sempurna seperti yang dicontohkan Nabi. Kita sering tidak sadar, ketika shalat kita sering membaca bacaan dengan cepat agar shalat kita cepat selesai. Ternyata shalat semacam itu dipandang Nabi hanya seperti angin lalu saja. Sia-sia. Diulang berkali-kali pun tidak ada gunanya.

>Rukun shalat yang dilupakan<

Kesempurnaan gerakan tidak mungkin dicapai jika kita terburu-buru dalam melaksanakan shalat. Gerakan-gerakan shalat harus dilakukan dengan perlahan-lahan dan penuh perasaan. Dalam rukun shalat, hal itu disebut sebagai THUMA'NINAH. Thuma'ninah diartikan sebagai berhenti sebentar dalam setiap gerakan hingga seluruh tulang dan persendian kembali pada posisi yang tepat dan tubuh terasa tenang.

Thuma'ninah sebetulnya termasuk dalam rukun shalat pada sebagian besar mahzab. Ada yang dinyatakan sebagai salah satu rukun, ada pula yang digabung dengan rukun lain. Mahzab Syafi’i yang dianut oleh sebagian besar orang Indonesia menggabungkan thuma'ninah dalam rukun yang lain, seperti rukuk dengan thuma'ninah, sujud dengan thuma'ninah, duduk dengan thuma'ninah. Tetapi karena thuma'ninah bukan merupakan gerakan atau bacaan, maka dia sering dilupakan orang. Padahal sebagai rukun, sebetulnya thuma'ninah tidak boleh ditinggalkan. Shalat tanpa thuma'ninah kira-kira sama dengan shalat tanpa bertakbir atau tanpa membaca Al Fatihah atau tanpa salam. Artinya, shalat tersebut tidak sah!

Berikut ini adalah tabel perbandingan rukun shalat dalam 4 mahzab. 6


                                                     Syafi'i            Malik                Hanafi             Hambali

1.Niat                                           rukun          rukun               rukun                 rukun

2.Takbiratul Ihram                  rukun          rukun               rukun                 rukun
3.Berdiri                                      rukun          rukun              rukun                 rukun
4.Membaca Al-Fatihah           rukun          rukun               rukun                 rukun
5.Rukuk                                      rukun          rukun               rukun                 rukun
6.I'tidal                                       rukun          rukun                ---                      rukun
7.Sujud                                       rukun           rukun              rukun                 rukun
8.Duduk antara dua sujud     rukun          rukun                ----                    rukun
9.Duduk tasyahhud akhir      rukun          rukun                rukun                rukun
10.membaca tasyahud akhr  rukun         rukun                 ----                  rukun
11.Membaca shalawat             rukun         rukun                 ----                  rukun
12. Salam                                  rukun          rukun                 -----                  rukun
13.tertip                                   rukun           rukun                ------                 rukun

14. thuma'ninah                      rukun *)       rukun               -----                  rukun

*) Digabungkan dengan rukun lainnya
Gerakan yang menghantarkan jiwa
Gerakan tubuh sangat penting untuk menghantarkan hati dan jiwa mencapai ketundukan dan kerendahan dihadapan Allah. Untuk lebih memahaminya mari kita lakukan latihan berikut ini.


LATIHAN 3


Duduklah seperti duduk diantara dua sujud.

Kepalkan telapak tangan di depan dada dengan kuat.
Busungkan dada dan kepala agak menengadah.

Katakan dalam hati :

"Aku pasrah, aku pasrah, aku pasrah ……"
Amati apa yang Anda rasakan.

Setelah selesai kendorkan badan. Tundukkan kepala.

Letakkan tangan menelungkup diatas paha. Katakan sekali lagi :
"Aku pasrah, aku pasrah, aku pasrah ……"
Amati apa yang Anda rasakan.

STOP
Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.

Coba bandingkan, manakah yang lebih terasa pasrah? Posisi yang pertama atau yang kedua?

Umumnya orang merasakan posisi yang kedua yang lebih terasa pasrah. Ketika tubuh rileks dan membungkuk, maka akan lebih mudah bagi orang untuk mencapai posisi kepasrahan diri. Sebaliknya, sangat sulit mencapai posisi pasrah atau rendah hati jika tubuh tegang dan dada membusung, sikap tubuh yang biasanya terdapat pada orang sombong dan angkuh.


LATIHAN 4

Duduklah seperti duduk diantara dua sujud dengan posisi seperti Latihan 3 bagian yang kedua.

Kendorkan badan. Tundukan kepala.
Letakkan tangan menelungkup diatas paha. Lalu katakan:
"Aku pasrah, aku pasrah, aku pasrah ……"

Amati apa yang Anda rasakan.
Lalu, langsung teruskan kepasrahan Anda. Kali tanpa kata-kata, tanpa bacaan.
Pasrahkan saja dan rendahkanlah hati Anda, lalu biarkan tubuh Anda lerem, bergerak mengikuti kepasrahan. Jika tubuh Anda cenderung untuk condong kedepan, ikuti saja, jangan ditahan.
Teruslah untuk semakin pasrah dan rela.

Amati lagi apa yang Anda rasakan

STOP
Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas

Coba bandingkan apa yang Anda rasakan. Manakah yang terasa lebih pasrah dan lebih enak, yang menggunakan kata-kata atau yang tanpa kata-kata?
Hampir semua orang yang pernah melakukan Latihan 4 mengatakan, bahwa yang lebih terasa enak adalah yang tanpa kata-kata!

Ketika kita menggunakan kata-kata, otak kiri yang berkaitan dengan logika, hafalan, sekuensial, akan berperan aktif. Ketika kita pasrah tanpa kata-kata, maka otak kiri tidak lagi aktif. Otak kanan yang berkaitan dengan rasa, emosi, acak, yang berperan aktif. Akibatnya lebih terasa enak.

Ketika hati kita pasrah atau tunduk dalam keadaan diam (tanpa kata), maka pikiran kita bergerak mengikuti naluri. Tubuh pun ikut pasrah sehingga otot-otot lebih kendor dan terasa rileks. Jika kepasrahan itu diteruskan dan diikuti dengan sepenuh hati, maka orang akan tersujud dengan sendirinya. Sujud yang bukan dari perintah otak, tetapi sujud yang muncul dari hati yang berserah diri.

Rukuk dan sujud dengan penuh kerendahan

Dari banyak gerakan-gerakan shalat, gerakan rukuk dan sujud adalah yang paling penting. Dalam beberapa ayat di dalam Al Qur'an, rukuk dan sujud kadang digunakan sebagai pengganti kata shalat, misalnya saja surat Al Hajj : 26.

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud”.

Rukuk dan sujud sedemikian penting, sehingga Nabi memerintahkan untuk menyempurnakannya.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Dari Nabi saw., Beliau bersabda: Sempurnakanlah rukuk dan sujud, demi Allah, sesungguhnya aku dapat melihat engkau di belakangku (kemungkinan bersabda: yang di belakang punggungku) saat engkau rukuk atau sujud. (Shahih Muslim No.644)

Bahkan ketidaksempurnaan dalam melakukan rukuk dan sujud dinilai Nabi seperti orang yang mencuri di dalam shalat, sebagaimana hadits berikut ini.

Dari Qatadah RA, dia berkata,
Rasulullah saw pernah bersabda, "Paling jelek manusia dalam mencuri adalah orang yang mencuri sebagian shalatnya". Ada seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dia mencuri shalatnya?". Rasulullah saw menjawab: "Dia tidak menyempurnakan rukuk shalat itu dan tidak pula menyempurnakan sujudnya".

Rukuk dan sujud sangat penting untuk membantu kita meraih kekhusyu'an.
Gerakan rukuk dan sujud akan membantu jiwa mencapai ketundukan dan kerendahan. Sikap tubuh yang membungkuk pada rukuk akan membantu jiwa kita untuk tunduk dan hormat kepada Allah. Demikian pula meletakkan kepala pada posisi yang paling rendah, akan membantu kita untuk merendahkan diri dihadapan Allah. Jika rukuk dan sujud tidak sempurna, maka dapat dipastikan, bahwa jiwa kita belum mencapai ketundukkan dan kerendahan sebagaimana yang diharapkan. Artinya, tidak mungkin meraih kesempurnaan shalat, yaitu turunnya rasa khusyu', rasa tunduk, rendah dan tenang dihadapan Allah.

Sayangnya, justru gerakan rukuk dan sujud ini yang paling banyak salah dilakukan. Pada rukuk, kesalahan yang paling sering terjadi adalah punggung melengkung, kepala menekuk terlalu dalam dan tangan diletakkan di bawah atau diatas lutut. Sedangkan yang sering salah dilakukan orang adalah punggung yang melengkung atau siku jatuh hingga menempel ke lantai.

LATIHAN 5

Pada latihan ini, kita melatih gerakan rukuk dan sujud agar lebih sempurna dan lebih terasa enak ditubuh sehingga lebih mudah meraih rasa tenang dalam gerakan itu.

Berdirilah dengan tegak, lalu angkatlah kepala menengadah sehingga Anda melihat lurus keatas agak kebelakang sedikit. Pertahankan posisi tersebut beberapa saat. Rasakan tulang punggung Anda agak tertarik sedikit. Kira-kira seperti itulah rasanya tulang punggung Anda ketika rukuk dengan tepat. Coba Anda bergerak rukuk dengan tetap mempertahankan posisi tulang punggung Anda. Jadikan pinggung Anda sebagai poros gerakan.

Ulangi beberapa kali sehingga Anda dapat meraih posisi rukuk yang benar dengan cepat.

Ambillah posisi seperti orang sedang merangkak. Tempatkan tangan kira-kira 2 jengkal dari lutut. Diam dengan santai beberapa saat. Biarkan hingga tulang punggung Anda jatuh tertarik oleh gravitasi bumi. Biarkan beberapa saat, lalu letakkan kepala Anda ke lantai untuk bersujud.

Perhatikan kedua tangan Anda. Jangan sampai sikunya menyentuh tanah dan aturlah pembagian beban agar kepala tidak menanggung berat yang terlalu besar.
Turunkan bahu Anda, kendorkan ruas-ruas tulang punggung Anda lalu diamlah hingga tubuh terasa rileks.

Ulangi beberapa kali sampai Anda dapat meraih posisi sujud dengan cepat.

STOP
Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas


Sempurnakan sujud dan rukuk

Gerakan rukuk dan sujud tidak akan sempurna jika hati kita tidak melakukan hal yang sama. Hati yang tunduk akan mengantarkan seluruh bagian tubuh kita tunduk pula. Hati sedemikian berpengaruhnya bagi tubuh kita, sehingga Nabi mengatakan bahwa jika hati baik maka seluruh tubuh kita akan ikut baik.

“Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya; jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Setelah kita dapat melakukan gerakan rukuk dan sujud dengan baik, kini kita sempurnakan dengan hati yang ikut pula tunduk dan merendah dihadapan Allah sebagaimana latihan di bawah ini.


LATIHAN 6
Duduklah seperti duduk diantara dua sujud. Dapat juga dilakukan sambil berdiri.
Memejamkan mata akan lebih baik agar suasana di sekeliling tidak mengganggu.
Niatkan hati Anda untuk tunduk dan pasrah.

Rasakan, begitu selesai Anda berniat, akan terasa seperti ada tuntunan atau dorongan untuk tunduk. Jika Anda ikuti dorongan itu, maka diri Anda semakin terbawa untuk lebih tunduk lagi. Cobalah beberapa kali sampai Anda mudah mengikuti dorongan ketundukan itu.

Kemudian lalukanlah ketundukan secara total hingga Anda tersujud dengan sendirinya. Setelah tersujud, jangan berhenti. Biarkanlah jiwa Anda mengikut ketundukan itu semakin dalam, sampai terasa masuk menembus ke dalam bumi.

Teruslah ikut dorongan ketundukan itu sampai jiwa Anda tak sanggup lagi mengikutinya.

Setelah itu pujilah Allah sebagaimana bacaan ketika kita sujud:
"Subhahaana rabbial a'la wabi hamdi"

Sampaikan pujian dari hati yang paling dalam. Hati yang sedang dalam ketundukan.

Setiap kali memuji, rendahkan lagi hati Anda lebih dalam lagi.
Lalu diamlah dengan rela kepada Allah sampai Anda puas.

STOP
Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas

Dalam latihan tadi, saya mengajak Anda untuk betul-betul merendahkan diri di hadapan Allah. Dalam ketundukan tersebut peran hati dan jiwa sangat penting. Tubuh sekedar mengikuti gerakan jiwa kita. Meskipun demikian, sikap tubuh yang sempurna akan lebih membantu.

BAB 1. KESADARAN BERKETUHANAN

Sebelum kita membahas masalah shalat khusyu' lebih jauh, mari kita mulai latihan kita dengan berdzikir terlebih dahulu dengan menyebut nama Allah sebagaimana latihan di bawah ini.

      LATIHAN 1

Setelah melakukan shalat, kita disunnahkan untuk berdzikir:
subbahanalllah, alhamdulillah dan Allahu akbar,
masing-masing 33 kali.
Sekarang lakukan dzikir, tetapi lafadznya diganti menjadi:
Allah, Allah, Allah,
sebanyak 33 kali.
Silahkan dimulai.

            STOP

Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.


Setelah selesai berdzikir sebagaimana Latihan 1, apa yang Anda rasakan?
Apakah ada rasa "seerrrr" di dada Anda?
Apakah Anda seperti mau menangis?
Apakah dada Anda terasa seperti bergetar?
Atau malah biasa saja rasanya? Tidak terasa apa-apa.
Simpan dulu jawaban Anda. Mari kita lanjutkan dulu pembahasan kita.

3 GOLONGAN MANUSIA

Pada setiap raka’at shalat, kita diwajibkan membaca surat Al Fatihah. Sadar atau tidak sadar, setiap kali kita membacanya, maka pada 2 ayat terakhir kita memohon kepada Allah: 

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Seperti apa orang yang diberi petunjuk, orang dimurkai Allah dan orang yang tersesat dapat kita lihat pada surat selanjutnya. Surat Al Baqarah langsung membuka dengan membagi manusia menjadi 3 golongan, yaitu :

* Orang beriman (Al Baqarah : 2-5)
* Orang kafir (Al Baqarah : 6-7)
* Orang munafik (Al Baqarah : 8-20)

Masing-masing dilengkapi dengan ciri-cirinya serta akibat yang akan ditanggung oleh masing-masing golongan manusia tersebut



Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al Baqarah [2]:2-5).

Orang beriman  misalnya, ciri-cirinya adalah percaya kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rejekinya untuk bersedekah/zakat, percaya kepada kitab-kitab suci dan hari akhir. Mereka dinyatakan sebagai orang yang selalu mendapat petunjuk dan beruntung.

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS. Al Baqarah [2]:6-7)."

Orang kafir  cirinya adalah tidak bisa lagi melihat kebenaran. Diberi peringatan atau tidak sama saja karena Allah telah mengunci mata, pendengaran dan hati mereka. Dan bagi mereka siksa yang berat.

Diantara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang - orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak tahu. ( QS Al - Baqarah (2) : 8-9 ).

Orang munafik dikatakan sebagai orang yang mengaku dia beriman, tapi sebetulnya tidak. Akibatnya, orang munafik ini lebih sulit dikenali. Jika untuk orang beriman hanya perlu
menggunakan 4 ayat dan orang kafir hanya 2 ayat, maka untuk orang munafik Al Qur’an memerlukan 13 ayat untuk menjelaskannya. Beberapa cirinya antara lain, mereka biasanya tidak sadar atas keburukan sifatnya sendiri, bahkan merasa dirinya yang lebih benar sehingga dapat menyesatkan orang lain. Mereka merasa lebih pintar dari orang beriman. Mereka suka mengolok-olok orang beriman. Akibat perbuatannya itu, Allah akan mengganjar mereka dengan siksa yang pedih.

Dari 20 ayat pertama di surat Al Baqarah, kita sudah dapat menilai seseorang dan juga diri kita sendiri termasuk pada golongan mana.

Selanjutnya ciri dan penjelasan tambahan untuk masing-masing golongan dapat ditemui pada bagian lain di Al Qur'an. Ciri-ciri yang dijabarkan tersebut akan semakin menambah kejelasan bagi kita untuk menilai setinggi apa keimanan kita saat ini dan sejauh mana kebenaran dari pelaksanaan peribadatan yang telah kita lakukan.

Contoh, jika seseorang mengaku beriman tetapi jarang melakukan shalat 5 waktu, termasuk golongan manakah dia? Salah satu jawabannya, bisa kita lihat di surat An Nisaa' [4] : 142 :

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali

Jika kita malas shalat, shalat karena ingin dilihat orang lain, atau lebih banyak memikirkan hal-hal selain Allah ketika shalat, maka sadarilah, bahwa diri kita telah menunjukkan ciri-ciri orang munafik. Waspadalah …. waspadalah ….. waspadalah.

MENGUKUR KADAR KEIMANAN

Sering kita merasa sudah menjadi orang yang beriman karena sudah sudah masuk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat atau mempercayai apa-apa yang dinyatakan dalam rukun iman. Padahal keimanan harus dibuktikan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya.

Di dalam ayat-ayat Al Qur'an, banyak disebutkan perintah dan larangan yang harus ditaati agar kita menjadi orang yang beriman, misal:
- Harus berpuasa (Al Baqaran [2]: 183)
- Harus banyak berzikir. (Al Ahzab [33] : 41)
- Harus menjadi saksi yang adil (Al Maa'idah [5] : 8)
- Dilarang merendahkan orang (Al Hujuraat [49] : 11)
- Dilarang menyakiti orang yang diberi sedekah (QS Al Baqarah [2] : 264)


Ayat-ayat tersebut, umumnya diawali dengan kata panggilan, "Hai orang-orang yang beriman …". Jika perintah dan larangan tersebut diabaikan, maka bisa dikatakan kita tidak termasuk orang yang beriman, karena kita bukan orang yang terpanggil oleh ayat-ayat itu. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita, dapat diukur dengan seberapa lapangnya hati kita mengikutinya. Orang yang tinggi imannya akan melaksanakan perintah dan larangan tersebut dengan senang hati. Mereka yakin, perintah dan larangan tersebut pasti sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri. Selanjutnya, perintah dan larangan tersebut akan menjadi sikap hidupnya sehari-hari. Orang yang lebih rendah imannya akan melaksanakan ayat-ayat tersebut karena takut dosa dan neraka. Dia akan melaksanakan ayat tersebut meskipun terasa tersiksa hidupnya. Sedang orang yang rendah imannya akan menganalisa dan melakukan banyak pertimbangan untung-ruginya, sebelum melaksanakannya. Dia memilih ayat-ayat yang menguntungkannya, seolah-olah
dia lebih pandai dari pada Allah dalam mengatur alam semesta.

Selain itu, ada juga ayat-ayat bukan berupa perintah atau larangan, tetapi banyak juga ayat-ayat yang menggambarkan suasana kejiwaan dan sikap orang yang beriman. Ayat-ayat tersebut juga penting kedudukannya dalam Al Qur’an, karena dengan bercermin kepada ayat tersebut, kita juga dapat mengetahui sampai dimana kadar keimanan kita. Apakah diri kita memiliki ciri seperti orang yang dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut., misal:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS Al Ahqaaf [46] : 13)

Salah satu ciri orang beriman adalah tidak pernah merasa khawatir dan tidak pula berduka cita. Hidupnya selalu bahagia. Kebahagiaan itu sudah dirasakan sejak hidup di dunia hingga nanti diakhirat. Mereka sangat percaya kepada firman Allah yang tertulis di Al Qur'an. Mereka percaya, bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin Allah akan merugikan hamba-Nya. Mereka tidak pernah khawatir akan masa depan, karena tahu bahwa Allah telah menjamin rejekinya sejak lahir sampai mati nanti. Ketika masih menjadi bayi yang tidak mampu mengurus diri sendiri, Allah telah mengirimkan kepada kita orang-orang yang menyayangi kita. Memberi makan, memandikan, mengasuh, hingga kita mandiri. Lalu Allah memberikan kepandaian, kekuatan dan rejeki terus menerus hingga menjadi dewasa seperti sekarang ini. Setelah kita hidup dan menikmati rejeki dari Allah, kenapa kita masih saja tidak percaya bahwa Allah Maha Pemberi Rejeki?

Ketika terjadi musibah, orang beriman tidak berduka yang berkepanjangan. Mereka sabar dan tenang menghadapinya. Mereka percaya, bahwa ini adalah ketetapan yang terbaik dari Allah SWT, karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena itu mereka menunggu denan penuh harapan, kebaikan apa yang akan Allah berikan setelah musibah ini berlalu.

Dengan melihat ayat itu, maka jika kita selalu khawatir akan apa akan terjadi atau terlalu sedih dan menyesali terhadap sesuatu yang telah terjadi, hal itu menandakan ada sesuatu yang salah dalam keimanan kita. Kita belum sepenuhnya percaya, bahwa Allah mampu mengatur alam semesta dengan sempurna.

Sekarang marilah kita melihat lagi salah satu ciri dari orang yang beriman yang disebutkan dalam Al Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS : Al Anfaal [8]:2).

Berdasarkan ayat tersebut, salah satu ciri orang beriman adalah jika disebut nama Allah maka hatinya akan bergetar. Apa yang Anda rasakan ketika melakukan Latihan 1 tadi? Apakah hati Anda bergetar? Mudah-mudahan Anda merasakannya.

Dari pengalaman saya mengajak orang melakukan Latihan 1, sangat sedikit sekali yang merasakan dadanya bergetar. Beberapa merasakan "seeerrr", ingin menangis atau merasa ketenangan. Sebagian besar tidak merasakan apa-apa. Apakah mereka yang tidak merasa apa-apa artinya tidak beriman? Bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, bahwa Anda yang membaca tulisan ini termasuk orang yang beriman. Tapi kenapa tanda-tanda orang beriman tidak muncul ketika kita menyebut nama Allah? Apakah hati kita telah sekeras batu? Atau kita termasuk orang munafik?

Mari kita lihat dimana letak permasalahannya.

DZIKIRLAH SEBANYAK-BANYAKNYA

"Ketika tadi Anda berdzikir, manakah yang lebih diperhatikan : hitungannya atau Allah-nya?."

Seringkali kita tidak sadar, ketika berdzikir, kita terlalu memperhatikan jumlah hitungan yang harus dicapai. Seolah-olah jumlah hitungan itu sangat penting sehingga kalau meleset, gugurlah pahala dzikir kita. Kita menjadi lupa, bahwa tujuan berdzikir adalah untuk mengingat Allah bukan menghitung bacaan.

Saya tidak menampik banyak hadits yang mengajarkan kita untuk berdzikir dalam jumlah tertentu. Ada yang hanya 3 kali, 33 kali, 100 kali, atau bilangan lainnya, tetapi Al Qur'an menganjurkan lebih dari itu :

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. (QS : Al Ahzab [33] : 41).

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS : An Nisaa' [4]:103)

Kesemuanya mengajarkan dzikir tanpa hitungan, sebanyak-banyaknya dan setiap saat. Salahkan Rasulullah mengajarkan hitungan? Tentu tidak. Seperti halnya tidak bersalahnya orang tua kita, yang pada waktu kita masih kecil, menyuruh kita berpuasa setengah hari lamanya. Semuanya semata-mata agar kita belajar dan segera memulai perbuatan baik yang diperintahkan Allah. Selanjutnya harus tahu dan berusaha mencapai target sesungguhnya yang Allah ajarkan.

SANG PENCIPTA LANGIT DAN BUMI BERNAMA ALLAH

"Ketika Anda menyebut nama Allah, kemanakah pikiran Anda menuju?"

Nama adalah sebuah simbol dari pemiliknya. Ketika kita menyebut kata “SBY” maka pikiran kita langsung mengarah kepada sosok gagah berwibawa, yang jika berbicara tutur katanya tertata dengan baik, yang menjadi Presiden RI. Ketika kita menyebut kata “ibu”, maka pikiran kita langsung mengarah kepada wanita yang melahirkan kita, melindungi dan menyayangi kita. Wanita yang mengurus dan mendidik kita ketika kita masih kecil. Tetapi ketika menyebutan Allah, kita menjadi bingung dalam membayangkan “sosok” Tuhan.

Ketika kita menyebut nama Allah, tidak perlu kita membayangkan sosok Allah, karena kita tidak akan mampu melakukannya. Allah tidak serupa dengan apapun juga, maka apapun yang kita bayangkan mengenai wujud Allah pasti salah. Cukup sadari saja, bahwa yang kita panggil atau sebut nama-Nya itu adalah nama Dzat pencipta langit dan bumi. Dialah Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang memberi kita hidup lalu memberi kita rejeki sepanjang hidup kita. Tuhan yang sangat berkuasa, bahkan setelah kita mati sekalipun. Dialah yang menetapkan siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang dikirim ke neraka.

Saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas untuk memperbandingkan siapa Allah dan siapa kita ini agar kesadaran kita menjadi lebih terbuka.

Andaikan bumi ini sebesar buah jeruk, maka manusia tak lebih besar dari debu-debu halus atau sel kulit. Kita naikkan skala perbandingannya. Jika matahari sebesar jeruk, maka bumi kira-kira hanya sebesar butiran nasi. Manusia, mungkin tak lebih besar dari molekul yang membentuk kulit jeruk. Kita naikkan lagi skala perbandingannya. Jika galaksi Bima Sakti memiliki diameter sebesar jeruk, maka matahari hanyalah sebesar debu. Bumi mungkin sebesar sel-sel kulit jeruk. Manusia hanyalah seperti elektron-elektron. Kita naikkan lagi skala perbandingannya lebih jauh lagi. Jika alam semesta ini yang kita kenal sekarang ini sebesar ruang keluarga Anda, maka galaksi hanya sebesar debu atau pasir. Matahari hanyalah seperti bakteri atau virus yang berterbangan di udara. Bumi mungkin hanyalah sebesar atom oksigen. Manusia? Masihkah manusia bisa disebut sebagai ada? Kita tidak ada apa-apanya di alam semesta ini, sementara Allah Sang Pencipta lebih besar dari alam semesta itu sendiri. 



LATIHAN 2

Duduklah seperti duduk diantara dua sujud (duduk i’tiraj).
Kendorkan badan lalu tundukkanlah hati Anda serendah-rendahnya.
Lalu amati nafas kita. Amati saja tidak perlu diatur.
Amati bahwa nafas kita bergerak sendiri tanpa kita perintah.

Mereka bergerak karena digerakkan Dzat yang memberi kita hidup.
Sadari, bahwa yang akan kita sebut nama Nya adalah nama Dzat yang memberi kita hidup.

Nama Dzat yang menciptakan langit dan bumi.
Nama Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Agung

Sekarang panggilah nama Dzat yang Maha Besar tanpa menghitung-hitung jumlahnya.
Panggilah dengan rendah hati dan suara lembut:

Allah…
(diam dan rasakan bagaimana Allah merespon panggilan Anda)

Allah…
(diam dan amati apa yang Anda rasakan)

Allah … Allah … Allah …
(panggilan nama Nya secara pelahan-lahan sampai Anda merasa cukup)
Silahkan dimulai.

STOP
Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas


Sekarang apa yang Anda rasakan?

Mudah-mudahan Anda merasakan getaran atau "sesuatu" di dalam dada sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah. Mudah-mudahan Anda tidak termasuk sebagaimana orang yang disebutkan dalam surat Al Hujuraat [49] : 14 dibawah ini.

"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"."


Berbuat dengan penuh kesadaran

Bagi yang bisa merasakan perbedaannya, mari kita evaluasi kenapa bisa terjadi perbedaan antara Latihan 1 dengan Latihan 2?

Pada Latihan 2 kita melakukannya dengan penuh kesadaran. Kita sadar, siapa yang namanya kita sebut. Karena kita sadar, kita jadi mengerti bagaimana kita harus bersikap dan mengamati apa yang sedang terjadi terhadap apa yang kita lakukan. Kesadaran seperti itu biasa disebut sebagai NIAT.

Niat menurut syara' adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang diikuti dengan perbuatan4. Dari definisi tersebut, dapat dikatakan niat ada sepanjang perbuatan tersebut dilakukan. Niat dalam shalat bukan sekedar mengucapkan "ushalii". Bahkan mengucapkan "ushalii" bukan merupakan bagian dari shalat. Shalat menurut definisi syar'i adalah ibadah yang terdiri dari rangkaian bacaan dan gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam5. Sementara itu, mengucapkan "ushalii" terletak sebelum takbir, artinya diluar kegiatan shalat. “Ushalii” hanya sekedar bacaan yang membantu mengingatkan kita agar kita melakukan shalat dengan penuh niat, dalam arti sungguh-sungguh menghadapkan diri ke Allah sesuai dengan tata cara yang telah ditentukan.

Niat dalam shalat harus ada sepanjang shalat tersebut dilakukan, sejak takbir sampai dengan salam. Jadi takbirlah dengan niat, bacalah Al Fatihah dengan niat, rukuk-lah dengan niat, dan seterusnya sampai dengan salam. Artinya ketika takbir kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang mengagungkan kebesaran Allah. Ketika membaca Al Fatihah, kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang memulai berkomunikasi dengan Allah. Ketika kita rukuk, kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang menundukkan diri di hadapan Allah SWT. Demikian seterusnya kita selalu melakukan gerakan dan bacaan shalat dengan penuh kesadaran hingga kita mengucapkan salam untuk menebarkan keselamatan ke sekeliling kita.

 sumber   : e-book shalat khusyuk itu mudah " MardiBros " (www.shalatcenter.com )

Shalat Khusyu' Itu Mudah

Suatu siang, Hj. Aliyah (almarhumah) datang ke rumah untuk mengajar mengaji bagi istri saya dan beberapa temannya. Kebetulan hari itu saya sedang ijin kantor untuk masuk siang karena ada suatu keperluan. Kebetulan pula, Beliau sudah beberapa kali ingin bertemu saya untuk menanyakan masalah shalat khusyu' yang setiap bulan diajarkan ustadz Abu Sangkan di Islamic Center Bekasi, ketika itu. Karena Beliau adalah seorang ustadzah yang sudah banyak mengerti hakikat dan aturan shalat, maka tidak banyak hal lagi yang saya sampaikan. Saya hanya meneruskan apa yang saya ingat dari apa yang pernah disampaikan ustadz Abu Sangkan, terutama bagaimana kita bersikap dan berdialog dengan Allah ketika kita shalat. Tidak lama, hanya sekitar 15 menit, tapi terasa Beliau langsung "nyambung" dengan yang saya sampaikan.

Setelah itu, saya ajak Beliau shalat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat itu, sengaja saya panjangkan setiap gerakan shalat, terutama rukuk dan sujud. Tak lama setelah selesai shalat dan berdzikir sejenak, dengan badan agak gemetar, Beliau berkata: "Kok cepat betul shalatnya?". Saya hanya tersenyum sambil melihat ke jam dinding dan mengatakan: "Maaf saya tidak bisa lebih lama lagi karena harus segera ke kantor, tapi tadi kita sholat selama hampir 20 menit". "Ah … yang betul?", kata Beliau tak percaya. “Bagaimana rasanya Bu?”, tanya saya. “Kalau nggak karena malu, saya sudah nangis sekarang”, jawabnya. S

Pada waktu lainnya, ketika bertugas ke Semarang, saya sempatkan mampir ke rumah mendiang nenek saya. Ketika azan Magrib berkumandang, saya pun pergi ke mesjid As-Salam yang ada di seberang rumah. Oleh imam mesjid tersebut, saya diminta untuk menjadi imam sholat. Mungkin ingin menghormati kedatangan saya di sana. Sebetulnya saya agak segan menerimanya. Selain bacaan Al Qur’an saya kurang fasih, aksennya terlalu “Indonesia”, juga karena saya khawatir tempo sholat saya yang agak lama akan membuat jamaah menjadi tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan suasana desa yang sejuk dan tenang. Karena itu sebelum shalat dimulai, saya memberikan sedikit pengantar yang kira-kira kalimatnya seperti dibawah ini.

"Maaf, saya kalau shalat agak lama. Bukan bacaannya yang panjang, hanya sekedar ingin mempraktekkan thuma’maninah. Ketika rukuk, saya tidak buru-buru membaca, tapi saya tundukkan dulu pikiran saya, hati saya dan jiwa saya. Setelah semua terasa tunduk, baru saya memuji Allah - subhaana rabbial azimi wa bihamdihi. Demikian pula ketika sujud. Saya sujudkan pikiran, hati dan jiwa saya. Setelah semua terasa bersujud, merendah kepada Allah, baru saya tinggikan Allah – subhaana rabial a'la wa bihamdihi. Ketika duduk diantara dua sujud, saya sampaikan permohonan saya kepada Allah dengan rendah hati dan satu per satu".


Lalu saya pun memimpin shalat dengan tenang. Setelah selesai shalat dan berdzikir sejenak, saya melihat beberapa orang di shaf depan masih tetap tertunduk dalam, tak mampu segera bangkit untuk mengubah posisi duduk tahiyyad akhirnya.

Kedua peristiwa tersebut semakin meyakinkan saya bahwa khusyu’ adalah bukan sesuatu yang mustahil bagi kita manusia awam, bahkan suatu yang mudah diperoleh.

Kegagalan meraih khusyu’

Selama ini, kita selalu berpendapat bahwa khusyu’ itu sangat sulit dicapai. Ketika shalat, pikiran sering pergi kemana-mana. Karena itu, lalu muncullah cara mengatasinya yaitu dengan konsentrasi. Konsentrasi pikiran seolah-olah telah menjadi kunci mencapai khusyu’. Maka tidak mengherankan jika pelajaran shalat khusyu' pada umumnya tujukan untuk membantu mengarahkan konsentrasi pikiran, seperti misalnya melihat titik ditempat sujud, menerjemahkan bacaan, menghadirkan Allah, dan lain-lain.

Cara-cara tersebut terlihat meyakinkan, tetapi kenyataannya tidak memberi terlalu banyak manfaat. Melihat tempat sujud membantu agar pandangan kita tidak melirik kekiri dan kanan, tetapi tidak mampu menahan pikiran kita yang suka melompat ke kiri dan kanan. Jika khusyu’ dapat diperoleh dengan mengerti arti bacaannya, ketika saya pergi ke Mekkah, ternyata orang-orang Arab pun terlihat tidak lebih khusyu’ daripada kita. Ada yang matanya melirik ke kiri-kanan, ada yang sibuk merapihkan tutup kepalanya, dan lain-lain. Padahal mereka tentu mengerti arti bacaannya. Mencoba “menghadirkan” Allah, malah menambah kebingungan kita sendiri. Di dalam Al Qur’an dinyatakan, bahwa Allah tidak bisa diserupakan apapun juga (QS Asy Syuura [42] : 11). Jadi apapun yang kita bayangkan mengenai wujud Allah, maka itu pasti salah. Anehnya, cara-cara tersebut, meskipun terbukti gagal sebagai metoda mencapai khusyu', tetapi terus-menerus diajarkan oleh orang tua ke anaknya, oleh guru ke muridnya, demikian dari generasi ke generasi. Agak konyol memang.

Ketika usaha khusyu’ melalui konsentrasi gagal, maka muncullah persyaratan-persyaratan lain. Ada yang mengatakan, bahwa untuk khusyu’ kita harus suci, bersih dari perbuatan dosa. Persyaratan ini sempat pula membuat saya pesimis, karena ternyata banyak ustad-ustad yang saya kenal secara pribadi sebagai orang yang sholeh, bisa berbahasa Arab, tinggi ilmu agamanya, ternyata mengalami masalah pula dengan shalat khusyu’. Kalau mereka saja yang tinggi ilmu agamanya, banyak berdzikir dan menjaga perbuatannya saja sering tidak khusyu’, bagaimana dengan saya?

Mendadak khusyu'

Mungkin telah banyak usaha dan cara untuk khusyu’ telah kita lakukan tetapi tetap saja tidak berhasil. Anehnya, tiba-tiba kita bisa mendadak khusyu'. Ketika kita tertimpa musibah yang hebat, tiba-tiba saja kita bisa shalat dengan khusyu' lalu berdoa sambil mengucurkan air mata. SKIM

Padahal ketika itu, kita justru lupa dengan segala macam teori mengenai shalat khusyu'. Kita shalat tanpa berkonsentrasi, kita juga lupa memperhatikan titik ditempat sujud, tapi hati dan pikiran kita tidak pernah lepas mengarah ke Allah. Kita tetap belum sepenuhnya memahami arti bacaan dalam bahasa Arab, tapi kita merasa bisa berdialog dengan Allah. Kita lupa untuk “menghadirkan” Allah, tapi malah terasa Allah begitu dekat. Ketika itu, dosa kita tidak lebih sedikit dari sebelumnya, malah mungkin kita baru saja melakukan perbuatan dosa besar sehingga kita sangat menyesal, tapi terasa Allah menyambut shalat dan doa kita. Saat ketika kita tidak menggunakan ilmu khusyu’, saat itu justru kita bisa shalat dengan khusyu'. Keadaan ini bisa terjadi kepada siapa saja, dari mahzab dan aliran apa saja, kepada ulama, orang yang awam ilmu agamanya, cendikiawan, orang yang kurang berpendidikan, orang kaya, orang miskin, bahkan kadang kepada orang yang jarang shalat sekali pun.

Apa gerangan yang membuat itu bisa terjadi?

Salah satunya adalah sikap dalam menghadap kepada Allah. Ketika kita tertimpa musibah, maka kita datang kepada Allah dengan merendahkan diri, sungguh-sungguh mengharapkan pertolongan Allah. Kita menjadi tersadar, hanya Allah-lah yang dapat mengatasi masalah kita dan mengabulkan doa kita. Sebaliknya ketika kita sedang jaya, tidak kekurangan suatu apapun, sikap itu sudah tidak ada lagi. Biasanya kita shalat dan doa hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Seolah-olah Allah-lah yang membutuhkan shalat dan doa kita.

Musibah diturunkan tidak lain agar kita selalu datang dengan merendahkan diri kepada Allah. Sikap yang akan membuat kita khusyu'. Sayang kita selalu lalai terhadap pelajaran yang Allah berikan kepada kita itu, meskipun Allah telah memberikannya berkali-kali.

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu." (QS Az Zumar [39] : 8).

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS Al An'aam [6] : 42).

Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS At Taubah [9] : 126).


Peka dan tanggap lingkungan

Banyak orang mendefinisikan khusyu’ dengan menggunakan acuan peristiwa Syaidinna Ali ketika kakinya terkena anak panah. Ketika anak panah tersebut akan dicabut Beliau mengerang, tak kuat menahan sakit sehingga para sahabat tak tega mencabutnya. Lalu Beliau shalat dengan khusyu’. Dan ketika shalat itu, anak panah dapat dicabut tanpa Syaidinna Ali merasakan kesakitan.

Peristiwa tersebut sangat popular dan memberikan kesan yang kuat bahwa salah satu tanda shalat yang khusyu’ adalah seseorang tidak lagi merasakan sakitnya luka. Seolah-olah ketika shalat dengan khusyu’, kita bisa lepas dari alam dunia. Tidak merasakan apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa lagi. Kesan ini diperkuat lagi oleh cerita tentang satria yang sedang bersemedi didalam kisah perwayangan. Diganggu jin dan gendruwo tidak gentar, dikelilingi binatang buas diam saja, dirayu bidadari cantik tidak tergoda. Tahan tidak makan dan minum berhari-hari lamanya. Apakah shalat khusyu’ harus seperti itu? Siapa orang yang paling khusyu' shalatnya di dunia ini? Pasti kita sepakat, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling khusyu' shalatnya. Marilah kita melihat bagaimana Rasulullah melakukan shalatnya.

- Ketika Nabi sedang memimpin shalat, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil. Beliau pun mempercepat shalatnya, takut terjadi sesuatu dengan anak itu.

- Ketika sedang shalat, Nabi melihat ada binatang berbisa mendekat. Beliau pun menghentikan shalat untuk membunuh binatang tersebut, lalu meneruskan kembali shalatnya.

- Pada suatu saat, setelah selesai shalat berjamaah, Nabi tidak berdzikir sebagaimana biasanya, tetapi segera bergegas pulang. Ketika telah kembali ke masjid, Beliau ditanya oleh sahabatnya mengenai ketergesaan itu. Beliau mengatakan, bahwa ketika shalat Beliau ingat ada sedekah yang belum dibagikan. Karena itu, Beliau segera pulang agar dapat membagi sedekah tersebut secepatnya.

- Ketika sedang berperang, Nabi mengajarkan shalat khauf. Shalat berjamaah yang dilakukan dengan cara yang unik karena harus tetap dalam kondisi siaga terhadap serangan musuh.

Dari beberapa riwayat tersebut, ternyata ketika shalat, Nabi selalu peka dan tanggap kepada lingkungannya. Beliau tetap mendengar dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Lintasan-lintasan pikiran pun tetap ada ketika Beliau shalat. Bahkan jika ada masalah, Beliau mengajarkan kepada kita untuk shalat sunnat 2 rakaat. Artinya, ketika shalat, Beliau bukan melupakan suatu masalah, tetapi malah sengaja membawa masalah tersebut dalam shalatnya untuk disampaikan kepada Allah agar diberikan jalan keluarnya. Apa yang Beliau ajarkan sesuai dengan apa yang diperintahkan di dalam Al Qur'an :

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah [2] : 153)


Khusyu’ menurut Al Qur'an

Kita sering mengasosiakan khusyu' dengan kontemplasi, semedi atau meditasi yang biasa dilakukan dalam praktek ritual agama lain. Kita menjadi lupa untuk menggali bagaimana Al Qur'an menjelaskan mengenai khusyu' itu.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah [2] 45-46).

Dari kedua ayat tersebut, dapat disimpulkan khusyu' bukanlah konsentrasi, tetapi keyakinan sedang menghadap Allah.

Keyakinan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Orang yang yakin di pohon kamboja ada hantunya, maka dia akan ketakutan jika malam-malam lewat di bawahnya. Sebaliknya, jika orang tersebut berkeyakinan pohon kamboja adalah pohon yang indah, maka orang tersebut justru menemukan kesenangan di bawahnya. Dia akan memungut bunga-bunga yang berguguran untuk diselipkan ditelinga, dibuat rangkaian bunga atau diletakkan mengapung diatas kolam air.

Sebetulnya, kata yang sering diterjemahkan sebagai “yakin” pada ayat di atas bukanlah berasal kata “yaqin” tetapi dari berasal kata “zon” - yazunnuuna. Zon sebetulnya lebih sering diterjemahkan sebagai “sangkaan” sebagaimana halnya kata “husnuzon” dan su’uzon”. Ada pula mengartikan sebagai “menduga dengan kuat”. Yang pasti, tingkat keyakinan atau kepastian akan terjadinya sesuatu yang menggunakan kata “zon” berada dibawah kata “yaqin”. Jika kata “yaqin” bisa dikatakan 90%-100% sesuatu itu akan terjadi, maka kata “zon” tingkat kepastiannya mungkin hanya sekitar 70%-90%( 1).

Dalam tata bahasa Arab, berdasarkan waktu berlangsungnya suatu kegiatan, kata kerja terdiri dari 2 bentuk, yaitu fi'il maadhi dan fi'il mudhaari'. Fiil maadhi merupakan kata kerja bentuk lampau (past) sedang fiil mudhaari’ adalah kata kerja untuk kegiatan yang sedang berlangsung saat ini (present continuous), masa depan (future) dan juga untuk kegiatan yang berulang-ulang. Kata kerja yang ada pada surat Al Baqarah ayat 46, yaitu "yazunnuu" menggunakan fi'il mudhaari'.

Kata “menemui” (mulaaquu) dan “kembali” (raaji’uun) adalah kata pelaku dari kegiatan tersebut (isim fa’il), sama dengan kata “orang-orang yang khusyu’ “ (khaasyi’un). Kata ini tidak menunjukkan kapan waktu kegiatan tersebut dilakukan. Bisa lampau, sekarang ataupun yang akan datang. Kebanyakan terjemahan Al Qur'an dalam bahasa Indonesia, memilih menterjemahkannya “khaasyi’un” (orang yang khusyu’) tanpa menggunakan kata “akan”,

(1) Bahan Pengajian Ar-Rahman pimpinan ustad Bahtiar Nasir kelas Basic 2.


sedang kata “muulaquu” (orang yang menemui) dan “raaji’uun” (orang yang kembali) dengan tambahan kata "akan" (masa yang akan datang). Salah satu pertimbangannya "menemui Tuhan" dan "kembali kepada-Nya" hanya mungkin terjadi "nanti" di akherat. Jika demikian, lalu ketika shalat kepada siapa dia menghadap?.

Dalam beberapa hadits, tampak bahwa Nabi menjaga sikapnya ketika sedang shalat. Beliau berpendapat ketika shalat sesungguhnya orang sedang berhadapan dengan Allah, seperti halnya ketika Beliau mi’raj. Karena itu, Beliau melarang orang yang sedang shalat meludah ke depan, memberi tanda batas tempat shalatnya (sutrah) dan mencegah orang melewatinya.

Allah Ta'ala tetap (senantiasa) berhadapan dengan hambaNya yang sedang shalat dan jika ia mengucap salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya. (HR. Mashobih Assunnah)

Nabi juga telah mengajarkan caranya agar kita dapat “menemui” dan “kembali” kepada Allah sebagaimana yang dimaksudkan dalam Al Baqarah 46. Petunjuknya dikemas ringkas dalam doa iftitah yang dibaca di awal shalat, setelah takbiratul ihram. Jadi ketika kita baru memulai shalat, kita selalu diingatkan Beliau tentang apa yang harus dilakukan di dalam shata agar kita menjadi orang yang khusyu’.

Aku hadapkan wajahku kepada wajah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri .

Sesungguhnya ibadahku, shalatku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam ..
Kita hanya perlu memiliki sangkaan/keyakinan sehingga bisa bersikap untuk menghadapkan diri kita kepada Allah dengansadar dan rela mengembalikan seluruh jiwa raga kita kepada Allah. Karena itu, menurut saya, lebih tepat jika arti khusyu’ dalam Al Baqarah ayat 46 diatas diterjemahkan sebagai :

Orang-orang yang (bersikap) seolah-olah, mereka sedang menemui Tuhannya, dan seolah-olah mereka sedang kembali (berserah diri) kepada-Nya.

Kata khusyu' sendiri disebutkan di dalam Al Qur'an pada 16 ayat 2. Makna bahasanya berkisar pada hina/menunduk, rendah/ tenang, ketakutan, kering/mati, seperti:

1. Hina dan menunduk

"Banyak muka pada hari itu tunduk terhina". (QS. Al Ghaasyiyaah [88]:2).
"Pandangannya tunduk". QS. (An-Naazi'aat [79]: 9).

"Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan" QS. (Al Qamar [54]: 7).

2. Rendah dan tenang

". Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja". (QS. (Thaahaa [20]: 108).

3. Merendahkan dan menundukkan diri

"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir". (QS. Al Hasyr [59] : 21).
"(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera". (QS. Al Qalam [68] : 43).

4. Kering dan mati

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur". (QS. Fushshilat [41]: 39).

Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, maka untuk mendapatkan rasa khusyu’ kita hanya perlu bersikap seolah-olah ketika shalat kita sedang berhadapan dengan Allah dan berserah diri kepada Nya. Sikap yang patut kita lakukan ketika menghadap Allah adalah tenang, menundukkan pandangan dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Sikap yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang hina dihadapan Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Agung. Seperti sikap bumi yang kering kerontang dimusim kemarau mengharapkan pertolongan dari Allah swt dalam bentuk curahan hujan agar dapat kembali subur makmur.

Siapkan diri untuk khusyu'
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk memahami teori dasar mengenai shalat khusyu’ dan melatih sikap-sikap yang diperlukan ketika kita shalat. Latihan-latihan yang ada di dalam buku ini sangat penting untuk dilakukan. Rangkaian kata dan kalimat pada tulisan tidak akan mampu menjelaskan dengan baik apa yang saya rasakan. Dengan melakukan latihan, diharapkan Anda dapat merasakan suasana-suasana khusyu’ yang diperoleh dari sikap-sikap tersebut sehingga akan lebih memahami apa yang saya utarakan. Seperti halnya jika kita ingin menjelaskan rasanya durian kepada orang Rusia yang belum pernah makan buah durian sama sekali. Peluang terjadinya perbedaan persepsi sangat besar karena keterbatasan perbendaharaan kata, perbedaan idiom dan perbedaan pengetahuan. Rasa buah durian menjadi mudah dipahami dan tidak ada perbedaan persepsi, jika kita meminta dia untuk ikut memakannya. Karena itu, latihan harus dilakukan pada tiap-tiap tahapan sebelum Anda melanjutkan bacaannya. Jangan dilewatkan begitu saja. Latihan-latihan tersebut dilakukan di luar shalat. Setelah kita paham bagaimana melakukannya, maka kita tinggal membawanya dalam shalat. Tidak ada dalil ataupun teori baru yang melandasi latihan-latihan tersebut. Saya yakin Anda pernah mendengarnya, hanya mungkin jarang dipraktekkan dalam kegiatan shalat.

Tulisan ini akan lebih berdaya guna jika Anda dapat menyelesaikan seluruh bacaan dan latihannya dalam satu kesempatan sekaligus. Karena itu, lakukanlah persiapan sebelum membaca halaman-halaman berikut ini. Luangkan waktu sekitar 2 jam, kenakan pakaian yang bersih dan carilah tempat yang tenang sehingga Anda dapat melakukannya dengan baik. Sebaiknya Anda berwudhu dulu, sehingga setelah selesai membaca, Anda dapat langsung mencobanya dengan melakukan shalat sunnah.

Mudah-mudahan Allah berkenan menurunkan rasa khusyu' itu kepada kita semua.

sumber   : e-book shalat khusyuk itu mudah " MardiBros " (www.shalatcenter.com )

listen qur'an

Listen to Quran