Selasa, 28 September 2010

Ziarah Kubur

Dalam masyarakat kita telah turun menurun adanya tradisi ziarah kubur. Dalam berziarah kubur, biasanya masyarakat/orang melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, seperti membersihkan kubur, berdoa, berdzikir, atau membaca (sebagian) Al Quran. Ziarah kubur dilakukan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan bakti kepada orang tua yang sudah meninggal.

Tetapi tidak dipungkiri juga bahwa ada sebagian masyarakat yang melakukan ritual yang bertentangan dengan ajaran islam., memuja arwah nenek moyang, dan sebagainya. Bahkan meminta-minta pada kubur, yang mana ini merupakan suatu praktek kemusyrikan yang nyata.

Dari kedua hal di atas, munculah pertentangan di antara umat islam. Di satu pihak sangat menentang ziarah kubur karena melihat kemusyrikan yang dipraktekkan sebagian masyarakat. Di sisi lain, masyarakat pada umumnya tetap bersikukuh melakukan tradisi ziarah kubur. Dari latar belakang inilah tulisan ini dibuat.

Tulisan ini berusaha mengungkapkan ajaran islam mengenai ziarah kubur, anjuran Nabi SAW, amalan-amalan yang disyariatkan, serta hal-hal yang dilarang dalam ziarah kubur.


Anjuran Rasulullah SAW untuk ziarah kubur.

Menurut keterangan berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, ziarah kubur mula-mula dilarang oleh Rasulullah SAW karena aqidah umat islam waktu itu masih belum kuat. Tetapi kemudian ziarah kubur dianjurkan setelah umat islam kuat keimanannya. Beliau SAW menerangkan manfaat kebaikan yang bisa diambil dari ziarah kubur. Beberapa hadits menerangkan tentang hal ini.

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menziarahi kubur ibunya, maka beliau menangis dan tangis beliau membuat orang-orang yang ada di sekitar beliau ikut menangis. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Aku minta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampun bagi ibuku namun Rabbku tidak mengizinkannya. Dan aku pun minta izin untuk menziarahi kuburan ibuku maka untuk yang ini Rabbku mengizinkannya. Maka ziarahilah kuburan karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kepada kematian." (HR. Muslim)

"Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur maka (sekarang) ziarahilah kuburan." (HR. Muslim)

"Siapa yang ingin ziarah kubur maka silahkan ia berziarah, namun jangan kalian mengucapkan hujran."(HR. Nasai)

Hujran atau hujr adalah ucapan-ucapan yang batil atau kata-kata yang keji/ kotor, termasuk juga banyak berbicara yang tidak sepantasnya.

"Sesungguhnya dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur. Maka (sekarang) ziarahilah kuburan, karena dalam ziarah kubur ada ibrah/ pelajaran. Namun jangan kalian mengeluarkan ucapan yang membuat Rabb kalian murka." (HR. Ahmad, Al-Hakim)

"Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian."(Muslim)

"Agar ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kebaikan."(Ahmad)

"Karena ziarah kubur itu melembutkan hati dan mengalirkan air mata, serta mengingatkan pada akhirat namun jangan kalian mengucapkan hujran."(Al-Hakim)


Al-Imam Ash-Shan'ani rahimahullahu di dalam kitab Subulus Salam berkata: "Semua hadits ini menunjukkan disyariatkannya ziarah kubur, menerangkan hikmahnya, dan dilakukannya dalam rangka mengambil pelajaran. Maka bila dalam ziarah kubur tidak tercapai hal ini berarti ziarah itu bukanlah ziarah yang diinginkan secara syar'i."

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Majmu menerangkan: "Ziarah kubur ini awalnya dilarang karena masih dekatnya masa mereka (para shahabat) dengan masa jahiliyah. Sehingga bisa jadi ketika melakukan ziarah kubur, mereka mengucapkan perkataan-perkataan jahiliyah yang batil. Maka ketika kaidah-kaidah Islam telah tegak, kokoh dan mantap, hukum-hukum Islam telah teratur dan terbentang, serta telah masyhur tanda-tandanya, Dianjurkan bagi mereka untuk ziarah kubur.

Melihat kuburan yang sunyi, gelap, timbunan tanah di atasnya akan menggerakkan hati dan jiwa manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Menyaksikan nisan-nisan dapat melembutkan hati, menyebabkan orang melihat kembali cara hidupnya, mengevaluasinya, berpikir mengenai pertanggungjawabannya yang berat dihadapan Allah dan manusia serta terhadap kurangnya amal kebajikan yang telah dibuat.

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al Jumu’ah: 8)

Sepanjang riwayat yang ada, tidak ditemukan ketentuan tentang kapan waktu yang tepat melakukan ziarah kubur. Ziarah kubur boleh kapan saja. Karena itu, kebiasaan kaum muslim di tanah air yang melakukan ziarah kubur,Pada Hari Jum'at,Akhir sya'ban menjelang Ramadlan,Idul fitri, idul Adha atau waktu-waktu yang lain adalah bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.


Amalan saat ziarah kubur

Perlu ditekankan di sini bahwa ziarah kubur adalah amalan sunnah, berdasar pada anjuran Rasulullah SAW, demikian juga amalan-amalan yang menyertainya, sehingga Sangat Dianjurkan Sekali.
Jika seseorang hendak berziarah kubur dengan niat ibadah, maka sebagaimana amalan lainnya, haruslah ia menetapi adab-adab beribadah yang seharusnya diikuti dan diamalkan. Di antaranya, orang yang hendak ziarah kubur itu disunahkan berwudlu terlebih dahulu, memakai pakaian yang bersih, sopan dan menutup aurat. Bukankah ia hendak menuju ke tempat umum sehingga harus menutup aurat dan sopan. Mestinya ia juga hendak berdoa, berdzikir dan mengingat Allah, sehingga berwudlu sebelumnya adalah hal yang sangat utama.

Apabila seseorang itu sampai ke tanah pemakaman ( Kuburan ), disunahkan memberi salam kepada ahli kubur terlebih dahulu.

Hadits dari 'Aisyah radhiallahu 'anha tentang doa ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada 'Aisyah ketika ia berkata: "Apa yang aku ucapkan bila menziarahi mereka (penghuni kubur) wahai Rasulullah?". Beliau mengajarkan: "Katakanlah: "Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian. (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW lewat di pekuburan Madinah maka dihadapkannya Wajahnya ke sana serta sabdanya: "Salam atasmu wahai penghuni kubur, dan semoga Allah memberi keampunan bagi kami dan bagi kamu, kamu adalah pemula bagi kami, dan kami menjadi pengikut yang menuruti jejakmu". (HR. Turmudzi)


Kemudian adalah hal yang sangat baik jika orang yang ziarah kubur itu membaca (sebagian) Al Quran dan/atau berdzikir kepada Allah SWT. Banyak ulama yang menegaskan bahwa pembacaan Al Qur'an itu dapat sampai kepada arwah orang yang telah meninggal dunia. Berbagai dalil mengungkapkan hal ini.

Dalam fadhilah surah Yaasiin, diterangkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam masnadnya oleh Abu Dawud, An Nasai dan disahkan oleh Ibnu Haban, Rasul SAW bersabda:

"Bacalah Yaa Sin bagi orang2 yang(akan atau telah)wafat diantara kalian(muslimin)"(HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai)

Al Baihaqy dalam "Sya'bul Iman" menjelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mi'qal bin Yassar bahwa Rasul SAW bersabda:

"Barangsiapa membaca Yaa Sin se-mata - mata demi keridhoan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa - dosa nya yang telah lalu.Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)".(HR. Baihaqy)


Dalam fadhilah membaca Al Ikhlas, Abu Muhammad As Samarkandy, Ar Rafi'iy dan Ad Darquthniy, masing-masing menunjuk sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib k.w.bahwa Rasul SAW bersabda:

"Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca "Qul Huwallahu Ahad" sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh sebanyak yang diperoleh semua penghuni kubur."

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca 'Al Fatihah', 'Qul Huwallahu Ahad' dan 'Alhakumut takatsur', lalu ia berdoa Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu'minin dan Mu'minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya(pemberi syafaat) pada hari kiamat".

Sabda Nabi SAW lagi:

"Sesungguhnya amal perbuatanmu akan dihadapkan kepada kaum kerabat dan keluargamu yang telah meninggal. Jika baik, mereka akan gembira karenanya, dan jika tidak mereka akan mereka akan memohon: Ya Allah, janganlah mereka diwafatkan sebelum mereka Engkau tunjuki, sebagaimana Engkau telahmenunjuki kami." (HR. Ahmad, Turmudzi dari Anas).

Masih banyak hadits-hadits yanglainya. Hadits hadist tersebut di atas dijadikan dalil oleh para ulama untuk menfatwakan Anjuran membaca Al Quran bagi orang yang telah wafat. Imam Nawawi dalam "Syarhul Muhadzdzib" mengatakan: 'disunnahkan bagi orang yang berziarah ke kekuburan membaca beberapa ayat Al Qur'an dan berdoa untuk penghuni kubur'. Kenyataan ini sebelumnya telah dibenarkan oleh Imam Syafi'i dan disepakati bulat oleh para sahabatnya. Setelah menjelaskan pendapat2 dan fatwa para ulama dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), Imam Nawawi menyimpulkan bahwa membaca Al Qur'an bagi arwah orang - orang yang telah wafat dilakukan juga oleh kaum Salaf.


Hal-hal yang dilarang saat ziarah kubur

Berikut ini beberapa dalil mengenai hal-hal yang dilarang ketika ziarah kubur dan tentang kubur. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.

Sangat diharamkan peziarah meminta kebutuhan/ hajat kepada mayat, karena hal ini merupakan syirik akbar.Melainkan Hanya Memohonkan Wasilah Kepada Ahli Kubur saja untuk selanjutnya Disampaikan Hajat kita kepada Allah..Sebagaimana kita Berziarah ke Makam Para Waliyullah .Kita Bukanya Meminta Kepada Kuburan tersebut Tetapi kepada Allah Melalui Perantaraan Washilah Waliyullah Tersebut Karena Hubungan Beliau Dengan Allah Lebih Dekat dibandingkan Hubungan kita Dengan Kita..( karena Waliyullah Adalah Kekasih Allah ).

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An Nisa: 48)

Dilarang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadatan.

"Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid atau tempat peribadatan (dalam rangka memperingatkan untuk menjauhi apa yang mereka perbuat)." Berkata Aisyah, "kalau tidak karena itu, akan dibangun kubur Rasulullah saw., tetapi aku takut kubur itu akan dijadikan masjid (tempat peribadatan). (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).

Dari sahabat Jabir, bahwa Rasulullah saw. melarang mengapur kuburan atau mendirikan bangunan lain di atasnya, ataupun membuat tulisan. (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ahmad).

"Mudah-mudahan Allah memusnahkan orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai masjid (tempat peribadatan)." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).

Dari sahabat Jabir r.a. bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. melarang duduk-duduk di atas kuburan dan mengapurnya atau membangun di atasnya. (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).

Dilarang duduk di atas kubur.

"Seseorang lebih baik duduk di atas bara api hingga terbakar bajunya lalu menembus kulitnya daripada duduk di atas kubur." (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah).

"Janganlah kamu duduk-duduk di atas kubur dan jangan pula salat (menghadap) kepadanya." (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).

Rasulullah melarang perbuatan meratapi kematian karena perbuatan itu akan menyebabkan mayat disiksa pada hari kiamat kelak. Diriwayatkan daripada Mughirah bin Syu'bah bahawa beliau mendengar Rasulullah bersabda,

"Barangsiapa yang meratapi mayat, maka mayat itu akan disiksa pada hari kiamat." (HR. Muslim).

Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab bahwa Rasulullah bersabda:

"Mayat Merasa tersiksa dalam kuburnya kerana diratapi" (HR. Muslim)


Kesedihan karena kematian anggota keluarga atau sahabat adalah hal yang wajar, manusiawi. Karena itu, seandainya bersedih pun, maka hal itu wajar dan tidak ada larangan. Di sini harus dibedakan antara meratap dan bersedih. Bahkan Rasulullah SAW sendiripun pernah meneteskan air mata karena kematian para sahabatnya dan kematian putranya.

Ketika air mata Rasulullah SAW menetes menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah ra bertanya: “Wahai Rasulullah, Anda menangis?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah Subhannahu wa Ta'ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah SWT hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari).

Ketika air mata Rasulullah SAW menetes disebabkan kematian putra beliau Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf ra bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah SWT. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari).

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menziarahi kubur ibunya, maka beliau menangis dan tangis beliau membuat orang-orang yang ada di sekitar beliau ikut menangis. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Aku minta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampun bagi ibuku namun Rabbku tidak mengizinkannya. Dan aku pun minta izin untuk menziarahi kuburan ibuku maka untuk yang ini Rabbku mengizinkannya. Maka ziarahilah kuburan karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kepada kematian." (HR. Muslim)

Dilarang Berkata - kata Bathil atau Jelek Di Kuburan ( Hujran )

"Siapa yang ingin ziarah kubur maka silahkan ia berziarah, namun jangan kalian mengucapkan hujran."(HR. Nasai)

Hujran atau hujr adalah ucapan-ucapan yang batil atau kata-kata yang keji/ kotor, termasuk juga banyak berbicara yang tidak sepantasnya.


Kesimpulan

Sesuai dengan anjuran Nabi SAW, ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan (sunnah), dan terdapat manfaat-manfaat yang dapat diambil darinya. Ziarah kubur tidak terbatas waktunya, dapat dilakukan kapan saja. Namun begitu, adab-adab dan larangan ketika berada di kawasan pekuburan mesti dijaga agar ibadah yang kita lakukan ini tidak dicemari oleh perkara-perkara yang batil. Jika ada perkara-perkara batil yang dilakukan sebagian masyarakat, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendakwahinya, sesuai dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkar.

"Dari Abi Saied Radiallahuanhu ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa di antara kamu yang melihat sesuatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya dan jika ia tidak berkuasa maka dengan lidahnya dan jika ia tidak berkuasa, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim).

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran: 104)

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah: 71)

Seandainya terjadi perkara-perkara yang batil pada tradisi ziarah kubur ini, kita wajib mencegahnya sesuai kemampuan. Tetapi janganlah hanya karena ada (sebagian) orang yang berbuat salah, kita memberikan fatwa bid'ah dan sesat kepada setiap ziarah kubur. Janganlah kita berbuat berlebihan (melampaui batas), sampai melarang (mengharamkan) amalan ziarah kubur. Allah SWT melarang kita berbuat berlebih-lebihan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah:87)

semoga kita senantiasa menjadikan al-Quran, serta Sunnah Rasulullah SAW sebagai panduan agar kehidupan kita di dunia dan lebih-lebih lagi di akhirat senantiasa dinaungi oleh Rahmat, Ridlo Allah SWT. Amien amien amien ya Allah ya Robbal Alamin

Wallahu A'lam Bishowab.
Wallahu Muwaffiq ila Aqwamith Thariiq

Sumber : http://iskit-room.blogspot.com/2009/09/ziarah-kubur.html

Senin, 27 September 2010

Layang-Layang


Seorang anak sembilan tahun menatapi keelokan layang-layang yang baru saja dibawa sang ayah dari kota. Ukurannya begitu besar, tidak seperti layang-layang temannya. Ada kunciran di sisi kanan dan kiri, dan terdapat ekor yang begitu panjang. Warna-warni kunciran dan ekor layang-layang mengundang keceriaan sang anak.

Setibanya di tanah lapang, sang anak mendampingi ayahnya memainkan layang-layang yang ukurannya lebih besar dari tubuh sang anak. Tiupan angin kencang menerbangkan layang-layang elok ke angkasa. Kunciran dan ekor terus berurai-urai membentuk irama gerak yang begitu indah.

Sesekali, sang anak mencoba berganti posisi dengan sang ayah untuk belajar mengendalikan terbangnya layang-layang. Ia pun berdecak kagum. Matanya berbinar menatapi keelokan layang-layang yang sedang terbang tinggi di angkasa.

“Ayah,” ucap sang anak tiba-tiba. Sang ayah pun menoleh ke arah buah hatinya. “Ayah, andai aku bisa seperti layang-layang. Bisa terbang dengan begitu elok di angkasa sana, sambil memperlihatkan keindahan kepada orang-orang di bawahnya,” tambah sang anak sambil terus menatapi gerak-gerik layang-layang.

Mendengar ucapan itu, sang ayah pun membelai rambut pendek anaknya. “Sebaiknya kamu tidak berandai untuk menjadi layang-layang, anakku!” ucap sang ayah.

“Kenapa, ayah? Kalau saja aku bisa seperti layang-layang, bukankah aku bisa menatap seluruh keadaan di bawah sini,” sergah sang anak penuh tanda tanya.

“Anakku, jangan pernah berandai menjadi layang-layang. Perhatikanlah, walaupun layang-layang berada di tempat yang begitu tinggi, tapi ia tetap di bawah kendali oleh mereka yang di bawah,” jelas sang ayah begitu bijak.
**

Siapa pun kita, dalam optimisme meraih posisi hidup yang lebih baik, tentu ingin selalu berada di tempat yang tinggi. Ingin menjadi leader, sang pemimpin yang disegani, menjadi orang teratas di organisasi, perusahaan, bahkan mungkin negara. Sebuah cita-cita hidup seperti yang diajarkan Alquran, waj’alna lil muttaqina imama, jadikanlah kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Namun, berhati-hatilah ketika optimisme meraih posisi tinggi itu tidak sejalan dengan idealisme dan kemampuan diri yang memadai. Karena kita bisa seperti layang-layang. Berada di posisi yang paling tinggi, sementara sang pengendali ada di bawah.

Ia berada di posisi tinggi karena ada ‘tangan-tangan’ di bawah yang membuatnya tinggi. Keelokannya di ketinggian itu hanya permainan sang ’tangan’ dan tiupan angin. (muhammadnuh@eramuslim.com)

sumber : http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/layang-layang.htm

Menangis Karena Rabbnya


oleh Saiful Islam Mubarak


Hakikat menangis, Rasul SAW juga sebagai tauladan yang mutlak bagi semua umatnya dalam segala segi, termasuk dalam praktek menangis karena Rabbnya.

Beliau terbukti sering menangis baik sedang berada di tempat sepi ataupun di depan orang banyak, baik sewaktu membaca, atau mendengar ayat-ayat al-Qur’an bahkan disebabkan hal lain. Untuk lebih jelas mari kita perhatikan beberapa riwayat di bawah ini:

Menangis sewaktu shalat karena bacaan Al Qur’an

Dari Ibnu Umar RA (hai Aisyah!) beritahu kami tentang apa yang paling mengagumkan dari yang kamu lihat pada Rasulullah SAW, maka ia menangis dan berkata: Semua tingkah lakunya selalu mengagumkan. Pada suatu malam beliau datang kepadaku hingga bersentuhan kulitnya dengan kulitku, kemudian beliau bersabda: Perkenankan aku menyembah Rabbku Azza wa Jalla, maka aku berkata: demi Allah sungguh aku sangat senang engkau berada di dekatku, dan aku juga segan engkau menyembah Rabbmu.

Maka beliau berdiri untuk mengambil air wudlu dalam gariba, dan beliau tidak banyak menggunakan air, kemudian beliau melakukan shalat maka menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, kemudian sujud maka menangis hingga air matanya membasahi lantai, kemudian beliau berbariang dan terus menangis hingga tiba waktu shubuh terdengar suara Bilal.

Aisyah berkata: Bilal berkata: hai Rasulallah apa yang membuat engakau menangis, padahal Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang dahulu ataupun yang akhir. Aduhai Bilal! Bagaimana aku tidak menangis sedangkan pada malam ini telah turun kepadaku inna fii khalqissamawat … Kemudian belliau bersabda: sungguh rugi orang yang membacanya tanpa disertai dengan tafakkur. Dengan hadis di atas maka jelaslah bahwa menangis sewaktu shalat karena membaca al-Quran adalah sunah Rasul yang mesti diikuti ummatnya.


Menangis karena mendengar Al-Qur’an dibacakan

Dari Amr bin Murrah, Rasulullah SAW bersabda: Bacakan kepadaku (Al Qur’an)! Apakah patut aku membacakan kepadamu, padahal kepadamu diturunkannya? Beliau bersabda: Aku ingin mendengar dari yang lain. Maka aku bacakan surat al-Nisa hingga sampai bacaan ku pada ayat كيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد beliau bersabda: "tahanlah (berhenti)!"

Ternyata kedua mata mencucurkan air mata. Rasulullah saw tidak saja mudah menangis sewaktu membaca al-Quran, akan tetapi dikala beliau mendengar pun ternyata begitu mudah meneteskan air mata hingga tidak sanggup melanjutkannya.

Menangis karena kondisi lain

Jika ada yang berpandangan bahwa menangis hanya dinilai baik bila sedang sendirian pada waktu sunyi maka sesungguhnya Rasulullah saw suka menangis tidak hanya pada waktu sendirian dan ditempat sunyi. Beliau sebagai hamba yang paling dicintai Allah, ternyata tidak hanya menangis karena membaca al-Qur’an atau mendengarnya di tempat yang sepi pada malam hari akan tetapi beliau terkadang menangis juga di ruang terbuka dan didengar oleh para sahabat, hingga membuat mereka menangis karena terbawa tangisannya.

Dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW ketika kembali dari perang Tabuk dan melakukan umrah dan ketika sammpai di Asfan beliau menyuruh para sahabat untuk menunggu di Aqabah hingga aku (Rasul) datang kepadamu. Maka beliau pergi dan turun menuju kuburan ibunya, maka bermunajat (merintih) kepada Rabbnya demikian lama, kemudian beliau menangis dan semakin menjadi menangisnya, maka merekapun pada menangis karena tangisannya. Dan mereka berkata: Nabi SAW tidak akan menangis di tempat ini kecuali ada yang menimpa ummatnya yang beliau tidak mampu memikulnya.

Ketika mereka semua menangis beliau berdiri dan kembali menghadap kepada mereka seraya bersabda: mengapa kalian menangis? Meraka berkata: hai Nabiyullah kami menangis karena engkau menangis. Kami berkata: boleh jadi ada sesuatu yang menimpa ummatmu yang engkau sanggup menghadapinya. Beliau bersabda: ya itu diantara penyebabnya, tapi juga karena aku turun menuju kuburan maka aku berdo’a kepada Allah mohon diizinkan untuk membersyafaat kepadanya pada hari kiamat, maka Allah menolaknya maka aku mengasihaninya karena dia adalah ibuku maka aku menangis……(alhadits)

Hadits diatas menjelaskan tentang tangisan Rasul yang terdengar oleh para sahabat yang membuat mereka hanyut dalam kesedihan. Artinya para sahabat menangis karena terpangaruh oleh Rasulullah Saw. Dan pada kondisi lain terjadi sebaliknya, yaitu Rasulullah menangis karena mendengar para sahabat menagis, sebagaimana keterangan Abu Hurairah:

Abu Hurairah berkata: ketika turun ayat “afamin haadzal hadiitsi ta’jabuun” Ahi Shuffah berkata: “innaa lillah wainnaa ilaihi raji’un”. Kemudian mereka menangis hingga pipi mereka penuh dengan air mata. Ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka akupun menangis. Maka Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang terus menerus ma’siat kepada Allah. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mewafatkanmu dan Dia akan mendatangkan satu kaum yang berdosa kemudian mengampuni dan menyayangi mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang"

Dua hadits ini menjelaskan bahwa suasana sangat mendukung untuk mencapai kekhusyuan. Dua peristiwa yang sangat mengagumkan. Pertama gambaran bahwa para sahabat mendengar Rasul menangis maka mereka pun menangis padahal mereka belum mengetahui apa yang membuat Rasul menangis. Pada hadis kedua dapat kita saksikan bahwa para sahabat sangat peka dan sensitif dikala mendengar ayat al-Quran.

Mereka merasa bahwa setiap kali ayat diturunkan maka merekalah yang menjadi sasaran utama. Seolah-olah ayat ini menegur mereka hingga mereka merasa sebagai yang terancam dengan siksa. Abu Hurairah menangis terpengaruh oleh tangisan Rasul, dan Rasul menangis ketika mendengar para sahabat menangis sementara sahabat menangis karena menengar ayat dibacakan kepada mereka.

Karena itu muhasabah bersama sangat diperlukan untuk mendidik dan melatih diri kita agar hati kita menjadi lembut. Mudah-mudahan dengan kedua hadits ini, hamba-hamba Allah yang merasa ragu akan keshahihan muhasabah bersama kiranya dapat menjalin hubungan dan meningkatkan ukhuwwah Islamiyah dengan yang biasa melakukan muhasabah bersama.

Karena hal tersebut sudah jelas bermanfaat untuk silaturrahim antar sesama muslimin muslimat, meski latar belakang mereka berbeda namun dapat berkumpul pada waktu yang sama ditempat yang sama untuk membina diri meraih hakikat takwa kepada Allah SWT. Wallahu 'alam.


Sumber : http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/rasul-menangis-karena-rabbnya.htm





Sabtu, 25 September 2010

Sabar

Sayyidina Ali K.W

  1. Sabar adalah kunci kesenangan.
  2. Sabar adalah benteng dari kefakiran.
  3. Sabar adalah keberanian.
  4. Kesudahan sabar adalah positif dan menyenangkan.
  5. Sabar termasuk salah satu sebab kemenangan.
  6. Sabar adalah kendaraan yang tidak akan menjatuhkan pengendara¬nya.
  7. Menanggung kesombongan kehormatan lebih berat daripada menanggung kesombongan kekayaan, dan kehinaan kefakiran menghalangi seseorang dari kesabaran, sebagaimana kebanggaan kekayaan mencegah seseorang dari berbuat adil.
  8. Menanggung beban adalah kuburan aib.
  9. Sabar ada dua, yaitu: sabar terhadap apa yang engkau benci, dan sabar terhadap apa yang engkau sukai.
  10. Buanglah darimu segala kesusahan yang menimpamu dengan kesabaran yang teguh dan keyakinan yang baik.
  11. Sesungguhnya di antara perbendaharaan kebajikan adalah sabar terhadap segala musibah dan menyembunyikan musibah itu.
  12. Orang yang bersabar pasti akan meraih keberuntungan, meskipun itu diperoleh setelah waktu yang lama.
  13. Bagi setiap bencana pasti ada batas yang berakhir padanya, sedang¬kan obatnya adalah sabar terhadapnya.
  14. Kesabaran yang teguh akan memadamkan api nafsu.
  15. Seandainya kesabaran berbentuk seorang laki-laki, pasti dia adalah seorang laki-laki yang saleh.


Sumber : http://sufinews.com

Siapakah Sahabat Sejati?

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary.
“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”

Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, karena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun.

Pada saat begitu Dia memerintahkan anda dan melarang anda, namun anda maksiat pada-Nya, namun Dia tidak meninggalkan anda, bahkan dengan rasa belas kasih-Nya Dia memanggilmu untuk datang kepada-Nya di saat anda alpa.

Namun jika yang tahu aib anda secara detil itu adalah makhluk, maka para makhluk pun justru meninggalkan anda dan melempari anda atas perbuatan anda selama ini. Namun Allah Swt dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya senantiasa malah menjaga anda. Namun yang menyadari itu sangat sedikit.

Allah Swt tidak pernah meminta imbal balik kita dibalik perlindungan, perintah, tuntutan dan larangan-Nya. Sedangkan pergaulan dan persahabatan dengan makhluk penuh dengan tuntutan dan kepentingan. Maka sahabat sejati sesungguhnya yang menyadarkan kepentingan yang kembali pada diri kita, hal-hal yang berguna maupun hal-hal mana yang berbahaya.

Namun rasa yaqin yang rendah dan lemah membuat anda terhijab dari semua itu. Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Seandainya cahaya yaqin memancar, pasti anda melihat akhirat lebih dekat padamu dibanding anda menempuhnya. Dan sungguh anda memandang keindahan dunia tak lebih dari reruntuhan fana yang tampak padanya.”

Dunia hanyalah khayal dalam wujudnya, apabila anda benar-benar tercerahi oleh cahaya yaqin.
Ahmad bin Ashim al-Anthaky ra menegaskan, “Yaqin adalah nur yang dijadikan Allah swt dalam hati hamba-Nya, hingga ia melihat perkara akhiratnya dan cahaya itu membakar semua hijab antara Dia dan dirinya, sampai akhirat tampak begitu jelas dalam perspektifnya.”

Suatu hari Rasulullah Saw, bertanya kepada Haritsah ra, “Apa kabarmu pagi ini wahai Haritsah?”
“Saya dalam kondisi beriman yang benar,” jawab Haritsah.
Rasulullah saw, bersabda, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apa hakikat imanmu?”
“Seakan-akan saya berada di Arasy Tuhanku benar-benar ditegakkan dan saya melihat ahli syurga sedang menikmati nikmat-nikmat-Nya di syurga dan ahli neraka sedang saling minta pertolongan,” kata Haritsah.

Rasulullah saw, bersabda, “Kamu sedang mengenal maka teguhlah. Seorang hamba yang qalbunya dicerahi cahaya oleh Allah….” (Al-Hadits).
Rasulullah saw, pernah bersabda, “Bila cahaya masuk dalam hati, maka hati akan lapang…”
Rasul saw, ditanya, “Wahai Rasulullah apakah ada tanda untuk mengenal itu?”
Beliau menjawab, “Merasa kosong di negeri tipudaya dan kembali pada negeri keabadian, serta mempersiapkan bekal mati sebelum waktunya tiba…”

Sumber: http://www.sufinews.com

Sabtu, 14 Agustus 2010

BEberapa cara menyempurnakan ibadah puasa

1. Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah. " HR.'Al-Bukhari dan Muslim)

2. "Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang " (HR. Ibnu Khuzaimah dalamShahihnya)

3. Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus.Hanya saja harus hati-hati, untuk itu hendaknya Anda telah berhentidari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar Anda tidak ragu-ragu.

4. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . "(HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz)

5. Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.

6. Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur'anul Karim. Sesungguhnya Jibril 'alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu 'alaihiwasallam untuk membacakan Al-Qur'an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslimdari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.

7. Jagalah lisanmu dariberdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataanmengada-ada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa tidakmeninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al-Bukhari)

8. Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanyakarena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa.Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Danjika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

9. "Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya ia tidak berkataburuk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya,hendaknya ia berkata 'Sesungguhnya aku sedang puasa" (HR. Al- Bukhari,Muslim dan para penulis kitab Sunan)

10. Harus lebih sabar, syukur, dan ihklas

11. Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya Di samping,juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.

12. Hendaknya Anda selesai daripuasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut dan bersyukur pada-Nya,serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama daripuasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : "Agar kamu bertaqwa."(Al-Baqarah: 183)

13. Jagalah dirimu dariberbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal ituagar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabirbin Abdillah radhiallahu 'anhu berkata : "Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."

14. Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.

15. Perbanyaklah bersedekah danberbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyakberbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulanRamadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yangparing dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.

16. Ucapkanlah bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo'a :"Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, danatas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui "(44) (Lihat Mulhaq (bonus)Majalah Al WaLul Islami bulan Ramadhan, 1390 H.hlm.38-40.)

17. Memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Jibril'alaihis salam senantiasa membacakanAl-Qur'anul Karim untuk beliau pada bulan Ramadhan; beliau juga memperbanyak sedekah, kebajikan, membaca Al-Qur'anul Karim, shalat,dzikir, i'tikaf dan bahkan beliau mengkhususkan beberapa macam ibadah pada bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lain.

18. Nabi shallallahu 'alaihiwasallam menyegerakan berbuka dan menganjurkan demikian, beliau makan sahur dan mengakhirkannya, serta menganjurkan dan memberi semangat orang lain untuk melakukan hal yang sama. Beliau menghimbau aga rberbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya maka dengan air.

19. Nabi'shallallahu 'alaihiwasallam melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan caci-maki.Sebaliknya beliau memerintahkan agar ia mengatakan kepada orang yangmencacinya, "Sesungguhnya aku sedang puasa."

20. Jika beliau melakukan perjalanan di bulan Ramadhan, terkadang beliau meneruskan puasanya dan terkadang pula berbuka. Dan membiarkan para sahabatnya memilih antara berbuka atau puasa ketika dalam perjalanan. Beliau shallallahu 'alaihiwasallam pernah mendapatkan fajar dalam keadaan junub sehabis menggauli isterinya maka beliau segera mandi setelah terbit fajar dan tetap berpuasa.

21. Termasuk petunjuk Nabishallallahu 'alaihi wasallam adalah membebaskan dari qadha' puasa bagi orang yang makan atau minum karena lupa, dan bahwasanya Allahlah yang memberinya makan dan minum.

22. Dan dalam riwayat shahih disebutkan bahwa beliau bersiwak dalam keadaan puasa. Imam Ahmadmeriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuangkan air di atas kepalanya dalam keadaan puasa. Beliau juga melakukan istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) serta berkumur dalam keadaan puasa. Tetapi beliau melarang orang berpuasa melakukan istinsyaq secara berlebihan. (Lihat kitab Zaadul Ma'ad fi Hadyi Khairil'Ibaad, I/320-338 )

23. Puasa yang disyari'atkan adalah puasanya anggota badan dari dosa-dosa, dan puasanya perut darimakan dan mimum. Sebagaimana makan dan minum membatalkan dan merusak puasa, demikian pula halnya dengan dosa-dosa, ia memangkas pahala puasadan merusak buahnya, sehingga memposisikannya pada kedudukan orang yangtidak berpuasa.

24. Karena itu, orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang puasa segenap anggota badannya dari melakukan dosa-dosa; lisannya berpuasa dari dusta, kekejian dan mengada-ada; perutnya berpuasa dari makan dan minum; kemaluannya berpuasa dari bersenggama.

25. Bila berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang menodai puasanya, bila melakukan suatu pekerjaan ia tidak melakukan sesuatu yang merusak puasanya. Ucapan yang keluar darinya selalu bermanfaat dan baik, demikian pula dengan amal perbuatannya. Ia laksana wangi minyak kesturi, yang tercium oleh orang yang bergaul dengan pembawa minyak tersebut. Itulah metafor(perumpamaan) bergaul dengan orang yang berpuasa, ia akan mengambi lmanfaat dari bergaul dengannya, aman dari kepalsuan, dusta, kejahatandan kezhaliman.

26. Dalam hadits riwayat ImamAhmad disebutkan : "Dan sesungguhnya ban (mulut) orang puasa itu lebihharum di sisi AIlah daripada aroma minyak kesturi. "(HR. At-Tirmidzidan ia berkata, hadits hasan shahih gharib).

27. Inilah puasa yang disyari'atkan. Tidak sekedar nahan diri dari makan dan minum. Dalam sebuah menahan diri dari makan dan minum". Dalam hadits shahihdisebutkan : "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya)

28. Dalam hadits lain dikatakan: Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga. " (HR. Ahmad, hadits hasan shahih) (Dan ia menshahihkan hadits ini.)


sumber ; http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/08/09/30-kesempurnaan-dalam-puasa-ramdhan/

Jumat, 16 Juli 2010

Keutamaan Menjaga Kesucian Diri

Diantara laku terbaik yang mesti ditempuh oleh seseorang yang sedang jatuh cinta adalah menjaga kesucian diri ( ta'affuf ), menjauhi kemaksiatan dan kekejian,tidak melanggar ketentuan-ketentuan Sang Pencipta yang telah menjanjikan kenikmatan sejati di negri keabadian bagi hamba-hamba yang mematuhi semua titah-Nya, tidak menyimpang dari perintah Sang Pemberi Karunia yang telah memberikan anugerah kepada manusia dengan menjadikan mereka objek perintah dan larangan-Nya, yang telah mengutus bagi mereka para rasul-Nya dan menjadikan titah-nya sebagai pedoman mereka, sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang-Nya pada mereka.

Orang yang hatinya sedang dilanda cinta dan pikirannya sedang disibukanoleh indahnya bayangan asmara harus mengencangkan kendali dirinya agar tidak sampai hawa nafsu mengalahkan akal sehat, pikiran jernih dan kekokohan agamanya. Ia harus pandai-pandai membentengi diri dan selalu menyadari bahwa hawa nafsu selalu mengajak pada kejahatan, harus selalu mengingat siksa Allah yang pedih dan berat,dan senantiasa sadar bahwa pantauan dan pengawasan-Nya tidak pernah luput atas hamba-hamba-Nya kapan dan dimanapun.Ia mesti selalu mengingatkan diri akan datangnya hari pembalasan dan hari ketika itu setiap orang dihadapkan pada pengadilan Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung,Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, Tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya. Ia harus selalu merasakan kehadiran Allah dan selalu ingat akan datangnya hari seperti yang digambarkan dalam ayat-ayat berikut:

1. ( Yaitu ) di hari ketika harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih. ( QS.Asy-Syu'ara (26) ayat 88-89 )

2. ( Yaitu ) ketika bumi diganti dengan bumi yang laindan ( demikian pula ) langit. ( QS Ibrahim (14 ) ayat 48 )

3.Pada hari ketika tiap - tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan ( dimukanya ), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dan hari itu ada masa yang jauh. ( QS.Ali-Imran (3) ayat 30 )

4.Dan tunduklah semua muka ( dengan merendah diri ) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi berdiri sendiri. Dan sungguh telah merugi orang yang melakukan kezhaliman. (QS Thaha (20) ayat 111)

5.Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaja seorang pun juga. (QS.Al-Kahfi (18) ayat 49)

6.Pada hari (ketika) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya,dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,maka surga menjadi tempat tinggal(nya). ( QS An-Naazi'aat (79) ayat 35-41 )

7. Dan (bagi) manusia Kami tetapkan amal perbuatannya ( sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitap yang dijumpainya terbuka," Bacalah kitapmu,cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab atas dirimu. (QS.Al-Isra'(17) ayat 13-14 )

ketika orang yang durhaka berkata,
8." Aduh, betapa celakanya kami, kitap apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. (QS Al-Kahfi (18) ayat 49 )

Di hari itu tidak ada yang selamat dari api yang panasnya berjuta kali lipat dari panasnya api di dunia yang paling panas, kecuali orang-orang yang selama hidup di dunia berhasil memalingkan dirinya dari bujuk rayu hawa nafsu dan sanggup menyelamatkan dirinya dari godaan nikmat sesaat demi meraih kebahagian dan kenikmatan sejati di negri pembalasan yang abadi.

Mereka yang selamat adalah yang mampu menjauhkan dirinya dari setan dengan segala ajakan dan rayuan manisnya demi meraih kedekatan dengan Yang Maha Pemurah di negri keabadian. Serta demi meraih keselamatan dan keamanan pada hari kiamat yang membuat panik dan ketakutan. Mereka lebih memilih kenikmatan sejati di hari nanti dari pada kelezatan tidak seberapa dan kenikmatan sesaat di dunia.


Dari berbagai sumber..

Kamis, 15 Juli 2010

Salman Al - Farisi ( Pencari Kebenaran )

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari tanah Persi pula agama Islam di anut orang mukmin yang tidak sedikit jumlahnya.

Salman Al - Farisi berasal dari Isfahan, di suatu desa yang bernama Ji. Ayahnya seorang bupati di daerah itu.Sebelum masuk Islam beliau beragama majusi dan diberi tugas menjaga api yang bertanggung jawab atas nyala dan tidak membiarkannya padam.

Suatu hari sewaktu Salman mau pergi ke kebunnya ia melewati gereja milik kaum nasrani. Beliau masuk kedalam gereja itu untuk melihat bagaimana cara mereka beribadah. Dan beliau berfikir bahwa cara ibadah ini jauh lebih baik dari cara ibadah yang selama ini ia lakukan. Karena seringnya beliau singgah di gereja itu beliau dirantai oleh bapaknya.

Setelah bisa lepas dari rantai itu, beliau masuk agama ini dan tinggal bersama seorang uskup sebagai pelayan. Setelah berpindah-pindah tempat belajar ilmu dari seorang uskup ke uskup yang lain, pada uskup terakir inilah beliau mendapat pesan sewaktu uskup ini hendak meninggal.
Uskup itu berkata, " Anakku ! Tidak ada seorangpun yang ku kenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat aku percayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat waktunya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni.Ia akan hijrah kesuatu daerah yang ditumbuhi banyak pohon kurma yang terletan diantara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu pergi kesana temuila Ia, Ia mempunyai tanda-tanda yang gambalng dan terlihat jelas, Ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadian dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya akan segera mengenalnya."

Dan dimulailah pengembaraan beliau ketempat yang ditunjukan uskup tadi, bekerja sebagai budak di perkebunan milik Bani Quraidah, hingga datang sebuah kabar bahwa telah datang seorang laki-laki dari Mekah yang mengaku sebagai nabi. Mendengar kabar itu beliau mendekati orang yang membawa kabar,sampai-sampai majikannya marah.

Pada suatu sore beliau pergi keluar dan menemui Rasulullah di Quba. Masuklah beliau kedalam majlin Nabi sambil berkata," Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan, kebetulan aku ada sedikit makanan untuk aku sedekahkan, dan Tuanlah yang lebih layak menerimanya sambil menyodorkan makanan kearah Rasulullah. Rasulullah berkata ,"makanlah dengan nama Allah." Sambil menyodorkan makanan itu kepada para sahabat, sedang Beliau tidak menyentuh sedikitpun. Keesokan harinya Salman kembali lagi ke tempat Rasulullah dengan membawa makanan, kali ini makanan itu ia berikan sebagai hadiah barulah Rasulullah makan bersama para sahabat.

Sekarang tinggal cap kenabian yang belum aku lihat demikianlah fikiran Salman. Hingga suatu hari disaat nabi mengiringi jenazah, Rasulullah memakai dua lembar kain lebar. Seakan tahu maksut Salman Nabi menyingkapkan burqah dari lehernya hingga tampak pada pundaknya cap kenabian sebagai mana disebutkan oleh uskup tadi. Melihat itu Salman neratap dan menangis hingga ia di panggil Nabi ketempatnya. Lalu salman menceritakan kisahnya hingga ia sampai di tempat ini. Kemudian Salman masuk Islam, yang melepaskannya dari perbudakan atas bantuan saudara-saudara seimannya.

Dimulailah kehidupan Salman dalam naungan islam,mengikuti setiap perang bersama Rasulullah untuk menegakkan kalimat Allah. Sampai kejayaan kaum muslimin dimasa khalifah. Marilah kita lihat bagaimana keadaan sahabat Nabi ini dimasa tuanya...

Seorang sahabat bercerita tentang keadaan Salman, " Lihatlah seorang tua yang berwibawa duduk disana dibawah sebatang pohon, sedang asik memangfaatkan sisa waktunya disamping berbakti pada negara,menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul keranjang itulah Salman. Lihat lagi lebih teliti, lihatlah kainnya yang pendek karena sangat pendeknya terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa dan mampu dan tidak kekurangan. Tunjangan yang diperolehnya antara empat sampai enam ribu dirham setahun. Kebanyakan uangnya beliau sedekahkan dan tentunya telah dikeluarkan untuk kebutuhan keluarganya.

Inilah Salman yang dulunya seorang putra bupati yang hidup bergelimang harta dan demi Islam beliau tinggalkan semua itu. Pernah di suatu hari Salman didatangi oleh seorang laki-laki dari syiria yang membawa beban teramat berat,demi melihat seorang lelaki yang kelihatan seperti orang tak berpunya terpikirlah olehnya untuk menyuruh membawakan beban itu. Barang itupun dipikullah oleh Salman lalu nereka berjalan bersama.

Ditengah perjalanan mereka berpapasan dengan serombongan orang, kepada rombongan itu Salman menberikan salam dan di jawab oleh rombongan itu sambil berhenti, " salam juga bagimu ya amir(pemimpin) ." Salam juga bagimu ya amir, amir yang manakah dimaksud rombongan itu? pikiran orang syiria itu. Keheranan orang syiria itu bertambah lagi manakala rombongan itu bermaksud mengentikan Salman untuk memikul barang itu. Mereka berkata,"Berikanlah kepada kami pikulan ini wahai amir." Sekarang mengertilah orang Syiria itu kalau kulinya adalah Salman Al Farisi seorang amir ( pemimpin ) Kota Madain. Gugupah orang itu dan hendak menarik kembali barang itu. Tapi lihatlah apa kata Salman padanya," tidak, sebelum kuantarkan sampai ketujuan." Subhanallah pemimpin manakah yang bisa berbuat seperti Salman yang jiwanya telah diisi ketauladanan dari sifat Rasulullah.

Lihatlah disaat ajal akan mendekati beliau, harta apakah yang Salman miliki? tidak lain hanya seikat kesturi. Disaat ajal makin mendekat disuruhnya istrinya mengambil hartanya itu, setelah dicampur air beliau meminta memercikan disekelilingnya. Dan disuruhnya istrinya keluar dari kamar itu. Tidak beberapa lama istrinya masuk lagi dan mendapatkan Salman telah tiada. Ruh beliau telah mencapai alam tertinggi, untuk berjumpa dengan Rasulullah yang ia cintai dan para sahabat yang telah mendahuluinya.

Itulah Salman Al Farisi seorang anak bupati dizamannya dan demi panggilan hatinya untuk islam meninggalkan semua kemewahan hidup. Dialah pemimpin yang mau menjadi kuli tanpa harus malu. Semoga kita dapat mengambil contoh dari perjalan hidup sahabat Nabi ini


Dari berbagai sumber.

listen qur'an

Listen to Quran