Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, bahawa Nabi saw mengatakan, “Di antara cara-cara
terbaik bagi manusia dalam mencari penghidupan adalah: mengenderai kuda
di jalan Allah (dalam perang jihad) dan apabila dia mendengar suara
manusia-manusia yang panik atau ketakutan, dia memacu kudanya mencari
mati syahid atau kemenangan di medan jihad; atau seseorang yang
menggembalakan biri-biri dan kambing-kambingnya di puncak gunung atau di
dalam lembah dan mendirikan solat, membayarkan zakat, dan beribadah
kepada Tuhan sampai maut menjemputnya. Seluruh urusannya dengan sesama
manusia didasarkan pada kebaikan.”
Sikap seorang hamba yang layak
ketika dia memutuskan untuk memisahkan diri dari manusia adalah
meyakini bahawa masyarakat akan terhindar dari kejahatannya, bukan bahwa
dia akan terhindar dari kejahatan mereka.
Rabu, 06 Juni 2012
Risalah Al Qusyairi : 2. Berdaya Upaya (Mujahadah)
Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi
Didalam Alquran menjelaskan mengnai Mujahadah
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut: 69)
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dari Rasulullah saw, “Jihad yang terbaik adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang penguasa yang zalim”
Abu Uthsman Al-Maghribi menyatakan, “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dia akan mencapai sesuatu dijalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya tanpa berjihad”
Didalam Alquran menjelaskan mengnai Mujahadah
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut: 69)
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dari Rasulullah saw, “Jihad yang terbaik adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang penguasa yang zalim”
Abu Uthsman Al-Maghribi menyatakan, “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dia akan mencapai sesuatu dijalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya tanpa berjihad”
Risalah Al Qusyairi : 1. Taubat
Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw mengatakan - 'Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdoa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Ketika beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa tandanya taubat?”, Rasulullah menjawab, “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah saw mengatakan, “Tiada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.”
Makna taubat dalam bahasa Arab adalah kembali – ia merupakan tingkat pertama di antara maqam yang dialami oleh sufi, dan tahap pertama di antara tahap-tahap yang dicapai oleh salik (si penempuh jalan Allah).
Sebuah hadis mengatakan, “Pengingat Tuhan di dalam hati setiap insan adalah Muslim.”
Abu Hafs Al-Haddad mengatakan, “Saya meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali kepada Nya. Kemudian perbuatan itu meninggalkan saya, dan sesudah itu saya tidak kembali kepada Nya.”
Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan, “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima ujian. Dia bertanya-tanya di dalam hati, “Jika saya bertaubat, bagaimanakah keadaan saya nanti?”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw mengatakan - 'Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdoa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Ketika beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa tandanya taubat?”, Rasulullah menjawab, “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah saw mengatakan, “Tiada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.”
Makna taubat dalam bahasa Arab adalah kembali – ia merupakan tingkat pertama di antara maqam yang dialami oleh sufi, dan tahap pertama di antara tahap-tahap yang dicapai oleh salik (si penempuh jalan Allah).
Sebuah hadis mengatakan, “Pengingat Tuhan di dalam hati setiap insan adalah Muslim.”
Abu Hafs Al-Haddad mengatakan, “Saya meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali kepada Nya. Kemudian perbuatan itu meninggalkan saya, dan sesudah itu saya tidak kembali kepada Nya.”
Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan, “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima ujian. Dia bertanya-tanya di dalam hati, “Jika saya bertaubat, bagaimanakah keadaan saya nanti?”
Senin, 04 Juni 2012
Tanda-tanda Orang yang Shalatnya Diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala
Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadits-hadits Rasulullah Shallalau ‘Alaihi wa Sallam yang ada hubungannya dengan kemasyarakatan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallalau ‘Alaihi wa Sallam
pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman di mana orang-orang berkumpul
di masjid untuk shalat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara
mereka yang mukmin”
Rasulullah Shallalau ‘Alaihi wa Sallam
juga bersabda, “Nanti akan datang suatu zaman di mana seorang muazin
melantunkan azan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi di
antara mereka tidak ada yang mukmin” (Kanzul ‘Ummal, hadits ke-3110)
Kamis, 31 Mei 2012
Menyelami Makna Khusyuk
Kata Arab kbusyu' berasal dan kata khasya'a yang artinya takut'. Misalnya, disebutkan dalam Alquran, "Wa-jah-wajah pada hari itu ketakutan (khasyi'ah)"
(Q.S. al-Ghasyiyah (88: 2). Kata khasyi'ah berarti hati yang di-penuhi
rasa takut; takut kepada Allah Swt. dan takut bila masa hidupnya tak kan
sempat untuk mengumpulkan bekal buat hari akhir nanti.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Sikap Benar Terhadap Urusan Allah
Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus dirinya dan
melimpahkan urusannya pada Allah; memutuskan pilihannya
hanya pada pilihan Allah; memutuskan pandangannya hanya memandang
Allah; memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah disebabkan oleh
disiplin kepatuhan dan ridhanya; kepasrahan total dan tawakalnya pada
Allah;
maka Allah benar-benar menganugerahkan kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.
Rabu, 30 Mei 2012
Rahasia Dibalik Azan Subuh
Apa sebab Allah swt memerintahkan kita
bangun pagi dan shalat subuh? Dan mengapa dalam adzan subuh terdengar
kalimat yang berbeda, kalimat yang tidak ada pada azan di lain waktu.
“ash shalaatu khairun minan naum“
Jika
kita terjemahkan, akan berarti Sholat itu Lebih Baik Daripada Tidur.
Tetapi coba perhatikan baik baik. Mengapa kalimat itu hanya
dikumandangkan saat adzan subuh saja? Anda benar........dalam kalimat
itu Allah swt ternyata sedang memberikan isyarat kasih sayangnya pada
kaum muslimin, sebuah isyarat yang sering kita abaikan maknanya, yang
jika kita tangkap isyarat itu kira kira akan berbunyi seperti ini
"shalat (pada saat) itu lebih baik dari pada tidur".
Subhanallah
Laa Khaula Wa Laa Quwwata Illa Billaah, Lalu mengapa isyarat itu justru
dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang
terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain?.
Selasa, 29 Mei 2012
Tujuh Rombongan Iblis Saat Sakaratul Maut
Iblis akan senantiasa mengganggu
manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan
setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah
sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu
manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi tujuh golongan dan
rombongan.
Hadith Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerangkan:
"Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut."
Rombongan 1
Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan
lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat disebabkan
orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak
dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya
barang-barang Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh.
Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)




